Investor AS Dominasi Pembelian Obligasi Global Perdana Danantara
JAKARTA, PODIUMNEWS.com - Investor asal Amerika Serikat (AS) menjadi pembeli terbesar dalam penerbitan obligasi global (global bond) perdana Danantara Indonesia senilai USD1,5 miliar. Dominasi investor AS ini dinilai menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan pasar internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi dunia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan investor AS mendominasi pembelian obligasi bertenor 10 tahun dengan porsi mencapai 52 persen. Sementara pada obligasi tenor lima tahun, investor AS menguasai 38 persen dari total pembelian.
"Investornya kurang lebih yang lima tahun itu 38 persen dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, dan 21 persen dari Asia. Kalau yang 10 tahun, investornya 52 persen dari Amerika Serikat, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, dan 17 persen dari Asia," ujar Rosan dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/6/2026).
Menurut Rosan, tingginya minat investor AS menjadi fenomena menarik karena berbeda dengan pola historis sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan persepsi positif investor global terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia serta prospek jangka panjang investasi di dalam negeri.
Selain didominasi investor AS, penerbitan obligasi global perdana Danantara juga memperoleh respons pasar yang sangat kuat. Dari target awal sebesar USD1 miliar, permintaan investor atau book building yang masuk mencapai sekitar USD4,6 miliar.
"Dari rencana 1 miliar dolar yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar. Sehingga melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari 1 miliar menjadi 1,5 billion USD," jelasnya.
Danantara kemudian meningkatkan nilai penerbitan obligasi menjadi USD1,5 miliar yang dibagi ke dalam dua tenor, yakni lima tahun dan 10 tahun. Masing-masing tenor berhasil menghimpun dana sebesar USD750 juta.
Rosan menuturkan capaian tersebut tidak lepas dari rangkaian kunjungan Danantara ke sejumlah pusat keuangan dunia, seperti Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. Dalam rangkaian kunjungan itu, pihaknya bertemu dengan 122 investor global.
"Nah ini adalah hasil yang sangat-sangat baik. Dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi dan ini terbukti dan ini riil ya," tegasnya.
Selain berhasil menghimpun dana di atas target, Danantara juga memperoleh tingkat imbal hasil yang dinilai kompetitif. Obligasi tenor lima tahun ditutup dengan yield sebesar 5,35 persen, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,95 persen.
Rosan mengungkapkan sebagian proses penerbitan obligasi tersebut telah direalisasikan. Penandatanganan dilakukan pada 11 Juni 2026 dan dana hasil penerbitan dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026.
"Karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing dan tanggal 18 dananya akan masuk ke dalam rekening Danantara," ujarnya.
Melihat tingginya minat investor global, Danantara juga membuka peluang menerbitkan obligasi dengan tenor lebih panjang hingga 30 tahun pada masa mendatang.
"Karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa Indonesia growth-nya ini relatif stabil. Ya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah geopolitik, geoekonomi itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita," kata Rosan.
(sukadana)