Search

Home / Liputan Khusus

Kala Black Death Hampir Memusnahkan Eropa

Editor   |    31 Maret 2020    |   00:58:53 WITA

Kala Black Death Hampir Memusnahkan Eropa
ILUSTRASI (ist)

Pes yang pernah mematikan di Jawa, jauh lebih dulu menyerang Eropa. Menyebar lewat kapal dagang dan migrasi tikus, membunuh 60 persen populasi Eropa.

Oleh: Nur Janti

BAGI anak muda kini, penyakit pes terdengar asing. Padahal, penyakit itu pernah mematikan di awal abad ke-20, terutama di Jawa.

Jauh sebelum pes menyerang Jawa, penyakit ini jadi ancaman di Eropa. Orang-orang menyebutnya dengan The Black Death. Nama yang merupakan terjemahan dari bahasa Latin atra mortem ini muncul dari gejala yang dialami penderita.

Kulit mereka menghitam, biasanya di bagian jari tangan, jari kaki, atau ujung hidung. Kehitaman itu muncul akibat adanya jaringan yang mati.

Ketika mewabah pada abad ke-14, Black Death membunuh 50 juta orang. Dengan kata lain, mengurangi 60 persen populasi Eropa.

Pes disebabkan oleh bakteri yersinia pestis yang terdapat dalam kutu tikus, khususnya tikus hitam yang suka tinggal di dekat manusia. Sebagian kalangan berpendapat bahwa pes di Eropa terbawa masuk lewat perdagangan di jalur sutra.

Pendapat ini dibantah sejarawan Norwegia Ole Jorgen Benedictow dalam bukunya The Black Death, 1346-1353. Menurutnya, pes tidak masuk lewat Tiongkok namun muncul dari dekat Laut Kaspia, selatan Rusia (kini masuk wilayah Ukraina), pada musim semi 1346.

Pes kemudian menyebar ke barat lewat migrasi tikus-tikus coklat Rusia yang punya daya tahan tubuh lebih kuat dibanding tikus hitam. Namun, kutu-kutu di tikus kemudian juga menghinggapi tikus hitam di tempat migrasinya.

Tikus yang terkena pes umumnya bertahan sepuluh sampai empat belas hari, lalu mati. Kematian massal tikus membuat gerombolan kutu bingung mencari tempat hinggap. Setelah tiga hari puasa, kutu-kutu kelaparan itu pun bersarang di tubuh manusia sebagai pengganti tikus.

Persebaran pes juga terjadi lewat kapal dagang Italia. Tikus-tikus berkutu ikut naik kapal, menyusup di antara karung dan keranjang barang. Dalam perjalanan laut itu, banyak tikus terinfeksi pes yang mati.

Namun, kutu-kutu tetap bertahan hidup. Para kutu lalu mencari tikus baru begitu mendarat. Kutu tikus punya daya tahan hidup lebih tinggi dibanding kutu rambut. Mereka mampu beradaptasi di sarang barunya. Mulanya, kutu tikus akan menempel di baju, lalu menular dari satu orang ke orang lain.

Kapal-kapal dagang Italia itu mengangkut banyak muatan dari beberapa kota, seperti Venice, Genoa, London, dan Bruges. Di London dan Bruges, perdagangan Italia terhubung dengan Jerman dan Norwegia. Dari jalur perdagangan inilah pes menyebar ke segala penjuru Eropa.

Di Inggris, wabah pes meluas sampai ke daerah selatan London, kemudian berlanjut hingga ke Eropa Utara. Pes sampai di Oslo pada musim gugur 1348 lewat kapal dagang Inggris yang berlayar ke arah  timur dan tenggara.

Black Death di Norwegia masuk lebih cepat dibanding ke Jerman dan Belanda.
Namun, lantaran tersebar melalui kutu tikus, pes di Eropa hanya muncul ketika suhu menghangat dan menghilang ketika musim salju.

Di Norwegia misalnya, sepanjang 1349 hingga 1654 tidak pernah ada wabah pes ketika musim dingin. Biasanya, epidemi merebak lagi begitu musim semi.

Tingginya angka kematian akibat pes amat mengagetkan di Eropa. Mereka menganggap Black Death adalah kutukan Tuhan yang menimpa para pendosa.

“Tapi ketika ada seorang beriman yang mati terkena black death, orang-orang jadi yakin kalau penyakit ini bukan dari kutukan Tuhan tapi dari udara busuk,” kata Dosen IAIN Surakarta Martina Safitry, yang pernah meneliti penyakit pes untuk tesisnya, kepada Historia.

Kendati memakan banyak korban jiwa, banyak orang berhasil bertahan dari wabah pes. Mereka yang bertahan ini membentuk imun tubuh yang kuat sehingga lebih sulit terjangkiti. Kondisi ini bertahan cukup lama.

Profesor WJ Simpson dalam A Treatise On Plague menjelaskan bahwa di Eropa Barat selama abad ke-18 dan 19 wabah pes sudah menurun, bahkan jarang.  

Epidemi ini tercatat baik dalam sejarah kesehatan Eropa dan menigggalkan trauma mendalam. Alhasil, ketika pes masuk ke Jawa pada 1910, orang-orang Belanda panik. Kebijakan yang sangat intensif pun dibuat untuk menanganinya.

“Walaupun kita sebelumnya pernah terserang penyakit cacar, tapi cara-cara penanganannya tidak segencar penyakit pes yang tidak hanya lewat pemberian vaksin tapi juga isolasi dan bumi hangus desa,” kata Martina.

Sumber: HISTORIA.ID