Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Enam Detik

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Oktober 2026 • 02:08:00 WITA

Enam Detik
Menot Sukadana (Dok/Podiumnews)

RITA tertinggal.

Di jalur sebelah, Deng Lijuan lebih dulu menjejak. Deng dari China. Ia pemanjat cepat. Sangat cepat.

Itu final Asian Games di Nagoya, Jepang. Nomor speed putri. Rabu, akhir September lalu.

Di tengah dinding Rita menyalip. Lalu tangannya menepuk tombol di puncak. Papan waktu menyala: Rita 6,062 detik. Deng 6,064 detik.

Selisihnya dua per seribu detik.

Saya baca angka itu dua kali. Lalu saya coba membayangkannya. Tidak bisa. Kedipan mata yang paling cepat saja butuh sekitar sepersepuluh detik. Berarti emas dan perak itu dipisahkan oleh waktu yang lebih pendek dari sekali kedip.

Rita kedip pun kalah.

Nomor speed ini lomba yang unik. Saya baru tahu. Dindingnya selalu 15 meter. Agak miring ke depan. Letak pegangannya sama persis di seluruh dunia. Di Polandia sama. Di Jepang sama. Di Bali, kalau ada, juga harus sama.

Maka para atlet hafal jalurnya. Seperti kita hafal jalan pulang ke rumah. Yang diadu bukan siapa paling pintar membaca dinding. Yang diadu: siapa paling sedikit salah. Selama enam detik.

Yang membuat final itu lebih seru adalah lawannya.

Dua tahun lalu, di Olimpiade Paris, Rita juga ketemu Deng Lijuan. Di perempat final. Rita kalah. Deng 6,363 detik, Rita 6,369 detik. Selisih enam per seribu detik. Rita pulang di urutan keenam.

Di Nagoya Rita membalas. Selisihnya malah lebih tipis.

Siapa Rita?

Nama lengkapnya Desak Made Rita Kusuma Dewi. Orang Buleleng. Lahir 2001. Besar di Singaraja. Kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha, juga di Singaraja.

Prestasinya sudah panjang. Juara dunia di Bern, Swiss, tahun 2023. Emas Asian Games Hangzhou. Sekarang emas Nagoya.

Saya tidak kenal Rita. Saya juga belum menemukan cerita bagaimana gadis Singaraja itu dulu jatuh cinta pada dinding panjat. Yang saya temukan justru cerita lain. Dari bulan Juli.

Waktu itu Rita juara di seri dunia di Kraków, Polandia. Selesai lomba ia diwawancarai media setempat. Rita bilang: sebelum berangkat ke Kraków ia tidak mendapat dukungan dari pemerintah. Ia berharap prestasinya membuat pemerintah memberi perhatian.

Ramai.

Kemudian Rita meluruskan. Itu bukan kritik ke pihak mana pun, katanya. Hanya tekad seorang atlet. Pemerintah, katanya lagi, terus memberi dukungan.

Saya tidak tahu mana yang lebih tepat. Siapa yang akhirnya membiayai keberangkatan ke Kraków pun tidak dijelaskan di berita-berita yang saya baca.

Tapi saya bisa menebak kenapa ia meluruskan. Atlet masih butuh pelatnas. Masih butuh tiket ke lomba berikutnya. Tidak ada gunanya bermusuhan dengan yang memegang anggaran.

Lalu datanglah Nagoya.

Emas Rita adalah emas keempat Indonesia di Asian Games kali ini. Pas dengan target yang dipasang Menteri Olahraga: empat emas.

Target dipasang di Jakarta. Yang memenuhinya anak Singaraja. Yang tiga bulan sebelumnya bilang berangkat ke Polandia tanpa dukungan.

Saya jadi berpikir soal dua per seribu detik itu.

Selisih setipis itu tidak dibuat di Nagoya. Ia dibuat jauh sebelumnya. Di ratusan kali naik dinding saat latihan. Di lomba-lomba seri dunia yang membuat atlet terbiasa beradu dengan yang tercepat. Di pelatih yang memelototi setiap pijakan kaki.

Semua itu perlu biaya. Dan semua itu tidak masuk berita.

Kita, penonton, datang di bagian akhir saja. Menonton enam detik. Bersorak. Membagikan videonya.

Pemerintah biasanya juga datang di bagian akhir. Menyambut di bandara. Menyerahkan bonus.

Itu tidak salah. Tapi di lomba yang ditentukan dua per seribu detik, dukungan yang telat sedikit saja bisa membuat emas jadi perak.

Rita sudah membuktikan sebaliknya. Kali ini.

Enam detik itu yang kita lihat. Yang sebelumnya, Rita yang tahu. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.