Podiumnews.com / Khas /

Komit Lestarikan Tenun Bali, Ny Putri Koster: Motif Perlu Dipatenkan Agar Tak Dijilplak

Oleh Podiumnews • 08 Februari 2020 • 00:21:26 WITA

Komit Lestarikan Tenun Bali, Ny Putri Koster: Motif Perlu Dipatenkan Agar Tak Dijilplak
Ketua Harian Dekranas Ny. Tri Tito Karnavian bersama Ketua Umum Dekranasda Bali Ny. Putri Koster didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Pedagangan Provinsi Bali Ir. I Wayan Jarta, MM saat meninjau lokasi Pertenunan Endek Patra milik I Gusti Made Arsawan di Bale Timbang, Penatih dan Baliwa Songket Collections milik I Ketut Ardenan di Banjar Abian Nangka Kelod, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Sabtu (8/2). (Foto: Istimewa)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Pemerintah Provinsi Bali tengah mengintensifkan upaya pelestarian kain tenun ikat tradisional yang merupakan warisan adiluhung seperti songket dan endek. Hal itu ditunjukan melalui beberapa regulasi serta komitmen dan keseriusan Dekranasda Provinsi Bali dalam melestarikan kain tradisional Bali itu.

Dalam kesempatan kunjungan Ketua Harian Dekranas Ny. Tri Tito Karnavian di Bali, Ketua Umum Dekranasda Bali Ny. Putri Koster didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Pedagangan Provinsi Bali Ir. I Wayan Jarta, MM meninjau lokasi Perajin Endek dan Songket.

Lokasi yang dikunjungi yaitu Pertenunan Endek Patra milik I Gusti Made Arsawan di Bale Timbang, Penatih dan Baliwa Songket Collections milik I Ketut Ardenan di Banjar Abian Nangka Kelod, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Sabtu (8/2).

Ny Putri Koster mengungkapkan, dalam upaya pelestarian kain tenun ikat tradisional bukan tanpa tantangan. Persaingan pasar kain printing dan bordir sering kali mendapati prilaku peniru motif.

“Maraknya produksi kain printing dan bordir yang menduplikasi motif songket atau endek di pasaran. Jika ini dibiarkan, ini sangat merugikan perajin yang menciptakan motif songket atau endek karena hasil karya mereka dijiplak,” ungkap Istri Gubernur Bali itu.

Dilain sisi, Bunda Putri -Sapaan akrab Ny Putri Koster- menilai hadirnya kain bordir dan printing tak bisa dibendung. Menurutnya, hal itu juga sebagai salah satu bentuk inovasi dan kreatifitas masayarakat. Selain itu, hasil produknya juga memiliki peminat tersendiri di pasaran.

“Dengan alasan tekstur kain lebih ringan, masyarakat cenderung membeli kain bordir atau printing. Solusinya, mereka harus menciptakan motif sendiri yang berbeda dari motif endek atau songket. Untuk itu, motif songket perlu dipatenkan agar tak sembarangan dijilplak,” tegasnya.

Selain maraknya motif songket dan endek tiruan, usaha tenun ikat tradisional Bali juga dihadapkan pada kendala bahan baku benang serta makin surutnya minat tenaga kerja yang mau menekuni ketrampilan menenun.

Untuk ketersediaan benang, Putri Koster mencanangkan kampanye pemanfaatan pekarangan atau lahan kosong untuk penanaman pohon kapas atau budidaya ulat sutra. “Dekranasda akan bekolabirasi dengan TP PKK Bali untuk pemanfaatan lahan pekarangan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Dekranas Ny. Tri Tito Karnavian mengapresiasi langkah yang ditempuh Dekranasda Bali dalam pelestarian tenun ikat tradisional. Menurutnya, setiap daerah punya kain tenun khas tradisional yang menjadi kekayaan nusantara. Pihaknya mendukung upaya pelestarian yang dilaksanakan di tiap daerah, khususnya Bali.

Menyambung pernyataan Ny Putri Koster, pemilik Pertenunan Endek Patra sekaligus desiner tekstil I Gusti Made Arsawan menyebutkan, sebagian besar bahan baku benang yang digunakannya berasal dari luar Bali hingga impor.

“Bahan baku benang untuk pembuatan kain tenun sebagian besar masih didatangkan dari luar Bali, bahkan untuk jenis sutra masih diimpor dari Tiongkok,” ungkapnya.

Ia berharap ada gerakan hijau dengan memanfaatkan lahan non produktif untuk menanam kapas atau budidaya ulat sutra. Mulai dari tingkat desa yang didukung oleh penerapan teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Selanjutnya ia juga meminta kepada masyarakat untuk lebih menghargai originalitas tenun khas tradisional Bali. Dalam upaya membendung produksi kain bordir atau printing yang meniru motif songket atau endek.

“Kain tenun ikat tradisional jangan diproduksi massal, namun harus dibuat eksklusif,” pungkasnya.

Gusti Made Arsawan adalah seorang desainer tekstil yang tekenal dengan karya motif baru pada tenunan endek. Ia mampu membuat kain tradisional motif baru yang dinamai Tenun Patra. Motif endek patra digali dari ornamen nusantara. Proses pembuatan kain Tenun Patra tergolong lama karena dikerjakan dengan teknik yang rumit dan berbeda dengan pembuatan tenun umumnya.

Sementara I Ketut Ardenan, pemilik Baliwa Songket Collections dikenal dengan teknik lasem yang membuat kain songket menjadi lebih ringan dan mudah digunakan. Dengan terobosan ini, ia berharap masyarakat akan tertarik menggunakan kain songket yang selama ini tekesan berat dan kaku. (ISU/PDN)