Wacana Playoff untuk Tentukan Juara Liga 1, Tafsir Regulasi Masih Membingungkan?
GIANYAR, podiumnews.com-PSSI memungkinkan menggelar playoff untuk menentukan tim juara Gojek Traveloka Liga 1. Babak playoff khusus itu juga memungkinkan digelar untuk menentukan tim yang terdegradasi. Kemungkinan ini digelar jika pada akhirnya hingga akhir liga, tim peringkat pertama dan kedua atau seterusnya memiliki poin sama.
Jika hal itu memang terjadi tanpa mempertimbangkan hasil head to head dan memperhitungkan selisih gol, maka tentunya akan muncul rasa kekecewaan dari semeton Bali United. Mengingat tim dari pulau dewata, menjadi salah satu tim yang paling subur untuk urusan menjebol gawang lawannya di kompetisi liga I tahun 2017, dengan selisih goal +34 pada pekan 32.
Perihal kemungkinan terjadinya playoff disampaikan oleh Ketua Kompetisi PSSI Yunus Nusi, seperti dikutip dari detik.com. Babak playoff sebelumnya diberlakukan pada kompetisi Liga 2 antara Persewangi Banyuwangi dan PSBK Blitar.
PSSI memutuskan kedua tim harus menjalani play-off khusus untuk memperebutkan peringkat keempat karena karena memiliki poin sama dan saling mengalahkan saat penyisihan grup. PSSI disebut Yunus berharap tak ada lagi salah tafsir terkait regulasi. Oleh karena itu, PSSI akan meminta kejelasan kepada PT Liga Indonesia Baru.
"Kami berharap PT LIB memberlakukan tanpa ada lagi keributan seperti tafsir yang terjadi di Liga 2 kemarin," ungkap Yunus.
Yunus mengatakan masalah itu akan dibahas dalam rapat Komite Eksekutif PSSI yang digelar pada Selasa (31/10/2017). Persoalan head to head memang sempat membuat PSSI kebingungan.
Saat ini ada tiga tim yang bersaing ketat dalam perebutan gelar juara Liga 1, Bali United (62 poin, 32 laga), PSM Makassar dengan 62 poin dari 32 laga, disusul Bhayangkara FC (62 poin, 31 laga).
Bali United Sempat Kecewa di Paruh Musim
Sebagaimana diketahui, pada paruh musim Pelatih Bali United, Widodo Cahyono Putro sempat mengkritik sistem penerapan peringkat pada klasemen Liga 1 musim 2017. Hal itu dikatakan Widodo selepas menghadiri "Technical Study Grup" yang digagas PSSI di Hotel Sultan, Jakarta, pada awal Agustus 2017 lalu.
Dalam regulasi yang diterapkan PT Liga Indonesia Baru (LIB), dua tim dengan poin sama bukan ditentunkan lewat selisih gol melainkan rekor pertemuan alias head-to-head sebagai patokan pertama.
Di papan klasemen penutup putaran pertama, saat itu Bali United menghuni peringkat kedua dengan 32 poin. Puncak tabel menjadi milik Madura United meskipun poinnya sama dengan Bali United tetapi justru kalah subur ketimbang skuad asuhan Widodo tersebut.
Madura United selisih golnya adalah 13 gol, sementara Bali United adalah 14 gol. Jika mengacu selisih gol, Bali United yang berhak menyandang status juara paruh musim Liga 1.
"Jadi Bali United sekarang posisi satu atau dua? Ukurannya apa? Jika head-to-head itu dihitung satu pertandingan atau dua pertandingan? Menurut Anda hasil itu adil atau tidak?" tutur Widodo pada waktu itu dengan nada kesal.
Jika ditetapkan lewat rekor pertemuan antara kedua tim, Madura United yang berhak di puncak klasemen karena menang 2-0 pada pertemuan pertama. Dalam laga yang tersaji pada pekan pertama Liga 1 tersebut, Fadil Sausu dan kawan-kawan saat masih ditangani pelatih asal Austria, Hans-Peter Schaller. (KP-TIM)