Podiumnews.com / News / Hot Issue

Jalan Gatsu–Mengwi di Tengah Kepadatan Penduduk

Oleh Menot Sukadana • 06 November 2026 • 04:42:00 WITA

Jalan Gatsu–Mengwi di Tengah Kepadatan Penduduk
Kepadatan kendaraan roda dua dan roda empat di salah satu ruas jalan di Bali. Kemacetan menjadi tantangan mobilitas masyarakat. (Foto: CatwalkPhotos/Shutterstock)

Sebanyak 41,6 persen penduduk Badung tercatat tinggal di Kuta Utara dan Mengwi. Penelitian transportasi menemukan ribuan kendaraan melintas di salah satu ruas Canggu setiap jam sibuk. Di tengah tekanan mobilitas tersebut, rencana pembangunan jalan Gatsu Barat–Canggu–Mengwi masih menghadapi kendala teknis dan pembiayaan.

KECAMATAN KUTA UTARA dan Mengwi menampung 224.470 jiwa atau sekitar 41,6 persen penduduk Kabupaten Badung pada 2025. Kedua kecamatan tersebut menjadi bagian utama wilayah yang hendak dihubungkan melalui rencana pembangunan jalan baru dari Gatot Subroto (Gatsu) Barat menuju Canggu, Mengwitani, hingga Werdi Bhuwana.

Angka tersebut diperoleh dari data administrasi kependudukan Kementerian Dalam Negeri yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Badung pada 10 Maret 2026. Jumlah penduduk Kuta Utara tercatat 90.270 jiwa dan Mengwi 134.200 jiwa, dari total 539.700 penduduk Badung menurut seri data yang sama.

Konsentrasi penduduk kedua kecamatan terlihat ketika dibandingkan dengan luas wilayahnya. Kuta Utara memiliki luas 33,86 kilometer persegi dan Mengwi 82 kilometer persegi. Jika digabungkan, luas keduanya mencapai 115,86 kilometer persegi atau sekitar 27,7 persen dari keseluruhan wilayah Badung yang mencapai 418,52 kilometer persegi.

Hasil pengolahan data penduduk 2025 dan luas wilayah yang dipublikasikan BPS menunjukkan kepadatan rata-rata kedua kecamatan mencapai sekitar 1.937 jiwa per kilometer persegi. Angka tersebut hampir dua kali kepadatan gabungan empat kecamatan Badung lainnya yang sekitar 1.042 jiwa per kilometer persegi.



Kepadatan penduduk Kuta Utara sendiri mencapai sekitar 2.666 jiwa per kilometer persegi, sedangkan Mengwi sekitar 1.637 jiwa. Artinya, kepadatan Kuta Utara sekitar 63 persen lebih tinggi dibandingkan Mengwi.

Perhitungan kepadatan tersebut menggunakan data jumlah penduduk administrasi 2025 dan luas wilayah yang bersumber dari keputusan Kementerian Dalam Negeri tahun 2022.

Perbedaan kepadatan itu memperlihatkan karakter kedua wilayah. Kuta Utara mencakup kawasan pariwisata Canggu, Berawa, dan Kerobokan yang menjadi pusat kegiatan usaha dan mobilitas masyarakat. Sementara Mengwi memiliki wilayah lebih luas dengan kawasan permukiman, pertanian, pusat pemerintahan, serta Terminal Mengwi sebagai salah satu simpul transportasi.

Namun, konsentrasi penduduk bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi lalu lintas. Kawasan pariwisata juga menerima perjalanan wisatawan, pekerja, dan kendaraan dari luar wilayah administrasinya. Karena itu, data penduduk belum dapat digunakan untuk menghitung besarnya kebutuhan kapasitas jalan atau jumlah kendaraan yang nantinya menggunakan koridor Gatsu–Mengwi.

Ribuan Kendaraan di Canggu

Tekanan lalu lintas di kawasan Canggu tergambar dalam penelitian I Putu Anom Wahyudi Putra, Wisnu Wardana Kusuma, dan Yuanda Patria Tama dari Politeknik Transportasi Darat Indonesia–STTD pada 2026.

Penelitian berjudul Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Kawasan Jalan Raya Canggu sebagai Akses Pariwisata Canggu Kabupaten Badung itu menganalisis sembilan segmen jalan dan tiga persimpangan menggunakan data survei lapangan Januari 2026.

Pada Jalan Raya Canggu segmen 1, survei mencatat 1.218 kendaraan per jam pada satu arah dan 1.322 kendaraan per jam pada arah sebaliknya saat jam sibuk sore hari kerja. Total arus kedua arah mencapai 2.540 kendaraan per jam pada segmen tersebut.


