Search

Home / Opini

Bebal

Redaktur   |    27 Januari 2022    |   19:58:11 WITA

Bebal
Kang Marbawi, Kasubdit Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Nonformal Informal BPIP. (Foto: doc.bpip/Istimewa)

Bengis! Tragis! Tak punya nurani kemanusiaan! Hanya jiwa binatangisme berwujud manusia, yang bergerombol seperti Hyena memangsa buruannya yang tak berdaya. Tak kenal ampun dan belas kasihan, apalagi peri kemanusiaan. Hanya nafsu dan keberingasan binatangisme. Itulah gambaran sekelompok orang yang mengeroyok WH (89) hingga tilar dunia, di Cakung Jakarta Timur 25 Januari 2022 lalu. Dan WH bukan satu-satunya korban kebengisan tak bernurani. WH (89) adalah salah satu korban kebebalan sekelompok orang. Yang tak memandang sesama adalah manusia yang harus dimanusiakan dan dihargai.

Sekelompok orang atau individu yang bebal, tak jalan pikiran dan nuraninya. Seperti macetnya engsel pintu karena berurat karat. Macet Nurani dan kemanusiaannya! Karat nafsu binatangisme.

Seperti kerbau dicocok hidung, virus bebal ini mendorong orang berebut bengis dan keji. Sebab kerbau tak berotak dan tak berpikir. Kebebalan yang menulari orang-orang yang bergerombol dekat dengan si Bebal nurani dan pikiran. Koar-koar provokasi menjadi senjata utama. Agar orang-orang tercemari kebebalan nurani dan pikiran. Seolah siapa yang paling berani adalah aktor laga. Kebebalan melahirkan hilangnya kedaulatan pribadi yang melebur seperti gula dan kopi di air panas menuju kolektifa yang destruktif.

Kebebalan melahirkan bentuk-bentuk abnormal, temperamen, amok, mania dan paranoid. Diselingi depresi akut. Kebebalan nurani dan pikiran yang menular menjadi patologi sosial. Kebebalan juga dilahirkan dari watak budaya orang-orang yang merasa atau memang termarginalkan. Atau juga merasa paling berkuasa atau paling kuat. Atau merasa “paling” lainnya. Orang-orang bebal adalah orang-orang yang mengalami sindrom marginal, terombang-ambing dan tak bisa menentukan pilihan.

Kebebalan adalah impotensi perasaan yang disebabkan ketakmampuan mengatasi lingkungan baru. Sehingga dia termarginalisasi dalam peta realitas sosial dan perubahannya yang berkembang pesat. Ketakmampuan merespon perubahan tersebut melahirkan revolusi identitas marginal. Terpuruk dipojokan realitas dan mencari identitas baru dengan kebebalan nurani dan impotensi perasaan. Kebebalan yang merubah sifat lunak, berevolusi dalam hitungan detik menjadi keberingasan dan hati mengeras bagai batu. Membentuk simbolik kekerasan dan konflik yang tak ternegosiasikan.

Orang-orang yang termarginalkan secara ekonomi dan politik, dihadapkan pada perubahan realitas sosial, akan mengalami keterkejutan budaya (culture shock). Seperti seonggok kayu atau sampah di tengah arus banjir provokasi. Tak berdaya menggunakan nurani dan pikirannya.

Provokasi yang datang dari berbagai arah; media sosial, tokoh, individu atau kelompok dalam berbagai bentuknya, Tak diimbangi kemampuan masyarakat untuk menyeleksi dan melakukan kontrol terpaan informasi. Provokasi yang melahirkan situasi kebingungan, membuat ruang kosong dipikiran massa, ketidakpastian, mendorong kebencian dan ancaman semu dan bahkan memroduksi kekacauan palsu. Provokasi itu mengendalikan kebebalan, kekacauan, kebrutalan dan kebringasan masal, menjadi bagian dari industri besar pikiran (great mind industry). Kebebalan juga mendorong terciptanya masyarakat yang mayoritas yang diam (the silent majorities). Coba tanya saja kepada Jean Baudrillard dalam In The Shadow of The Silent Majorities. Sebagai contoh kemacetan lalu-lintas bukan karena tak tahunya menyikapi rambu-rambu lalu-lintas. Tetapi hal itu cerminan sikap yang acuh, nir rasa terhadap adanya kepentingan orang lain.

Kebebalan nurani, pikiran, atau sindrom marginal bisa diasah melalui kearifan dan kebudayaan lokal.  Kearifan lokal adalah bagian dari pranata budaya yang menjadi pedoman tata laku, dan laku kelakuan sekaligus katalisator dari keterasingan budaya baru. Kearifan lokal adalah jalan ketiga untuk menguatkan ideologi negara dan mengikis kebebalan.

Entah adakah hubungan binatangisme yang berasal dari kebebalan dengan novel karya George Orwell “Animal Farm” menjadi Binatangisme”. Orang Inggris bernama asli Eric Arthur Blair ini,  menceritakan pemberontakan para binatang di sebuah peternakan terhadap kesewenangan manusia. Dan dengan lincahnya, seperti lincahnya pembalap meliuk-liuk di track balapan, Mahbub Junaedi menerjemahkan “Animal Farm”, seolah itu adalah novelnya sendiri.

Oleh: Kang Marbawi, Jakarta, (27/01/2022)

(COK/RIS/PDN)


Baca juga: Pro Kontra Pengaturan Euthanasia di Indonesia