Podiumnews.com / Aktual / Ekonomi

Koster: Sudah Saatnya Bali Tak Lagi Bergantung Pada Satu Sektor Pariwisata

Oleh Podiumnews • 17 Februari 2022 • 20:38:34 WITA

Koster: Sudah Saatnya Bali Tak Lagi Bergantung Pada Satu Sektor Pariwisata
Gubernur Bali Wayan Koster, saat membuka Foku Group Discussion (FGD) "Bangkitkan Baliku" yang diselesanggarakan oleh Universitas Trisakti, Universitas Esa Unggul dan Universitas Hindu Indonesia melalui virtual, Kamis (17/2) pagi. (Foto: isu/pdn)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Sektor pertanian dalam arti luas, sektor kelautan/perikanan, dan sektor industri kerajinan rakyat di Bali memiliki potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan dan dikelola secara optimal. Ke depan, sektor ini perlu diprioritaskan dan dikelola secara optimal agar mampu meningkatkan kontribusinya terhadap PDRB Bali.

Demikian dikatakan Gubernur Bali, Wayan Koster saat membuka Foku Group Discussion (FGD) "Bangkitkan Baliku" yang diselesanggarakan oleh Universitas Trisakti, Universitas Esa Unggul dan Universitas Hindu Indonesia melalui virtual, Kamis (17/2) pagi.

“Sektor pariwisata sangat rentan terhadap berbagai gejolak yang berkaitan dengan keamanan, bencana alam, dan bencana bukan alam. Sudah waktunya Bali mengembangkan perekonomian yang tidak lagi menggantungkan pada satu kantung sektor pariwisata," Kata Gubernur.

Untuk mewujudkan hal tersebut, berdasarkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Pemprov telah menyiapkan konsep Transformasi Ekonomi ‘Kerthi Bali’ guna menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali untuk terwujudnya Bali berdikari dalam bidang ekonomi.

Gubernur Koster memaparkan, perekonomian Bali saat ini didominasi oleh Sektor Pariwisata (56,78%), Sektor Pertanian (9,24%), Sektor Kelautan/Perikanan(4,21%), Sektor Industri(14.63%), dan Sektor lain (15,14%).

Menurutnya, kontribusi sektor di luar pariwisata relatif kecil, bahkan berpotensi terus mengalami penurunan. Perekonomian Bali di satu pihak, sangat tergantung dan sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal. Di pihak lain, pertumbuhan kapasitas ekonomi Bali kurang berkembang secara optimal.

"Sektor pertanian, sektor kelautan/perikanan dan sektor industri kerajinan, belum diberdayakan secara optimal dan bahkan cenderung bergeser atau beralih ke sektor pariwisata," jelasnya.

Dikatakan Gubernur, Bali harus mengambil pilihan mengembangkan perekonomian yang bersumber dari keorisinilan dan keunggulan sumber daya lokal meliputi Alam, Krama, dan Kebudayaan Bali sebagai sumber daya potensial pada sektor pertanian, kelautan/perikanan, dan industri kerajinan rakyat.

Selanjutnya, pengembangan perekonomian Bali hendaknya mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan digital sesuai dengan potensi Krama Bali secara efektif, efisien, produktif, serta bernilai tambah.

"Sektor pariwisata diposisikan sebagai sumber tambahan (bonus/benefit) dalam perekonomian Bali. Sektor pariwisata harus berperan sebagai penarik (lokomotif) untuk bergeraknya sektor pertanian, kelautan/perikanan, dan industri kerajinan rakyat sehingga secara nyata memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan Krama Bali,” tenganya.

“Diperlukan arah kebijakan, pendekatan, dan prinsip untuk menata serta mengembangkan perekonomian Bali dengan struktur dan fundamental yang berbasis pada sumber daya lokal Bali, lebih berkualitas, bernilai tambah, tangguh, berdaya saing, ramah lingkungan, dan berkelanjutan," tambahnya.

Sementara pembangunan pertanian dalam arti luas, termasuk perikanan dan sumber daya kelautan perlu ditata dan dikelola dengan baik dari hulu sampai ke hilir sesuai dengan potensi wilayah.

Menurut Koster, Bali harus mencapai kedaulatan pangan dalam upaya pemenuhan jumlah dan kualitas yang memadai untuk kebutuhan Krama Bali maupun wisatawan, dan berorientasi ekspor. Untuk menjamin kualitas dan keamanan pangan sudah seharusnya menerapkan sistem pertanian organik menuju Bali Pulau Organik.

"Dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi Bali perlu dibangun/dikembangkan Industri BrandingBali dari hulu sampai ke hilir, Ekonomi Kreatif berbasis budaya Branding Bali serta Ekonomi digital. Pembangunan/pengembangan perekonomian Bali dilakukan sesuai dengan potensi wilayah dalam rangka menyeimbangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi antar wilayah se-Bali, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan daerah, membuka lapangan kerja baru, dan mengurangi tingkat kemiskinan," terang Ketua DPD PDIP Bali itu.

Lebih lanjut, untuk memperkuat struktur dan fundamental perekonomian Bali, diperlukan pengembangan dan penguatan Industri Kecil Menengah (IKM), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan Koperasi terutama Koperasi Produksi serta Lembaga Perekonomian Adat dalam pengelolaan hasil pertanian, perikanan, perkebunan, dan industri kerajinan rakyat.

Dengan demikian, Ekonomi Kerthi Bali bertujuan membangun perekonomian Bali yang harmonis terhadap alam beserta isinya serta memberikan manfaat dan nilai tambah berganda secara langsung dan tidak langsung, baik nilai tambah ekonomi, lingkungan, sosial, budaya, maupun tatanan kehidupan.

Nilai tambah masing-masing elemen tersebut di atas, menurut Koster akan membentuk lingkaran nilai yang semakin membesar sehingga daya dukung perekonomian Bali semakin meningkat dan berkelanjutan.

"Sehingga Ekonomi Kerthi Bali dapat menjadi Acuan/pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pembangunan perekonomian Bali. Serta dapat di adopsi untuk pembangunan daerah dalam rangka pembangunan nasional dan internasional,” ujarnya.

“Astungkara Ekonomi Kerthi Bali akan menjadi arus utama (mainstream) baru pembangunan perekonomian Paradigma baru pembangunan perekonomian. Memberi manfaat sebesar-besarnya bagikesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan masyarakat,” tutup Koster. (ISU/PDN)