Podiumnews.com / Aktual / Ekonomi

Stimulus Rp26 Triliun Dinilai Hanya Beli Waktu

Oleh Nyoman Sukadana • 24 Juni 2026 • 21:52:00 WITA

Stimulus Rp26 Triliun Dinilai Hanya Beli Waktu
Ilustrasi jam pasir berisi koin rupiah menggambarkan stimulus ekonomi pemerintah sebagai penyangga sementara di tengah ketidakpastian global. (AI/Podiumnews)

JAKARTA, PODIUMNEWS.com – Paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun yang digulirkan pemerintah dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat dalam jangka pendek. Namun, kebijakan tersebut disebut belum cukup untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan tanpa dukungan reformasi ekonomi yang lebih mendasar.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Dr Fakhrul Fulvian, menilai arah stimulus yang ditempuh pemerintah sudah tepat karena menyasar dua fondasi utama ekonomi nasional, yakni konsumsi rumah tangga dan pasar tenaga kerja.

“Paket ini menunjukkan pemerintah memberikan perhatian pada kondisi rumah tangga Indonesia. Dalam situasi ketidakpastian global yang masih tinggi, menjaga daya beli masyarakat menjadi sangat penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, bantuan pangan bagi kelompok rentan berpotensi memberikan dampak langsung terhadap konsumsi masyarakat berpendapatan rendah. Sementara itu, program magang dan vokasi dapat membantu kelompok yang terdampak perlambatan ekonomi sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan kebutuhan pasar.

Meski demikian, Fakhrul mengingatkan bahwa stimulus fiskal pada dasarnya hanya berfungsi sebagai penyangga sementara ketika perekonomian menghadapi tekanan.

“Stimulus dapat membantu menjaga pertumbuhan dalam beberapa kuartal ke depan, tetapi pada akhirnya stimulus hanya membeli waktu,” katanya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tetap bergantung pada faktor-faktor fundamental seperti investasi, penciptaan lapangan kerja produktif, serta peningkatan produktivitas nasional.

Karena itu, efektivitas stimulus dinilai akan jauh lebih besar apabila disertai penguatan stabilitas makroekonomi dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap arah kebijakan pemerintah.

“Perekonomian Indonesia membutuhkan kombinasi antara perlindungan terhadap daya beli masyarakat dan penguatan kepercayaan pasar. Rumah tangga membutuhkan dukungan konsumsi, sementara dunia usaha membutuhkan kepastian untuk kembali melakukan ekspansi dan investasi,” jelasnya.

Fakhrul menilai stimulus saat ini seharusnya menjadi jembatan menuju reformasi ekonomi yang lebih luas, bukan sekadar respons sementara terhadap tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.

Ia menyarankan pemerintah melanjutkan normalisasi fiskal secara bertahap, memperjelas arah kebijakan ekonomi jangka menengah, memperkuat koordinasi fiskal dan moneter, serta memastikan program-program strategis nasional memiliki desain yang kredibel dan berkelanjutan.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memulihkan sentimen pasar, memperkuat nilai tukar rupiah, dan menarik arus investasi yang lebih besar ke dalam negeri.

Di tengah ketidakpastian global yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, serta tekanan suku bunga internasional, kemampuan menjaga stabilitas ekonomi dinilai sama pentingnya dengan upaya mendorong pertumbuhan.

“Pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak hanya lahir dari stimulus, tetapi juga dari kepercayaan. Ketika rumah tangga percaya untuk belanja, perusahaan percaya untuk berinvestasi, dan investor percaya terhadap arah kebijakan, maka pertumbuhan yang lebih tinggi akan tercipta secara berkelanjutan,” pungkas Fakhrul.

(sukadana)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.