Manager MU: Liga Guyonan, hingga Tudingan Kriminalisasi Sepakbola
DENPASAR, PODIUMNEWS.com-Manajer Madura United, Haruna Soemitro menilai beberapa keputusan PSSI di Liga 1 menjelang akhir musim dinilai kontroversial. Hal itu diungkapkannya saat sesi jumpa pers, usai pertandingan Madura United vs Bhayangkara FC dengan skor akhir 1-3.
Masyarakat luas bahkan bisa melihat langsung ekspresi kekecewaan manager Madura United ini, melalui tayangan youtube.com berjudul Pernyataan Mengejutkan Manager Madura, tentang Liga Gojek. Berdurasi 6 menit lebih 5 detik, Haruna Soemitro, meluapkan unek-uneknya dengan mengatakan adanya kriminalisasi terhadap Liga 1, serta mengistilahkan liga gojek adalah liga guyonan.
Sindiran pertama Haruna nampaknya diarahkan atas diberikannya tiga poin kepada Bhayangkara FC, menyusul kasus Mitra Kukar dan Mohamed Sissoko. Tak sungkan lagi, Haruna beranggapan bahwa kini poin bisa didapat dari luar lapangan hijau.
“Saya ingin sampaikan bahwa di sepak bola poin itu bisa didapatkan bukan dari lapangan. Poin bisa didapatkan dari atas meja dan tidak perlu lagi berjuang keras selama 90 menit di lapangan,” ucap Haruna.
Uniknya lagi, Haruna menyebut Liga 1 dengan istilah liga goyonan atau liga gojekan. “Namanya juga liga gojek. Kalau dalam Bahasa Jawa, gojek itu ya gojekan atau artinya guyonan,” sindir Haruna.
"Dan juga ada banyak kriminalisasi dalam liga guyonan ini. Di akhir musim, terjadi kriminalisasi dengan berbagai macam alat entah itu instrumen izin, intelijen, rekomendasi, bahkan yang tragis hari ini wasit asing," cetus Haruna Soemitro
Salah satu yang menjadi dasar Haruna adalah tiga kartu merah yang dikeluarkan wasit asing Seyed Vahitd Kazem asal Iran pada Madura United. Dimana tiga pemain yang di kartu merah tersebut antara lain Peter Odemwingie, Fandi Eko, dan Rizky Dwi.
Menurut Haruna, tiga kartu merah ini membuat pertandingan tidak kondusif lagi untuk Madura United. "Bagaimana bisa wasit memberikan tiga kartu merah yang membuat tidak kondusifnya pertandingan," tutur Haruna.
Haruna pun menyayangkan sikap wasit yang terlalu mudah mengeluarkan kartu kepada pemainnya."Semua orang bisa menilai, karena pertandingan ini disiarkan live di mana kita diambil dari belakang tanpa kartu, tapi kalau pemain kita melakukan tackle keras, bukan kasar. Dengan mudah kartu itu melayang," ungkapnya.
Sementara itu sehari sebelumnya, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI mempersilakan Mitra Kutai Kertanegara (Kukar) dan Bali United protes terkait keputusan yang dikeluarkan pada 5 November 2017. Namun, protes itu harus sesuai prosedur.
Seperti dilansir dari cnnindonesia.com, keputusan yang dikeluarkan jelang akhir kompetisi Liga 1 tersebut menimbulkan tanda tanya besar terhadap pihak Bali United. Pasalnya, peringkat dalam klasemen sementara Liga 1 menjadi berubah.
Bhayangkara FC merebut tempat Bali United lantaran menang head-to-head lawan tim berjulukan Serdadu Tridatu tersebut. Dwi mempersilahkan pihak Mitra Kukar maupun Bali United, untuk mengajukan protes melalui prosedur yang ada.
"Wajar saja ya (protes) itu upaya yang bagus dari Bali Unied, kami semua harus menghormatinya. Kalau Mitra Kukar mau banding ya kami hormati juga, tapi dia harus punya bukti-bukti," ucap Dwi.
"Saya sangat paham kalau keputusan ini membuat kondisi seperti ini. Ini sudah keputusan komdis bersama dan harus dihargai. Saya berharap mohon para pihak yang tak sepakat terhadap keputusan yang dijatuhi ini, protes dengan prosedur yang baku," ucapnya melanjutkan. (ISU/TIM)