Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Ongkos Antrean

Oleh Nyoman Sukadana • 11 Oktober 2026 • 20:58:00 WITA

Ongkos Antrean
Menot Sukadana (AI/Vector)

PUKUL satu dini hari. SPBU di Dalung itu masih ramai.

Bukan ramai orang beli kopi. Ramai motor. Antre bensin. Barisannya keluar dari halaman SPBU, sampai ke badan jalan.

Saya tidak menghitung satu per satu. Tapi seratus lebih ada. Sejak siang memang begitu. Sore begitu. Malam juga begitu. Hampir semuanya motor. Mobil hanya sesekali.

Ini Bali. Pulau yang hidup dari turis. Tapi malam itu yang terlihat bukan turis. Yang terlihat orang antre bensin.

***

Pertamina sudah memberi penjelasan. Pasokan Pertalite telat. Kapal baru tiba 7 Oktober. Kapal berikutnya dijadwalkan 11 Oktober.

Kenapa telat? Jawabannya: penyesuaian pola suplai. Kalimatnya rapi. Tapi tidak menjawab yang ingin diketahui orang di barisan: kenapa kapalnya telat, dan sampai kapan.

Bali memang tergantung kapal. Bensin masuk dari dua pintu: Terminal Manggis di Karangasem dan Sanggaran di Denpasar. Kapal telat sehari, yang antre orang di Dalung.

Ini juga bukan yang pertama. November tahun lalu: cuaca buruk, kapal tanker terhambat. Orang Dalung sampai berburu bensin ke Kuta Selatan. Akhir Agustus: antre lagi. Pertamina sampai mendatangkan dua kapal sekaligus. Awal Oktober: antre lagi.

Tiga kali dalam setahun. Itu bukan lagi kebetulan.

Maka wajar kalau orang bertanya: Bali ini sebenarnya punya cadangan bensin untuk berapa hari? Pertamina pernah menyebut kebutuhan Pertalite di Bali rata-rata sekitar 2.100 kiloliter sehari. Kalau begitu, satu kapal yang membawa 22 juta liter Pertalite hanya cukup untuk sekitar sepuluh hari. Berapa yang tersimpan di tangki darat? Itu yang belum pernah dijelaskan.

***

Lalu kenapa yang antre kebanyakan motor?

Lihat harganya. Di Bali, Pertalite Rp10.000 seliter. Pertamax Rp15.950. Selisihnya hampir Rp6.000.

Sejak Pertamax naik Juni lalu, di banyak daerah pemakai Pertamax pindah ke Pertalite. Kebanyakan pengendara motor. Sebaliknya, waktu Pertalite kosong, pemilik mobil yang mampu tinggal pindah ke Pertamax. Bayar lebih mahal. Selesai. Tidak perlu antre.

Yang tidak bisa pindah tetap di barisan. Merekalah yang paling menghitung harga. Juga yang paling tidak punya waktu untuk dibuang: ojol, kurir, pekerja hotel yang pulang malam. Waktu mereka adalah uang mereka.

***

Antrean itu sebenarnya cara yang adil. Siapa datang duluan, dilayani duluan. Tidak perlu hakim.

Tapi antrean juga cara membagi barang yang kurang. Harga Pertalite tidak boleh naik. Disubsidi. Maka waktu bensin kurang, yang naik bukan harganya. Yang naik waktunya.

Orang tidak membayar lebih mahal. Orang membayar lebih lama.

***

Di Jepang, di peron stasiun, ada garis di lantai. Tepat di depan pintu kereta. Orang berbaris di situ. Rapi sekali.

Kita sering bilang: orang Jepang memang sabar. Saya tidak yakin itu soal watak.

Kereta di sana datang tepat waktu. Pintunya berhenti tepat di garis itu. Siapa pun yang berbaris pasti terangkut. Orang mau tertib karena antreannya bisa dipercaya.

Antrean bensin waktu pasokan kurang tidak bisa dipercaya. Bisa saja, begitu giliran Anda tiba, petugas memasang tulisan: Pertalite habis. Anda pun pindah ke SPBU lain. Antre lagi dari belakang. Membakar bensin untuk mencari bensin.

