Podiumnews.com / Aktual / Ekonomi

Pertamina: Tanpa Kenaikan Harga, Stok BBM Terancam Langka

Oleh Nyoman Sukadana • 11 Juni 2026 • 15:37:00 WITA

Pertamina: Tanpa Kenaikan Harga, Stok BBM Terancam Langka
Ilustrasi distribusi BBM nasional. Pertamina menilai penyesuaian harga diperlukan untuk menjaga kelancaran pasokan energi. (podiumnews)

BOGOR, PODIUMNEWS.com – PT Pertamina Patra Niaga menegaskan keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan energi nasional. Tanpa penyesuaian harga di tengah lonjakan harga minyak dunia, kemampuan impor BBM dikhawatirkan menurun dan berpotensi memicu kelangkaan stok saat permintaan masyarakat meningkat.

Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026), dengan harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp17.000 per liter.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengatakan penyesuaian harga dilakukan karena selisih antara pendapatan dan biaya operasional yang semakin melebar telah membatasi kemampuan perusahaan dalam mengimpor BBM.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa penyesuaian harga, volume impor berpotensi menurun dan mengganggu ketersediaan stok energi nasional.

“Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun. Ketika ada puncak permintaan, kondisi ini akan menjadi masalah,” ujar Sigit dalam Sarasehan Energi bertajuk “Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global” di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik global telah mendorong harga keekonomian BBM jauh di atas harga jual yang berlaku selama ini.

Data Pertamina menunjukkan batas atas harga keekonomian Pertamax terus meningkat sejak awal tahun. Pada April 2026, harga keekonomian mencapai Rp18.745 per liter, naik menjadi Rp20.157 per liter pada Mei, dan kembali meningkat menjadi Rp20.942 per liter pada Juni 2026.

Namun selama periode tersebut, Pertamina tetap mempertahankan harga jual Pertamax di angka Rp12.300 per liter sebelum akhirnya melakukan penyesuaian.

“RON 92 itu kalau di market itu harganya sudah Rp20 ribu sampai Rp21 ribuan. Di Thailand, RON 91 itu Rp23 ribuan kalau dikonversi ke rupiah. Kami masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300 per liter. Pertamax Green juga seperti itu, masih bisa kami tahan kemarin. Meskipun akhirnya, dua produk itu per hari ini kami naikkan,” katanya.

Meski menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina memastikan tidak ada perubahan pada harga BBM non-subsidi lainnya maupun BBM bersubsidi.

Harga Pertamax Turbo (RON 98) tetap bertahan di Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) sebesar Rp24.800 per liter.

Sementara itu, harga BBM bersubsidi jenis Pertalite tetap dipasarkan Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Pertamina menilai langkah penyesuaian harga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional di tengah gejolak harga minyak global yang masih berlangsung.

(sukadana)

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.