Turis Asing Dinilai Tak Mampu Dongkrak Nilai Tukar Rupiah
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Ramainya narasi di media sosial yang menyebut kedatangan wisatawan asing ke Indonesia dapat membantu memperkuat nilai tukar rupiah dinilai tidak tepat. Pakar ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) menegaskan kontribusi wisatawan mancanegara terhadap penguatan rupiah sangat terbatas dan tidak cukup signifikan memengaruhi pasar valuta asing nasional.
Guru Besar Ekonomi Internasional Universitas Airlangga, Prof Rossanto Dwi Handoyo, SE, MSi, PhD, mengatakan penguatan nilai tukar rupiah tidak dapat bergantung pada lonjakan kunjungan wisatawan asing, melainkan harus ditopang oleh kebijakan ekonomi makro yang terkoordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kedatangan wisatawan asing tidak secara langsung memberikan dampak terhadap kenaikan rupiah. Penguatan rupiah membutuhkan kebijakan yang lebih besar dan terkoordinasi,” kata Prof Rossanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Denpasar, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan, motivasi utama wisatawan asing datang ke Indonesia bukan untuk membantu memperkuat mata uang nasional, melainkan karena pertimbangan pariwisata. Pelemahan rupiah justru membuat biaya berlibur di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan mancanegara.
“Motivasi utama mereka bukan karena mereka ingin membantu Indonesia supaya mata uangnya menguat. Motivasinya adalah motivasi pariwisata,” ujarnya.
Menurut Prof Rossanto, devisa yang dihasilkan dari sektor pariwisata belum cukup besar untuk memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan nilai tukar. Sebagai ilustrasi, satu juta wisatawan yang masing-masing membelanjakan seribu dolar AS hanya menghasilkan sekitar satu miliar dolar AS.
“Angka itu masih jauh dari kebutuhan pasar valuta asing Indonesia. Karena itu, pariwisata tidak bisa menjadi instrumen utama untuk menguatkan rupiah,” katanya.
Ia menambahkan, stabilitas dan penguatan rupiah lebih dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan fiskal. Salah satunya melalui kebijakan kenaikan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia guna menarik aliran modal asing atau capital inflow.
Selain itu, intervensi di pasar valuta asing dan penerbitan surat utang berdenominasi dolar AS juga menjadi instrumen penting untuk menjaga pasokan devisa dan meningkatkan kepercayaan investor.
“Investor akan tertarik masuk ketika instrumen keuangan di Indonesia memberikan imbal hasil yang kompetitif. Inilah yang menjadi faktor utama penguatan rupiah, bukan sekadar kunjungan wisatawan,” tegasnya.
Meski kontribusinya terhadap nilai tukar terbatas, Prof Rossanto menilai meningkatnya kunjungan wisatawan asing tetap menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat sektor pariwisata dan meningkatkan penerimaan devisa negara.
Momentum tersebut, kata dia, dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat promosi destinasi unggulan seperti Bali, Mandalika, Labuan Bajo, dan Raja Ampat agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
(sukadana)