Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Lupa Antre

Oleh Nyoman Sukadana • 18 Oktober 2026 • 03:49:00 WITA

Lupa Antre

GUBERNUR KOSTER mengaku ditelepon pengelola SPBU sampai pukul 3.30 pagi. Ia menceritakannya Jumat kemarin di Jimbaran, di sela pembukaan musyawarah daerah ASITA Bali. Malam itu ia ikut merespons bersama Dirut Pertamina, memastikan jatah tiap SPBU tersalur.

Saya percaya ia kurang tidur pekan ini. Banyak orang Bali juga begitu. Ada yang antre dari pagi buta. Ada yang dilaporkan sampai menginap di SPBU. Di Denpasar, Badung, Buleleng, Klungkung, Bangli, ceritanya kurang lebih sama.

Sekarang antrean mulai reda. Sejak Sabtu berlaku ganjil-genap untuk Pertalite: pelat ganjil mengisi di tanggal ganjil, pelat genap di tanggal genap. Pembeliannya juga dibatasi, tiga liter untuk motor dan 20 liter untuk mobil. Di SPBU Pesiapan, Tabanan, antrean yang sebelumnya berjam-jam sudah jauh lebih pendek. Di Buleleng, pada hari pertama, antrean masih panjang. Pertamina menyebutnya berangsur landai.

Saya kira, sebentar lagi kita akan lupa. Saya termasuk di dalamnya.

Saya lalu membuka arsip berita. Ternyata antrean BBM di Bali bukan barang baru.

Agustus 2022, di Klungkung, orang antre karena kabar. Beredar isu harga Pertalite akan naik. Seorang warga, I Wayan Sumendra, menyempatkan diri mengisi penuh tangki motornya di sela kegiatan upacara. Stok waktu itu ada. Yang tidak ada adalah kepastian. Awal September, kabar itu terbukti.

November tahun lalu terjadi lagi. Kali ini penyebabnya cuaca buruk di laut. Seorang warga Dalung berburu bensin sampai ke Kuta Selatan setelah dua SPBU yang ia datangi habis.

Lalu ada yang paling dekat. Tanggal 8 Oktober, tiga hari sebelum krisis yang besar ini, antrean sudah sempat mengular. Belakangan Pertamina menjelaskan, pasokan sebenarnya sudah tiba sehari sebelumnya. Itu tanda. Saya tidak menganggapnya tanda. Mungkin Anda juga tidak.

Setiap kali, penjelasannya berbeda. Tahun lalu cuaca. Kali ini Pertamina menyebut jangkar kapal tanker bermasalah saat hendak berlabuh di Manggis, sehingga bongkar muat yang mestinya pagi bergeser ke malam. Gubernur menyebut keterlambatan kapal. Warga dianggap panik.

Soal panik, saya tidak mau ikut menyalahkan. Orang yang dijanjikan normal pada Senin sore, lalu ternyata masih antre hari Rabu, wajar kalau mengisi penuh begitu ada kesempatan. Ia belajar dari pengalaman.

Saya tidak punya cara memeriksa jangkar kapal. Semua penjelasan itu bisa saja benar. Yang saya tahu, Bali ini pulau tanpa kilang. Sebagian besar pasokan BBM datang dengan kapal, dibongkar di Terminal Manggis di Karangasem atau di Sanggaran di Denpasar, lalu diangkut truk tangki ke SPBU. Kalau satu kapal telat sehari, satu pulau ikut menunggu. Sebagian besar dari kita naik motor, jadi yang menunggu itu hampir semua orang.

Ada satu penjelasan yang tidak sementara. Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri sendiri yang menyebutnya: selisih harga Pertalite dan Pertamax cukup lebar, sehingga orang tiba-tiba pindah ke Pertalite.

Ini gampang dimengerti. Harga Pertalite ditahan pemerintah, sedangkan Pertamax ikut harga minyak dunia. Kalau jaraknya makin jauh, orang yang biasa beli Pertamax akan pindah ke Pertalite. Saya juga akan pindah. Saya menduga, kiriman Pertalite ke SPBU belum sempat menyesuaikan diri dengan pembeli baru itu.

Kapal bisa saja tiba tepat waktu besok. Jangkar bisa diperbaiki. Selisih harga itu tetap ada. Jadi yang pulih sekarang baru antreannya. Hilangnya antrean belum membuktikan persoalan distribusinya sudah dibenahi. Hari Selasa, Koster bilang satu-dua hari mestinya sudah normal. Sejak kata normal itu terdengar, soal penyebab pelan-pelan tidak dikejar lagi.

Ada detail kecil di arsip. November tahun lalu, Ahad Rahedi, juru bicara Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, menjelaskan gangguan akibat cuaca buruk. Waktu itu ia berharap keadaan makin membaik menuju distribusi normal. Pada hari pertama ganjil-genap, ia pula yang mengumumkan bahwa antrean mulai menunjukkan perbaikan.

Saya tidak sedang menyindir Pak Ahad. Ia menjalankan tugasnya, dan mungkin ia termasuk orang yang paling capek pekan ini. Tapi kalau orang yang sama harus menyampaikan kabar yang mirip dua kali dalam waktu kurang dari setahun, mungkin yang perlu ditanya bukan juru bicaranya. Apalagi Bali tidak sendirian. Hingga 13 Oktober, Ombudsman mencatat kendala penyaluran BBM di 11 provinsi, termasuk Bali.

Di atas kertas, krisis ini nyaris tidak berbekas. BI Bali memperkirakan, kalau keterbatasan BBM berlangsung tiga sampai lima hari, dampaknya ke inflasi hanya sekitar 0,010 persen. Angka sekecil itu memang membuat orang gampang lupa. Bekasnya ada di tempat lain: pegawai yang bekerja dari rumah, anak yang sekolah daring tiga hari, jam-jam yang habis di depan pompa dan tidak masuk hitungan siapa pun.

Ganjil-genap dijadwalkan berakhir Senin. Aturan pengisian sesudahnya masih menunggu evaluasi. Sesudah itu baru kelihatan apakah antrean benar-benar selesai.

Saya jadi ingat Lubdaka, pemburu yang terjebak gelap di hutan lalu naik ke pohon bila supaya tidak diterkam binatang. Agar tidak tertidur, ia memetik daun satu per satu dan menjatuhkannya ke lingga di bawahnya. Malam itu kebetulan Siwaratri, dan karena terjaga semalam suntuk, ia kelak diselamatkan.

Orang sering mengingatnya sebagai cerita tentang tidak tidur. Padahal jagra di malam itu dipakai untuk mulat sarira, mengingat apa yang sudah dilakukan supaya tidak diulang.

Pekan ini kita sudah begadang. Pak Gubernur sampai jam setengah empat pagi.

Begitu tangki motor saya penuh lagi, saya pun berhenti bertanya. Apa yang sudah diperbaiki, siapa yang bertanggung jawab, kapan bisa terulang, pertanyaan-pertanyaan itu ikut hilang bersama antreannya. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.