Pemberdayaan Perempuan sebagai Penggerak Pemulihan Ekonomi
JAKARTA, PODIUMNEWS.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengungkapkan pentingnya mendorong peran perempuan sebagai motor penggerak pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19 baik di tingkat nasional maupun global.
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menyusun dan mengimplementasikan program serta kebijakan yang responsif gender, dan meningkatkan kepemimpinan perempuan, yaitu melalui pelatihan peningkatan literasi usaha digital, akses permodalan, dan pemasaran.
"Era perkembangan teknologi digital 4.0 saat ini, telah memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi digital baik di Indonesia maupun dunia. Hal ini turut menyebabkan terjadinya otomatisasi (pergantian tenaga manusia dengan tenaga mesin secara otomatis) yang berdampak bagi para pekerja yang memiliki keterampilan rendah, terutama perempuan," ungkap Menteri PPPA yang diperoleh Kamis (30/9).
Menteri Bintang menambahkan, secara umum perempuan memiliki lebih sedikit kesempatan dalam berpartisipasi di bidang ekonomi dibandingkan laki-laki. Belum tercapainya kesetaraan gender ini, turut menyebabkan banyaknya hambatan yang membatasi partisipasi dan kepemimpinan perempuan khususnya dalam angkatan kerja. Adapun beberapa hambatan yang ada yaitu hambatan sosial, hukum, budaya, dan kelembagaan, termasuk beban ganda pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga; terjadinya stereotip gender di tempat kerja; kurangnya panutan peran perempuan; rendahnya partisipasi dalam science, technology, engineering and mathematics (STEM); dan kurangnya peluang jaringan.
Disamping itu, kebutuhan khusus perempuan seperti cuti melahirkan, tidak boleh dianggap sebagai beban dalam proses perekrutan maupun proses promosi kenaikan jabatan perempuan. "Menyadari permasalahan ini, terutama di tengah pesatnya perubahan dalam perkembangan bisnis di era digital, maka sangat penting membuat program dalam mendukung sistem informasi yang proaktif dan memperluas model kepemimpinan transformatif bagi perempuan," tambahnya.
Menteri PPPA mengungkapkan, Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi kesenjangan gender melalui lima program prioritas Kemen PPPA, yaitu meningkatkan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan yang berperspektif gender; meningkatkan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan dan pengasuhan anak; menurunkan kekerasan terhadap perempuan dan anak; menurunkan pekerja anak; dan mencegah perkawinan anak.
Lebih lanjut, ia menegaskan untuk mencapai hal tersebut, seluruh pihak harus bersinergi menerapkan prinsip pengarusutamaan gender dalam proses usaha. Selain itu, membuka akses terkait informasi pekerjaan dan mengoptimalkan dukungan jejaring komunitas kepada perempuan dalam menjalankan usaha. Program pemberdayaan juga perlu difokuskan untuk membiasakan perempuan membangun jejaring sosial dan peluang kerja yang kuat.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA, Lenny N. Rosalin mengungkapkan beberapa strategi Kemen PPPA dalam menjalankan program prioritas terkait pemberdayaan ekonomi perempuan, di antaranya yaitu menjadikan gender sebagai isu sentral dalam Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) dan menjalin kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait seperti kementerian/lembaga, sektor pembangunan, sektor swasta, maupun lembaga masyarakat untuk memberikan pelatihan kewirausahaan yang responsif gender dan pendampingan usaha.
Adapun strategi lainnya yaitu memberikan pelatihan kepemimpinan bagi perempuan di pedesaan bermitra bersama pemerintah daerah dan lembaga masyarakat setempat, memberikan dukungan kepada UMKM perempuan untuk mengatasi pandemi global saat ini, dan mendukung mereka memperoleh akses kredit dengan suku bunga rendah, melaksanakan program inkubasi (bantuan usaha) Sispreneurs di 22 provinsi dengan menargetkan 1000 perempuan UMKM agar dapat meningkatkan usahanya.
"Selain itu, juga dengan mengembangkan program pelatihan literasi usaha digital bersinergi dengan Kominfo yang ditargetkan bagi 100 pengusaha perempuan inspiratif untuk memajukan usaha dan memperkuat pasar mereka dan bagi 22.000 perempuan pengusaha digital guna memastikan kesiapan mereka di industri 4.0," imbuhnya. (COK/RIS/PDN)