Search

Home / Opini

Superhero

Redaktur   |    10 Februari 2022    |   18:07:10 WITA

Superhero
Kang Marbawi, Kasubdit Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Nonformal Informal BPIP. (Foto: doc.bpip/Istimewa)

“Film adalah medium propaganda yang sangat efektif, tidak saja untuk hiburan, pendidikan, tetapi juga untuk propaganda ideologi”

Siapa yang tak kenal dengan Hulk? Manusia yang bisa bertiwikrama menjadi raksasa, berkulit hijau dengan kekuatan perkasa, kebal lagi. Atau X-Men, sosok yang bisa mengeluarkan pedang pendek tajam dari buku-buku jarinya, bisa mereproduksi kembali sel-sel tubuhnya yang rusak alias menyembuhkan diri sendiri atau salutogenese. Atau simanusia laba-laba Spiderman. Atau yang agak lawas, Rambo, jagoan perang Vietnam -yang memorak-morandakan lusinan tentara Vietkong. Rambo menang hanya dalam film. Atau simanusia celana dalam merah tapi dipakai di luar alias Superman. Atau karakter-karakter pahlawan super lainnya (superhero); Fantastic Four, Daredevil, Silver Surfer, Iron Man, Bat Man dan paguyuban pahlawan super di film The Avengers, Guardians of the Galaxy atau The Expendables. Tak masuk hitungan Gatotkaca, Si Buta dari Gua Hantu, Si Pitung atau tokoh pahlawan made in lokal Indonesia lainnya.

Ya, tokoh-tokoh superhero tersebut, diciptakan oleh tim kreatif di Marvel Entertainment Group (MEG). Awalnya MEG, yang sejak akhir 1970-an hingga saat ini, memroduksi karakter komik superhero dan kemudian dihijrahkan dalam film. Film-film superhero besutan Marvel Studios (metamorphosis baru MEG) rata-rata berhasil menjadi box office, dan meraup keuntungan fantastis.

Sebut saja Spiderman 3, seri terakhir yang dibintangi Tobey Maguire memberi kocek Rp. 12,8 triliun. Captain Marvel berlaba Rp. 16,2 triliun, Avengers Endgame meraup untung Rp. 39 triliun. Tidak hanya Marvel Studio, ada banyak studio film di dunia yang memroduksi pahlawan super. Studio-studio film tersebut, tidak hanya meraup untung besar dari produksi dan ekspor epos pahlawan supernya, namun juga mereka menyusupkan ideologi. Hollywood menjadi basecamp-nya.

Tokoh superhero yang diciptakan oleh Hollywood secara keseluruhan merepresentasikan simbol kepahlawanan. Sakti, jagoan, bisa terbang, senjata canggih atau kekuatan luar biasa, menjadi karakter para tokoh superheronya. Dengan pesan yang kuat, aktual, interaktif, dan mampu memahami apa yang dirasakan penonton atau realitas sosial. Superhero dalam imaginasi kreatif Marvel Studios, menunjukkan ketokohannya dalam performance yang glamour,- sesuatu yang disukai imaginasi masyarakat marginal. Seolah superhero itu mewakili hasrat terdalamnya.  Hollywood khususnya, mampu mengekspor ideologi tersebut melalui epos pahlawan supernya dan menjadi legenda di dunia.

Dalam level ideologi, film-film yang diproduksi oleh Hollywood membawa ideologi feminisme, kapitalisme, liberalisme, demokrasi, kemerdekaan, kesetaraan, kerusakan lingkungan, hak asasi manusia, nasionalisme dan patriotisme serta ideologi lainnya.  Dan dunia terbius dengan sosok pahlawan dengan ukuran-ukurannya yang dibuat Marvel.

Walau ukuran superhero glamour Marvel, menyempitkan karakter kepahlawanan universale. Ukuran kepahlawanan dalam kaidah kearifan lokal kita adalah melindungi yang lemah, menjaga persaudaraan antar manusia, kebermanfaatan dan kebaikan laku lampah bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Konsisten dan komitmen memerjuangkan kemanusiaan dan keadilan serta taat konstitusi. Karakter sederhana, tegar jiwa dalam memerjuangkan kemanusiaan. Karakter yang mampu mampu mengatasi jurang pemisah dan mendobrak tembok penyekat antar sesama manusia. Karakter yang natural. Ukuran itu, tak dianggap sifat kepahlawanan ala Marvel yang serba hebat dan super.

Marvel Studios, dan sebangsanya mampu mewujudkan ideologi sebagai sesuatu yang nyata dan dipahami dengan bahasa masyarakat awam. Dalam konteks kreatifitas, industri film menjadi alat yang efektif untuk menginterpretasikan gagasan ideologi yang utopi menjadi sesuatu yang nyata. Sebab ideologi itu praksis, bukan utopi. Ideologi itu atman -jiwa, dari laku lampah untuk membangun politik -baca kebijakan, yang memerjuangkan keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat. Karena ideologi adalah praksis, maka ia menjadi moral publik dalam politik dan kebijakan.

Ideologi itu jalan hidup, seperti petunjuk arah, agar tak salah arah dan tetapnya tujuan. Ideologi adalah jalan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Ideologi adalah fighting spirit menghadapi onak duri yang merintangi jalan. Menuju cita-cita mewujudkan masyarakat yang adil dan Makmur. Pancasila membutuhkan interpretasi kreatif dan praksis agar tak menjadi utopi. Interpretasi Pancasila juga butuh daya imaginative seperti Marvel Studios dan segolongannya.

Oleh: Kang Marbawi.

 (COK/RIS/PDN)

 


Baca juga: Pro Kontra Pengaturan Euthanasia di Indonesia