Podiumnews.com / Aktual / Ekonomi

Banjar Penyarikan Jadi Percontohan Pengendalian Inflasi Berbasis Adat

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Juni 2026 • 09:58:00 WITA

Banjar Penyarikan Jadi Percontohan Pengendalian Inflasi Berbasis Adat
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa meninjau kegiatan pasar murah bersubsidi di Banjar Adat Penyarikan, Benoa, yang menjadi percontohan pengendalian inflasi berbasis adat menjelang Galungan dan Kuningan, Sabtu (13/6/2026). (foto/sukadana)

KUTA SELATAN, PODIUMNEWS.com – Banjar Adat Penyarikan, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, dinilai layak menjadi percontohan pengendalian inflasi berbasis adat di Kabupaten Badung. Melalui pasar murah bersubsidi, pembagian paket sembako, hingga tradisi mepatung be celeng gratis, banjar tersebut berhasil menerjemahkan kebijakan pengendalian inflasi pemerintah menjadi gerakan gotong royong yang langsung menyentuh masyarakat menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Apresiasi tersebut disampaikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa saat meninjau langsung kegiatan di Banjar Adat Penyarikan, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Banjar Adat Penyarikan, Koperasi Ngardi Rahayu, Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana, serta pelaku usaha lokal sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

"Ini merupakan contoh konkret bagaimana semangat gotong royong masyarakat mampu mendukung program pengendalian inflasi pemerintah. Tidak hanya membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dan UMKM," ujar Adi Arnawa.

Menurutnya, menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, kebutuhan masyarakat dipastikan meningkat dan berpotensi memengaruhi harga sejumlah komoditas pokok. Karena itu, pengendalian inflasi tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, lembaga adat, koperasi, dan pelaku usaha.

"Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, kebutuhan masyarakat pasti meningkat dan berpotensi mempengaruhi harga sejumlah kebutuhan pokok. Karena itu, saya sangat mengapresiasi langkah Banjar Penyarikan yang mampu menerjemahkan semangat pengendalian inflasi menjadi gerakan gotong royong yang langsung menyentuh masyarakat," katanya.

Adi Arnawa menilai model yang dikembangkan Banjar Penyarikan layak direplikasi oleh banjar dan desa adat lainnya di Kabupaten Badung karena memadukan fungsi sosial, ekonomi, dan pelestarian tradisi dalam satu gerakan bersama.

"Banjar Penyarikan membuktikan bahwa pengendalian inflasi dapat dimulai dari komunitas. Ketika pemerintah hadir melalui kebijakan dan masyarakat bergerak melalui semangat gotong royong, manfaatnya akan langsung dirasakan oleh warga. Model seperti ini sangat baik untuk terus dikembangkan karena menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, koperasi, dan pelaku usaha mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah," tegasnya.

Kelian Adat Banjar Penyarikan, I Made Nuryana, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan lahir dari semangat nyama braya dan gotong royong untuk membantu masyarakat menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang hari raya.

"Kami melihat pemerintah terus berupaya membantu masyarakat menghadapi kenaikan kebutuhan menjelang hari raya. Sebagai bagian dari masyarakat Badung, kami merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut mendukung upaya tersebut. Karena itu, kami menggerakkan seluruh potensi yang ada di Banjar Penyarikan, mulai dari pengusaha lokal, koperasi, hingga krama adat, agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, lembaga adat dan koperasi harus mampu memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Seluruh potensi yang dimiliki banjar disinergikan tidak hanya untuk membantu krama memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan.

"Kami ingin kebijakan pemerintah dalam membantu masyarakat dapat kami dukung melalui gerakan nyata di tingkat banjar. Harapan kami, semangat gotong royong ini dapat menjadi contoh bahwa pengendalian inflasi juga bisa dimulai dari lingkungan banjar," kata Nuryana.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Badung sekaligus Dewan Pengawas Perumda Kabupaten Badung AA Sagung Rosyawati, Direktur Utama Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana Kompiang Gede Pasek Wedha, Asisten Direktur Bank Indonesia Wilayah Bali Hero Wonida, Bendesa Adat Bualu I Made Suarma, Kelian Banjar Penyarikan, jajaran pengurus KSP Ngardi Rahayu, serta krama Banjar Penyarikan.

Gerakan yang dilakukan Banjar Adat Penyarikan menjadi bukti bahwa pengendalian inflasi tidak hanya dapat dilakukan melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga dapat tumbuh dari kekuatan komunitas adat yang mengedepankan gotong royong, solidaritas sosial, dan pemberdayaan ekonomi lokal.

(sukadana)

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.