Kaos Australia
JUDULNYA keras. Ujungnya berbunyi causing chaos for Aussie tourists.
Itu judul Daily Mail Australia, terbit 14 Oktober.
Bukan cuma mereka. Kantor berita Amerika, Associated Press, menulis fuel crisis. Kantor berita Rusia, RIA Novosti, menulis soal warga Rusia yang disuruh mencari bensin ke utara pulau. Ground News, situs yang merangkum berita dunia, menghitung ada 37 media yang memuat kabar yang sama.
Bali masuk berita dunia lagi. Kali ini bukan karena pantai. Bukan karena turis berulah. Karena bensin.
Kata chaos itu saya baca dengan lidah Bali. Jadinya kaos.
Kaos singlet bergambar botol bir yang digantung di kios-kios Kuta. Yang sejak lama jadi oleh-oleh orang Australia.
Antreannya memang nyata. Di beberapa titik panjangnya sampai satu kilometer. Itu kata kantor berita Prancis, AFP.
Salah satu yang bicara kepada AFP adalah Ni Wayan Susiani. Umurnya 22 tahun. Ia bekerja di hotel. Ia antre sekitar lima jam untuk mengisi bensin.
Lima jam. Lebih dari separuh jam kerja sehari habis di pinggir jalan.
Susiani masuk berita. Tetapi tidak di depan. Yang di depan adalah Raisa Neagu, turis dari Moldova, umurnya 43 tahun. Ia tertahan berjam-jam menunggu bensin untuk skuternya. Kami terjebak tanpa bensin, tidak bisa ke mana-mana, katanya.
Saya tidak menyalahkan Raisa. Liburannya memang terganggu. Siapa pun akan kesal.
Saya juga tidak terlalu menyalahkan AFP. Kantor berita dunia menulis untuk pembaca dunia. Pembaca di Paris atau Sydney lebih mudah membayangkan dirinya sebagai Raisa daripada sebagai Susiani.
Begitulah berita luar negeri bekerja. Sudah lama. Dua peneliti Norwegia, Johan Galtung dan Mari Ruge, menulisnya tahun 1965. Makin dekat sebuah kabar dengan pembacanya, makin besar peluangnya jadi berita. Kabar dari negeri jauh lebih mudah dimuat kalau menyangkut warga dari negeri pembacanya sendiri.
Jadi wajar kalau media untuk pembaca Australia menghitung antrean di Bali dengan ukuran orang Australia. Kantor berita Rusia dengan ukuran orang Rusia.
Artikel Daily Mail itu contoh yang rapi. Yang dikutip pasangan ekspatriat asal Townsville yang pindah ke Bali sejak 2024, seorang turis lewat stasiun televisi Seven News, dan pembuat konten dari Sydney. Ada juga perbandingan harga: bensin di Bali bisa semurah 90 sen dolar Australia per liter, kurang dari separuh harga di Australia. Satu-satunya orang Bali yang bersuara adalah Gubernur Wayan Koster. Kutipan langsungnya pun diambil dari kantor berita Antara.
Media yang menghitung dengan ukuran Susiani sebenarnya ada. Media lokal. Tetapi suaranya tidak sampai ke Sydney. Padahal ia antre lima jam supaya bisa berangkat kerja. Melayani tamu. Bisa jadi tamu yang juga sedang kesal karena antre.
Tidak semua begitu. Laporan Associated Press ditulis dari Denpasar oleh wartawannya, Firdia Lisnawati. Di sana ada Made Marlianti, warga yang antre sekitar tujuh jam. Barangkali karena penulisnya dekat dengan antrean itu, warga lebih terlihat.
Yang membuat saya lama berpikir justru urutannya.
Antrean sudah terlihat sejak 7 Oktober. Di Denpasar. Di Kuta. Media lokal memberitakannya berkali-kali. Warga mengeluh. Pertamina bilang kapal sudah datang, kapal berikutnya segera menyusul.
Seminggu lewat. Antrean belum juga terurai.
Lalu kabarnya menyebar ke mana-mana. Tanggal 13 Oktober, gelombang pertama media asing ikut menulis. Koran Malaysia memuat laporan RIA Novosti. Ground News mulai merangkum.
Hari itu juga, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri datang ke Denpasar. Ia bertemu Gubernur Bali, lalu minta maaf kepada warga Bali. Penyebabnya ia sebut dengan terang: jangkar sebuah kapal tanker bermasalah. Bongkar muat yang dijadwalkan pukul 06.30 WITA hari Senin molor sampai pukul 22.00 WITA. Ia juga menyebut pembelian Pertalite yang tinggi sebagai salah satu faktor.
Esoknya AFP menulis dari Denpasar, lengkap dengan permintaan maaf itu.
Barangkali waktunya kebetulan. Bisa jadi pimpinan Pertamina datang karena desakan Gubernur, bukan karena koran asing. Saya tidak bisa membuktikan yang mana. Yang bisa saya catat hanya urutannya. Warga antre hampir seminggu. Antrean jadi berita di mana-mana, sampai ke luar negeri. Pada hari yang sama, maaf datang.
Kalau waktunya bukan kebetulan, saya kesal. Bukan kepada Daily Mail. Kepada kita sendiri.
Artinya yang ditakuti bukan antrean. Yang ditakuti judul. Antrean bisa ditunggu sampai kapal datang. Judul di media asing tidak bisa ditunggu, karena orang Australia bisa memilih tidak datang.
Bali memang hidup dari pariwisata. Saya tidak membantah itu. Citra pulau ini dijaga dengan serius, dan memang harus dijaga.
Hanya saja, yang antre di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) itu juga orang-orang yang menghidupi pariwisata. Sopir. Pemandu. Pekerja hotel seperti Susiani. Mereka sudah menunggu hampir seminggu sebelum ada penjelasan seterang itu.
Mungkin pejabat kita perlu berlangganan Daily Mail. Supaya tahu kapan harus minta maaf.
Ada satu hal yang tidak saya temukan di berita-berita itu.
Awal April lalu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese bicara langsung lewat televisi dan radio nasional. Pidato semacam itu jarang dilakukan sejak puncak pandemi. Krisis minyak akibat perang di Timur Tengah sedang menekan. Ia meminta warganya tidak membeli bahan bakar minyak (BBM) melebihi kebutuhan.
Waktu itu, menurut kantor berita Australia AAP, sejumlah SPBU di New South Wales kehabisan solar. Sebuah survei menemukan 41 persen orang Australia membatalkan atau mengurangi rencana libur Paskah.
Jadi orang Australia tahu rasanya. Enam bulan lalu. Di negeri sendiri.
Di sana, media mereka sendiri menyebutnya krisis BBM. Untuk Bali, Daily Mail menambahkan kata chaos.
Mungkin karena kata itu memang lebih enak dijual kalau terjadinya di pulau tropis.
Saya tidak mau terlalu jauh menuding media asing. Godaan yang sama ada di meja redaksi kita. Foto turis asing mendorong skuter di antrean SPBU lebih banyak diklik daripada foto ibu-ibu yang mendorong motor yang sama. Setidaknya begitu keyakinan yang lama beredar di ruang redaksi. Kita juga sering memilih foto yang pertama.
Bedanya, kita tinggal di sini. Kita ikut antre.
Di Kuta, kaos bergambar botol bir masih digantung di kios-kios. Kalau besok muncul kaos bertuliskan Bali Fuel Chaos, saya tidak akan heran. Pembelinya mungkin orang Australia. Penjualnya mungkin orang yang kemarin ikut antre berjam-jam. (*)
Menot Sukadana