Angka itu merupakan hasil pencacahan pada ruas tertentu, bukan jumlah kendaraan harian ataupun volume lalu lintas seluruh kawasan Canggu.

Penelitian tersebut juga menggunakan perangkat lunak PTV Vissim untuk memodelkan kinerja jaringan jalan. Berdasarkan model yang disusun dari data lapangan, kecepatan rata-rata jaringan pada kondisi eksisting tercatat 12,13 kilometer per jam, dengan tundaan rata-rata 134,18 detik per kendaraan.

Hasil tersebut menggambarkan kondisi jaringan yang diteliti pada jam sibuk sore hari kerja, pukul 17.00–18.00 WITA. Kecepatan dan tundaan rata-rata itu merupakan keluaran pemodelan, bukan pengukuran langsung seluruh kendaraan yang melintas.

Kondisi kemacetan Canggu juga telah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Badung. Pada 15 April 2026, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Badung I Made Gede Wiryantara Adi Susandi menyampaikan rencana memperluas rekayasa lalu lintas ke Berawa dan Canggu setelah penerapan sistem satu arah di Kerobokan Kelod dan Seminyak.

“Di lokasi tersebut masih terdapat beberapa titik kemacetan yang perlu dikaji lebih lanjut,” ujar Wiryantara, sebagaimana dikutip dari publikasi resmi Pemkab Badung.

Menurut dia, meningkatnya aktivitas pariwisata turut memengaruhi kepadatan lalu lintas. Pemerintah juga menerima keluhan kemacetan dari masyarakat melalui kanal media sosial Kontak Bupati.

Persoalan itu kembali dibahas dalam rapat koordinasi Dishub Badung bersama jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Bali dan Satuan Lalu Lintas Polres Badung pada 11 Agustus 2026. Pertemuan tersebut membahas langkah penanganan kemacetan di kawasan Canggu dan sekitarnya.

Pilihan Penanganan Kemacetan

Penelitian PTDI–STTD tidak hanya memotret kondisi lalu lintas, tetapi juga menguji kemungkinan perbaikan melalui manajemen dan rekayasa jalan yang sudah tersedia.

Skenario penanganan yang dimodelkan antara lain koordinasi pengaturan lalu lintas di simpang Kayu Tulang dan Batu Bolong, penataan prioritas kendaraan di simpang Men Lari, serta penyediaan fasilitas pejalan kaki.

Hasil simulasi menunjukkan kecepatan rata-rata jaringan berpotensi meningkat dari 12,13 menjadi 14,50 kilometer per jam. Sementara tundaan rata-rata diperkirakan turun dari 134,18 menjadi 99,37 detik per kendaraan.

Penurunan tundaan tersebut mencapai sekitar 25,9 persen. Akan tetapi, angka itu merupakan hasil simulasi komputer, bukan hasil evaluasi kebijakan yang telah diterapkan di lapangan.


Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengaturan persimpangan dan fasilitas jalan yang tersedia memiliki potensi memperbaiki kinerja lalu lintas. Meski demikian, penelitian itu tidak mengukur dampak pembangunan koridor Gatsu Barat–Canggu–Mengwi sehingga belum dapat digunakan untuk membandingkan efektivitas kedua pendekatan secara langsung.

Pemerintah Kabupaten Badung sendiri menyiapkan penanganan kemacetan melalui rekayasa lalu lintas dan pembangunan jaringan jalan baru.

Pada 27 Juli 2026, Pemkab Badung menggelar peletakan batu pertama proyek Jalan Lingkar Selatan serta jalan pintas Berawa–Umalas–Kedampang–Teuku Umar Barat. Kegiatan tersebut dipusatkan di lokasi proyek Jalan Lingkar Selatan Segmen 4, kawasan Pecatu, Kuta Selatan.

Dalam program itu, pemerintah juga merencanakan pembangunan Jalan Semer–Teuku Umar Barat sepanjang 4,77 kilometer untuk mengurangi beban lalu lintas di Simpang Semer. Angka panjang tersebut merujuk pada ruas yang disebut dalam paparan resmi bupati, bukan keseluruhan jaringan jalan baru yang direncanakan di Badung.

Sementara itu, proyek Gatsu Barat–Canggu–Mengwitani–Werdi Bhuwana disiapkan dalam skala lebih besar sebagai bagian dari pengembangan jaringan jalan lingkar Mangupura.

Rencana tersebut menghadapi kendala permukiman padat, terutama di sekitar Banjar Batu Culung, Kerobokan Kaja. Pemerintah kemudian mempertimbangkan pembangunan jalan bawah tanah untuk mengurangi kebutuhan pembebasan lahan di permukaan.