Tahun 1985 ada ahli layanan bernama David Maister yang menulis soal ini. Menunggu itu, katanya, terasa lebih lama kalau tidak pasti. Kalau tidak dijelaskan. Kalau tidak adil. Antrean bensin di Bali kena ketiganya.

Setiap kali antrean panjang, imbauannya biasanya sama: masyarakat diminta sabar, jangan ricuh. Yang diminta sabar selalu yang di bawah. Jarang yang di atas.

***

Saya jadi ingat ATM.

Tahun 1967 bank Barclays memasang mesin uang di Enfield, pinggiran London. Itu yang umum disebut sebagai ATM pertama di dunia. Indonesia menyusul pertengahan 1980-an.

ATM tidak membuat uang bertambah. ATM hanya membuat orang tidak perlu antre di depan teller. Satu loket dipecah jadi ribuan mesin. Buka 24 jam.

Bensin tentu lain. Masalahnya di tangki, bukan di pompa. Pompa ditambah sepuluh pun tidak ada gunanya kalau tangkinya kosong.

Tapi ada dua hal dari ATM yang bisa ditiru.

Pertama: layar saldo. Orang tenang karena tahu. Seandainya stok tiap SPBU bisa dilihat di ponsel, saat itu juga, dan angkanya bisa dipercaya, orang tidak perlu keliling dari pom ke pom.

Kedua: cepat di loket. Mengisi satu motor, dari pengalaman, perlu dua sampai tiga menit. Buka jok. Sebut nominal. Bayar. Tunggu kembalian. Tutup jok. Dorong. Kalau bisa jadi satu setengah menit –misalnya petugas menagih saat motor masih di barisan– antrean bisa berkurang hampir separuh. Tanpa tambahan bensin setetes pun.

***

Sekarang soal ongkosnya. Ini hitungan kasar saja.

Anggap SPBU di Dalung itu punya dua selang untuk motor. Dua sampai tiga menit per motor. Berarti satu jam hanya bisa melayani 40 sampai 60 motor. Motor nomor 100 harus menunggu satu jam 40 menit sampai dua setengah jam. Kalau selangnya cuma satu? Bisa tiga sampai lima jam.

Ada rumus sederhana di ilmu antrean. Total waktu tunggu sama dengan panjang antrean dikali berapa lama antrean itu bertahan. Katakanlah rata-rata ada 50 sampai 100 motor di barisan. Bertahan 14 jam, dari siang sampai jam satu malam. Totalnya 700 sampai 1.400 jam.

UMK Badung tahun ini Rp3,79 juta. Tertinggi di Bali. Kalau dihitung per jam kerja, sekitar Rp22 ribu. Kalikan. Ketemu Rp15 juta sampai Rp30 juta.

Sehari. Di satu SPBU.

Memang tidak semua yang antre kehilangan gaji. Ada pelajar. Ada yang antre sepulang kerja. Tapi jam yang hilang tetap hilang. Bagi ojol, itu orderan yang lewat. Bagi pekerja hotel, itu jam tidur. Bagi seorang bapak, itu jam main dengan anaknya. Upah minimum hanyalah cara paling sopan untuk memberi harga pada jam-jam itu.

Lalu ini: Pertalite disubsidi supaya murah. Tapi kalau antre dua jam untuk tiga liter, waktunya saja sudah senilai sekitar Rp44 ribu. Belum harga bensinnya. Dihitung per liter, jadinya sekitar Rp25 ribu. Lebih mahal dari Pertamax.

Subsidi itu ternyata dibayar juga. Pakai waktu.

Tidak ada kuitansinya. Tidak tercatat di laporan Pertamina. Tapi itulah ongkos antrean.

***

Kapal yang dijadwalkan tiba 11 Oktober, mudah-mudahan, benar-benar tiba. Antrean di Dalung pun bubar.

Sampai kapal berikutnya telat lagi.

Lalu kita disuruh sabar lagi. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.