Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Sesal Tito

Oleh Nyoman Sukadana • 09 Oktober 2026 • 01:05:00 WITA

Sesal Tito
Menot Sukadana (AI/Vector)

PESTA pernikahan di Tabanan bukan tempat yang lazim untuk bicara sejarah pers. Tapi obrolan itu terjadi juga, Rabu malam lalu, sambil menunggu giliran menyalami Nyoman Adi Irawan, Ketua JMSI Bali, dan pengantinnya.

Saya kebetulan semeja dengan dua jurnalis muda, Agus Pebriana dan Julius. Entah bagaimana awalnya, kami jadi membicarakan apa gunanya pers sebelum Republik Indonesia ada. Agus buru-buru menegaskan, yang ia maksud pers perjuangan.

Saya memang suka ngobrol. Kalau sudah semangat, sering lupa waktu. Apalagi kalau di meja ada kopi dan rokok. Malam itu dua-duanya ada.

Jadilah saya nyerocos. Ke sana kemari. Tanpa rem. Syukurnya, keduanya sabar mendengarkan ocehan saya.

Julius lebih banyak diam. Mendengar. Barangkali mereka sungkan. Saya jauh lebih senior, dan di meja itu saya yang paling banyak bicara. Bisa jadi sabar mereka separuhnya sopan santun.

Saya bilang, gagasan persatuan dulu menyebar lewat kertas, bukan lewat tentara.

Agus menyambung lebih jauh ke belakang, sampai ke mesin cetak Gutenberg. Sejak itu, katanya, gagasan dan ilmu pengetahuan, bahkan agama, menyebar dengan cara yang belum pernah terjadi.

Soal kertas dan tentara itu mengingatkan saya pada sebuah kisah dari Beograd. Saya mulai bercerita, lalu tersangkut di satu nama. Presiden Yugoslavia itu siapa, ya?

"Tito," kata Agus.

Nah, itu dia. Josip Broz Tito. Nama sebesar itu, malam itu, perlu diingatkan anak muda.

Beograd, September 1961, konferensi pertama Gerakan Non-Blok. Konon, di sela sidang, Bung Karno bertanya kepada tuan rumahnya: kalau suatu saat Tuan meninggal, apa yang Tuan tinggalkan untuk bangsa Tuan?

Tito menjawab dengan bangga. Ia punya tentara yang berani dan tangguh.

Lalu ia balik bertanya. Bung Karno menjawab tenang, ia tidak khawatir. Ia meninggalkan bangsanya sebuah way of life. Pancasila.

Terus terang, saya suka kisah ini. Justru karena itu saya curiga.

Kisah ini beredar di mana-mana, sering tanpa sumber. Setelah saya telusuri, jejak paling jelas datang dari Megawati Soekarnoputri. Ia menceritakannya di seminar daring Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa, Rabu, 1 Juni 2022, dan menyebut dirinya ikut ke konferensi itu sebagai anggota delegasi termuda. Umurnya waktu itu empat belas tahun.

Megawati menambahkan tafsirnya sendiri. Mungkin Tito tak mengerti maksud ayahnya, katanya. Tapi begitu Tito meninggal, Yugoslavia porak-poranda menjadi beberapa negara kecil.

Jadi kisah ini ada penuturnya, tapi transkripnya belum ketemu. Diceritakan enam puluh satu tahun kemudian, oleh seorang anak tentang ayahnya. Saya memperlakukannya sebagai perumpamaan saja. Perumpamaan yang bagus.

Tito wafat 4 Mei 1980 di Ljubljana. Sebelas tahun kemudian Slovenia, bersama Kroasia, menyatakan keluar dari Yugoslavia. Tentara Rakyat Yugoslavia dikirim untuk menahannya, lalu bertempur di Kroasia, dan lama-lama lebih mirip tentara satu pihak.

Penjaga persatuan berubah jadi pisau.

Apakah Tito akan menyesal kalau melihat itu? Saya tidak tahu. Tidak ada catatannya.

Malam itu di Tabanan, rem saya masih blong. Cerita berlanjut ke dua bapak bangsa kita yang waktu itu belum punya tentara. Mereka cuma punya kertas.

Bung Karno, umur dua puluh lima, menulis "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme" di Suluh Indonesia Muda pada 1926. Isinya ajakan agar tiga aliran besar itu berhenti bertengkar dan bersatu melawan penjajah. Enam tahun kemudian ia menerbitkan majalah sendiri di Bandung, Fikiran Ra'jat. Jangan tertukar dengan Pikiran Rakyat yang sekarang; yang itu lahir setelah merdeka.

Hatta lebih telaten. Semasa kuliah di Belanda ia mengasuh Indonesia Merdeka, majalah Perhimpunan Indonesia. Ia juga sudah menulis untuk Daulat Ra'jat, majalah Pendidikan Nasional Indonesia, sejak masih di sana, lalu ikut mengasuhnya setelah pulang.

Bagian yang paling saya sukai: mereka berdua tidak cuma menulis tentang persatuan. Mereka bertengkar soal itu, di terbitan masing-masing.

Bung Karno ingin semua golongan bergabung dalam satu barisan, dan pokok-pokok pertengkaran antarpartai disingkirkan dulu demi kemerdekaan. Hatta tidak setuju. Judul tulisannya saja sudah menyindir: "Persatuan Ditjari, Per-sate-an Jang Ada". Terbit di Daulat Ra'jat tahun 1932, kalau tidak salah bulan April. Menurut Hatta, menyatukan semua golongan dengan mengorbankan asas masing-masing itu sama dengan bikin sate. Daging kerbau, sapi, kambing, ditusuk jadi satu. Ia percaya partai justru kuat kalau bersaing gagasan.

