Ketidakkonsistenan Kebijakan Perparah Tekanan Ekonomi
YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com – Ketidakkonsistenan kebijakan pemerintah dinilai memperparah tekanan ekonomi nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan anjloknya pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin menurunkan kepercayaan investor dan memperlambat pertumbuhan sektor riil.
Ekonom Sekolah Vokasi UGM, Yudistira Hendra Permana, mengatakan kondisi makroekonomi Indonesia saat ini berada pada situasi yang serius sehingga pemerintah perlu berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan maupun mengambil kebijakan.
“Pemerintah tidak bisa melawan pasar dengan mengatakan kondisi ekonomi sekarang ini masih baik-baik saja secara umum,” ujar Yudistira dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan pasar keuangan Indonesia saat ini menghadapi tekanan yang cukup besar. Nilai tukar rupiah kembali menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami pelemahan hingga 36,05 persen secara tahun kalender berjalan.
Menurut Yudistira, situasi tersebut diperburuk oleh kebijakan pemerintah yang dinilai tidak konsisten sehingga memunculkan ketidakpastian di kalangan pelaku usaha dan investor.
“Investor kebingungan dalam melihat ekonomi Indonesia, di mana selalu diliputi dengan rasa ketidakpastian,” katanya.
Ia mencontohkan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang dilakukan dalam waktu relatif singkat setelah beleid tersebut diterbitkan pada 2023. Menurutnya, langkah tersebut memberi sinyal bahwa arah kebijakan pemerintah belum memiliki kepastian yang kuat.
“Revisi undang-undang dalam waktu singkat dinilai menunjukkan ketidakjelasan arah pemerintah,” ujarnya.
Yudistira mengingatkan tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar keuangan, tetapi juga akan berdampak pada masyarakat. Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan akan mendorong kenaikan inflasi dalam enam bulan hingga satu tahun mendatang yang pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
Selain itu, kondisi pasar yang belum membaik juga membuat investor cenderung menahan investasi di sektor riil karena tingkat keuntungan yang diperoleh dari pasar keuangan terus menurun.
“Risikonya kepercayaan investor bisa turun,” tegasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Yudistira meminta pemerintah menjaga konsistensi kebijakan ekonomi dan menghindari langkah-langkah yang tergesa-gesa setiap kali muncul dinamika baru di pasar.
“Ketidakkonsistenan hanya akan membuat pengusaha enggan berinvestasi. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat,” pungkasnya.
(sukadana)