Pada Juli 2026, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa sempat menyebut opsi jalan bawah tanah sekitar 400 meter untuk melewati kawasan permukiman padat. Dalam perkembangan perencanaan September 2026, pemerintah membahas konsep terowongan utama sekitar 2,4 kilometer pada segmen Gatsu Barat–Canggu.

Perbedaan panjang tersebut menunjukkan adanya perkembangan alternatif teknis yang dibicarakan pemerintah. Namun, tanpa dokumen desain terbaru, belum dapat dipastikan apakah kedua angka itu menggambarkan perubahan rancangan atau cakupan pekerjaan yang berbeda.

Dalam pertemuan teknis pada 24 September 2026, Pemkab Badung bersama mitra Shanghai Tunnel Engineering membahas alternatif konfigurasi satu hingga tiga terowongan, metode pengeboran, biaya, serta skema pembiayaan.

Pemerintah menyatakan hasil pembahasan akan menjadi bahan penyusunan peta jalan proyek dan kajian kelayakan lebih lanjut. Dengan demikian, rancangan terowongan belum dapat diperlakukan sebagai desain konstruksi final.

Jadwal Konstruksi Bergeser

Persoalan kesiapan proyek semakin terlihat dari perubahan jadwal pembangunan sepanjang 2026.

Pada Maret 2026, Pemkab Badung merencanakan pembebasan lahan dimulai melalui APBD Perubahan 2026, dilanjutkan konstruksi pada 2027 dengan target penyelesaian 2028.

Namun, dalam perkembangan September 2026, pemerintah sudah membicarakan pembebasan lahan pada 2027 dan konstruksi pada 2028. Pergeseran tersebut kembali ditegaskan pada akhir Oktober ketika pemerintah meninjau kesiapan teknis dan pembiayaan proyek.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, seusai rapat paripurna DPRD Badung pada Kamis (29/10/2026), menyatakan pelaksanaan konstruksi koridor Gatsu Barat–Canggu–Mengwitani–Werdi Bhuwana belum memungkinkan dilakukan pada 2027.

“Namun dengan pertimbangan teknis, ternyata pelaksanaan di lapangan, terutama konstruksinya, tidak memungkinkan untuk tahun 2027,” kata Adi Arnawa.

Pemerintah kemudian menunda rencana penarikan pinjaman daerah sebesar Rp1,67 triliun hingga 2028. Untuk tahap awal, kebutuhan pembebasan lahan direncanakan menggunakan pendapatan asli daerah (PAD).


Menurut Adi Arnawa, pinjaman akan digunakan ketika pelaksanaan pembangunan terowongan siap dilakukan. Penarikan dana sebelum proyek memasuki tahap konstruksi dinilai berpotensi menambah beban keuangan daerah.

Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti mendukung penundaan tersebut, Minggu (1/11/2026). Ia menekankan pentingnya memperhitungkan kewajiban keuangan sebelum pemerintah melakukan pinjaman.

“Ketika pinjaman itu kita lakukan, pasti akan ada bunga,” ujarnya.

DPRD juga meminta pemerintah tetap melanjutkan persiapan teknis agar proyek dapat direalisasikan setelah seluruh persyaratan terpenuhi.

Penundaan tersebut tidak berarti rencana jalan Gatsu Barat–Canggu–Mengwi dibatalkan. Namun, target konstruksi pada 2028 masih bergantung pada penyelesaian kajian teknis, kesiapan lahan, dan keputusan pembiayaan.

Data kependudukan memperlihatkan konsentrasi penduduk yang besar di Kuta Utara dan Mengwi. Sementara survei kendaraan dan pemodelan lalu lintas di Canggu memberikan gambaran mengenai tekanan mobilitas yang sudah terjadi pada jaringan jalan tertentu.

Kedua kelompok data tersebut menjadi konteks penting bagi rencana pembangunan jalan baru. Akan tetapi, belum tersedia dalam sumber yang diperiksa hasil pemodelan yang secara khusus menghitung seberapa besar koridor Gatsu Barat–Canggu–Mengwi akan mengurangi volume kendaraan, tundaan, atau waktu perjalanan pada jaringan jalan eksisting.

Pengukuran manfaat itu memerlukan data asal dan tujuan perjalanan, kapasitas ruas yang tersedia, serta proyeksi perpindahan arus kendaraan setelah jalan baru beroperasi.

Sementara proyek Gatsu–Mengwi masih disiapkan, penanganan kemacetan Canggu tetap mengandalkan jaringan jalan yang ada dan langkah rekayasa lalu lintas. Efektivitas jalan baru nantinya harus diuji berdasarkan perubahan kinerja transportasi yang terukur, bukan hanya besarnya jumlah penduduk di kawasan yang hendak dihubungkan. (sukadana)


Menot Sukadana
Editor

Menot Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.