Podiumnews.com / Aktual / News

Ketum Wuamesu Ajak Warga Ende Lio di Bali Mendata Diri Lewat Sensus Online

Oleh Podiumnews • 05 November 2021 • 20:13:52 WITA

Ketum Wuamesu Ajak Warga Ende Lio di Bali Mendata Diri Lewat Sensus Online
Ketua Umum Wuamesu Ende Lio Bali, Valerian Libert Wangge. (Foto: Istimewa)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Ketua Umum IKB Wuamesu Ende Lio Daerah Bali mengajak warga Bali asal Kabupaten Ende, NTT untuk melakukan pendataan diri melalui program sensus online anggota di kanal www.wuamesudewata.com/wuamesudta/sensus/login/.

“Saya mengajak warga asal Kabupaten Ende di Bali untuk mendata diri dan keluarganya untuk menjadi anggota. Prosesnya sangat mudah, tinggal klik link wuamesudewata.com, passwordnya tersedia disana, lalu mengisi formulir yang ada,” ajak Ketua Umum Wuamesu Ende Lio Bali, Valerian Libert Wangge, Jumat (5/11) di Denpasar.  

Dikatakan Faris sapaanya, IKB Wuamesu Bali merupakan paguyuban resmi yang menaungi warga asal Kabupaten Ende di Provinsi Bali yang eksist sejak tahun 1981. Wuamesu Bali bernaung dalam rumah besar IKB Flobamora (NTT) Bali, anggota Wuamesu, umumnya tersimpul di Induk, Unit-Unit dan  Komunitas. 

“Warga kami ada yang terdata di Wuamesu Induk, juga tersebar di basis unit Kaletaumbale, Tukesani, Pamaimu, Kawe, Sa'ate, Anbass, RAE dan PES. Juga tersimpul dalam komunitas warga Jopu, Anakonde, Ng'gela, Detusoko, Moni, Flores Sabu Ende, Ndona Timur dan Kunuaku,” paparnya pria yang akrab disapa Faris itu.

Populasi terbanyak anggota yang ada di Bali berada di wilayah Kota Denpasar dan Badung, namun ada juga yang menetap di Kabupaten Jembrana, Buleleng, Tabanan, Gianyar, Klungkung dan Bangli.

“Untuk memastikan jumlah populasi ini, program sensus online diluncurkan, sehingga memudahkan setiap warga asal Kabupaten Ende di Bali untuk mendata diri melalui ponsel masing-masing,” ungkapnya. 

Program pendataan anggota adalah aspirasi Mubes Wuamesu Bali 2020 yang bertujuan untuk memastikan jumlah data anggota guna mendekatkan pelayanan,

“Visi praktis kepengurusan periode ini adalah terwujudnya Wuamesu Bali yang Solid, Terdata dan Tertata. Harapan kami dengan adanya sistem pendataan online ini dapat menjadi solusi praktis. Tim Sensus terus melakukan verifikasi dan validasi untuk setiap data yang masuk,” beber Fars.

Ditambahkan Faris, soliditas anggota sangat penting ditengah potensi polarisasi yang menjadi efek buruk dari menjamurnya medsos. Efek medsos telah menghadirkan fenomena filter buble dan echo chambers efect. Filter buble effect muncul sebagai akibat dari pola algoritma medsos yang hanya menampilkan kabar berita yang menjadi kecendrungan setiap pengguna,

“Efek ini akan menumpulkan wawasan, serta meniadakan perspektif baru dan berbeda. Filter Buble Effect dalam jangka panjang akan menghantarkan para pengguna kepada Echo Chamber Effect,” Ujar mantan Ketua Presidium PMKRI Denpasar ini.

Dijelaskan Faris, echo chambers effect adalah efek gema yang membuat semua orang hanya percaya pada satu perspektif saja, apalagi ditambah dengan bumbu egoisme individu dan kelompok tertentu yang cenderung meniadakan individu atau kelompok lain diluar dirinya.

Ajakan untuk solid tidak berarti meniadakan perbedaan, namun memandang perbedaan sebagai aset terbaik untuk saling belajar dan melengkapi perbedaan itu.

“Tidak boleh karena berbeda lalu menganggap kita paling benar, dan yang lain salah, kemudian menutup diri dari kritik dan perspektif baru. Kritik dan autokritik adalah vitamin asalkan disalurkan dengan cara yang benar dan bermartabat, bukan dengan cara fitnah yang mengarah pada pembunuhan karakter. Ini berbahaya dan mengarah pada delik pidana”, tambah Wasek Pokdatkamtibmas Bhayangkara Provinsi Bali ini.

Adanya basis data yang termuktakhir akan membantu sesama warga untuk dapat saling mengakses. Sudah tidak eranya lagi meremehkan data. Kejelasan data jumlah anggota akan memperjelas siapa anggota dan siapa yang bukan anggota.

“Seringkali orang datang ke kami dan mengaku anggota, ketika terkena masalah, namun dalam keadaan normal memilih diam dan tidak mau tahu dengan kebersamaan.”

Sosok yang berprofesi sebagai advokat ini menegaskan, Wuamesu Bali sedang on the track menuju organisasi modern dengan sistem tata kelola yang transparan dan akuntabel.

“Dimulai dari managemen kerja pengurus yang jelas, ditunjang dengan pemilahan program yang terukur hingga transparansi dalam tata kelola keuangan organisasi,” katanya.

Sejak dipercayakan memimpin tanggal 12 Desember 2020 lalu, saya mengajak semua pengurus untuk menerapkan prinsip kerja dengan indikator program dan kerja yang bisa diukur dan dinilai bersama. Sehingga ada banyak giat kebersamaan yang disiarkan secara live virtual melalui kanal Youtube. Ini agar semua anggota bisa mengakses informasi secara langsung dan menilai kinerja pengurus secara terbuka.

Sensus Online Anggota Wuamesu Bali akan ditutup tanggal 30 November 2021, “Setelah ditutup, tim akan melakukan evaluasi lalu menyampaikan laporan resmi pada tanggal 12 Desember 2021, tepat setahun digelarnya Mubes 2020.”

Valerian Libert Wangge berharap agar memasuki tahun 2022 segala hal yang berkaitan dengan kesimpangsiuran jumlah populasi anggota Wuamesu Bali sudah terurai,

“Tahun 2022 adalah tahun kebangkitan setelah lebih 2 tahun semua kita terkena badai pandemi Covid19. Dengan adanya basis data anggota yang jelas, maka program-program untuk peningkatan pelayan sosial dan kesejahteraan ekonomi warga akan lebih mudah untuk dikerjakan,” tutup Valerian Libert Wangge. (ISU/PDN)