Pers waktu itu tempat persatuan disebarkan, sekaligus tempat ia dibantah. Republik ini lahir dari dua-duanya.

Ada sindiran lain yang lebih kasar, entah siapa yang pertama mengucapkannya: persatuan tahi kambing. Bulat di dalam perut, begitu keluar tercerai-berai.

Sekilas mirip sate, tapi sebenarnya lain. Sate disatukan lidi dari luar. Lidinya kelihatan, dan dagingnya tetap kerbau, tetap sapi. Tahi kambing disatukan dari dalam, oleh tekanan yang tidak kelihatan. Semua yang masuk dicerna jadi zat yang sama, lalu keluar seragam dan tidak saling melekat.

Kalau mau memakai perumpamaan kasar itu, Yugoslavia lebih dekat ke yang kedua. Slogannya bratstvo i jedinstvo, persaudaraan dan persatuan. Perutnya Tito.

Indonesia sempat dikhawatirkan bernasib sama. Tahun 1998, kata Balkanisasi ramai di koran. Romo Mangunwijaya menulis Menuju Republik Indonesia Serikat, menimba gagasan federal Hatta, supaya negeri ini tidak meledak.

Timor Timur memilih berpisah pada 1999. Yang lain tetap.

Saya sempat ingin menyimpulkan begini: yang lepas adalah wilayah yang tidak ikut mengalami Sumpah Pemuda dan revolusi, sedangkan yang bertahan diikat oleh sesuatu yang tidak dibuat perut, seperti bahasa dan ingatan bersama.

Tapi Papua membuat kesimpulan itu goyah. Papua tidak masuk wilayah Republik di masa revolusi. Ia baru bergabung lewat Persetujuan New York 1962, diserahkan PBB pada 1963, lalu dikukuhkan Pepera 1969 yang keabsahannya masih diperdebatkan sampai sekarang.

Padahal sejak awal kemerdekaan sudah ada orang Papua seperti Frans Kaisiepo, Silas Papare, dan Marthen Indey yang memilih Republik.

Papua bertahan, dengan luka yang belum sembuh. Mungkin di sana perut dan perekat bekerja bersamaan. Saya tidak berani menyimpulkan lebih jauh.

Yang membuat saya penasaran justru pertanyaan berikutnya: perekat itu masih bekerja sendiri, atau diam-diam sudah kita ganti dengan perut?

Jawaban Bung Karno dalam kisah tadi juga perlu digugat sedikit. Gagasan memang lebih awet daripada tentara. Tapi gagasan pun bisa dijadikan lidi.

Orde Baru menjadikan Pancasila asas tunggal bagi semua partai dan organisasi. Tafsirnya diseragamkan lewat penataran P4, dari kantor pemerintah sampai ruang kuliah. Banyak dari kita pernah duduk di kelas penataran itu, pulang membawa sertifikat, lalu lupa isinya. Sesuatu yang dihafal karena wajib, ya begitu nasibnya.

Perut itu pecah pada 1998. Pancasila ternyata selamat. Dugaan saya, karena ia memang lebih tua dari penataran. Ia lahir dari sidang yang penuh perdebatan.

Tapi perut juga punya penggemar.

Di bekas negara-negara Yugoslavia ada kata untuk itu, jugonostalgija, rindu pada masa Tito. Setiap 4 Mei, hari wafatnya, dan 25 Mei, yang dulu dirayakan sebagai Hari Pemuda, orang dari berbagai bekas republik itu masih datang ke makamnya di Beograd. Ada yang memakai topi bintang merah. Ada yang bilang rindu pada pemimpin terbesar yang pernah ada.

Kita punya versinya sendiri, lebih sederhana: wajah tersenyum di bak truk, dengan tulisan "Piye kabare? Isih penak jamanku to?"

Dua-duanya merindukan masa ketika semuanya bulat di dalam perut.

Saya tidak mau menertawakan itu. Rindu semacam itu ada sebabnya. Sesudah perut pecah, yang datang sering kekacauan: perang di Balkan, dan di sini Ambon, Poso, Sampit.

Hanya saja, saya curiga yang dirindukan sebenarnya rasa aman, dan rasa aman itu dulu datang dari tekanan.

Makam Tito di Beograd dinamai Ku?a cve?a, Rumah Bunga. Waktu ia dimakamkan di sana, orang merasa kurang pantas menyebutnya makam. Belakangan Slobodan Miloševi? menjadikan bekas rumah Tito di dekatnya sebagai kediaman, dan dibangunlah tembok yang memisahkan rumah itu dari Rumah Bunga.

Tito tidak sempat melihat tentaranya diuji, jadi ia juga tidak sempat menyesal. Yang menyesal barangkali justru yang hidup sesudahnya, sebagian di antaranya masih datang tiap Mei membawa bunga.

Dalam kisah yang belum ada transkripnya itu, Tito menyebut tentara dan Bung Karno menyebut Pancasila.

Jauh sebelum Republik berdiri, Bung Karno dan Hatta tidak punya tentara. Mereka punya kertas, dan di atas kertas itu mereka tidak selalu sepakat.

Di sela obrolan malam itu, Agus sempat bertanya: kenapa saya tidak pernah mengajak mereka ngopi?

Ngopi, bagi wartawan, jarang cuma soal kopi. Itu nongkrong sambil berdiskusi, kadang berdebat.

Saya beralasan, sekarang jarang liputan ke Denpasar, wilayah liputan mereka. Tapi saya berjanji, kalau ada liputan di Denpasar, mereka saya ajak ngopi.

Kami baru beranjak setelah semua undangan pulang. 

Janji itu saya tulis di sini, supaya ada saksinya. Di atas kertas.

Fikiran Ra'jat dan Daulat Ra'jat sudah lama berhenti terbit.

Republik yang mereka perdebatkan masih ada. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.