Dewa Indra: Penangan Pandemi di Bali Gunakan Dua Cara Pandang
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Penanganan Covid-19 yang dilaksanakan Pemprov Bali menggunakan dua cara pandang. Pertama menurut pemahaman kearifal lokal masyarakat Bali.
Demikian kata Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra saat sebagai narasumber Forum Group Discussion (FGD) Kajian Strategis Staf Ahli Kepala Satuan Angkatan Darat (Sahli Kasad) secara virtual di Gedung Gajah, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (3/12).
Masyararakat Bali, kata dia, mempercayai pandemi sebagai wabah penyakit yang bisa terjadi kapan saja disebabkan oleh hewan hingga disebut gering agung.
“Selain itu juga kepercayaan adanya ketidakseimbangan alam beserta isinya yang disikapi dengan mengembalikan keharmonisan alam melalui niskala dengan menggelar upacara Bhuta Yadnya (kurban suci) dan Dewa Yadnya (persembahan suci kehadapan TYME),” ujarnya.
Untuk cara pandang kedua, lanjut dia, dari sisi ilmu pengetahuan, Pemprov Bali melaksanakan berbagai tindakan berbasis data sesuai peraturan berlaku. Di antaranya menerbitkan berbagai kebijakan mendukung pencegahan dan penanganan.
Misalnya, sebut dia, pembentukan satuan tugas, penetapan status siaga darurat bencana, pelaksanaan proses belajar-mengajar dan administrasi pemerintahan dari rumah.
“Pemprov Bali juga melibatkan desa adat. Karena desa adat adalah benteng terakhir di Bali untuk menjaga adat budaya, termasuk dalam menghadapi pandemi. Desa adat adalah elemen terpenting bagi Bali,” jelasnya.
Pelibatan desa adat ini menurut dia, sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali. Awalnya Perda ini bertujuan memperkuat keberadaan desa adat dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya yang sangat ditaati masyarakat Bali.
“Desa adat juga diberikan dukungan anggaran dari kas daerah mencapai Rp 350 juta per desa adat semenjak awal terjadinya pandemi hingga saat ini,” sebutnya.
Sementara itu, Korsahli Kasad Irjen TNI Ali Amda Nugrah berharap, melalui FGD terbangun komunikasi yang efektif dan efisien sebagai pelengkap data kajian strategis sebagai bahan analisis kajian strategis.
Hal ini imbuh dia, guna menjadi masukan untuk diformulasikan sebagai saran strategis kepada atasan dalam menghadapi ancaman-ancaman megara khususnya CBRNE THREATS.
Dalam FGD ini juga mengundang Direktur Bina Perencanaan Tata Ruang Daerah Wilayah II Ditjen Tata Ruang Kementerian ATR/BPN RI Eko Budi Kurniawan sebagai narasumber. (BAS/PDN)