Pembangunan Berlandaskan Fundamen Ekonomi
PEMBANGUNAN BERLANDASKAN FUNDAMEN EKONOMI
Oleh: Made Kembar Sri Budhi
(Guru Besar Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Unud, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi dan Ketua ISEI Denpasar Bali)
Podiumnews,Denpasar-Sampai dengan saat ini para perencana pembangunan masih saja disibukkan oleh upaya untuk meminimalisasi ketimpangan hasil pembangunan antar daerah, antar sektor dan atau antar kelompok masyarakat. Jika dikaji dan diidentifikasi banyak persoalan yang membawa kepada ketimpangan tersebut, mulai dari keterbatasan sumber yang ada sampai dengan keterbatasan akses yang dimiliki sektor atau kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Perbedaan yang dimiliki masing-masing sektor atau kelompok jika dikelola dengan baik dan diarahkan pada strategi yang tepat, maka harapan untuk memperkecil perbedaan hasil yang diperoleh dari perbedaan potensi yang dimiliki dapat diperkecil bukan sebaliknya jurang tersebut semakin melebar. Salah satu dosa dari para perencana pembangunan adalah alot dan larutnya diskusi yang berkutat dengan angka-angka pencapaian target tanpa memberikan perhatian yang besar terhadap modal dasar yang akan mendukung pencapaian target tersebut.
Jika suatu daerah berhasil dengan pembangunan pariwisata misalnya, daerah lainnya ikut-ikutan mengembangkan sektor pariwisata dengan tanpa mensinergikan dengan potensi dan kemampuan yang ada. Kondisi pemaksaan seperti ini sering menimbulkan adanya kompetisi yang tidak sehat seperti perang harga serta melacurkan keberadaan kualitas pariwisata yang semestinya dijaga dan dilestarikan. Dalam terminologi ekonomi ada istilah keterkaitan antar sektor. Kekuatan keterkaitan ini dapat distimulus melalui kebijakan pemerintah, peran pengusaha serta partisipasi masyarakat luas. Jika keterkaitan tersebut kuat dan tinggi, maka kemajuan suatu sektor akan mendorong dan menarik kemajuan sektor yang lainnya.
Kondisi ini dapat diciptakan melaui peran masing-masing pelaku ekonomi, maka harapan untuk mengurangi jurang perbedaan antar daerah, antar sektor semakin lama dengan berjalannya waktu akan menunjukkan tren yang semakin menyempit. Sektor utama harus bergandengan tangan dengan sektor pendukung dan sektor pelengkapnya melalui jalur partnership bukannya digadang-gadang dengan persaingan dan kompetisi. Partnership rohnya adalah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, sedangkan persaingan rohnya adalah menaklukkan, berarti ada yang hidup dan ada yang mati.
Untuk kasus di Bali barangkali sektor utama pariwisata mesti bergandengan tangan dengan sektor pendukung seperti pertanian dan industri kecil kerajinan. Daerah yang potensi pertanian mengembangkan pertanian, dan yang potensinya industri rumah tangga mengembangkan industri kecil kerajinan. Agar ini berjalan harmonis maka komistmen semua pelaku ekonomi harus linier. (*)