Jembrana Tak Perlu Nyontek Daerah Lain
NEGARA, PODIUMNEWS.com - Gilimanuk khususnya dan Jembrana pada umumnya, harus menggagas konsep wisata berkelanjutan (sustainable tourism), dengan mengangkat kearifan lokal masyarakat setempat melalui beberapa Distinctive Tour Package, salah satunya bisa juga berupa Paket Travel-Learn.
Artinya, Gilimanuk atau Jembrana tidak perlu membangkitkan pariwisata yang bersifat masif (mass tourism), apalagi menjiplak daerah lain yang sudah berjalan bertahun-tahun secara masif, karena Jembrana pasti kalah bersaing.
Demikian antara lain pandangan yang disampaikan Pakar Pariwisata Jembrana, Wayan Suana, Minggu (10/7).
Dikatakan, banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan di Jembrana khususnya Gilimanuk tanpa harus bersaing ketat dengan daerah-daerah lain yang sudah berkembang.
Biarkan saja Gilimanuk atau Jembrana seperti apa adanya, menjadi museum hidup bagi wisatawan. Jangan sampai wisatawan datang ke Gilimanuk atau Jembrana melihat banyak mall dan gedung-gedung tinggi (artificial destination).
Paket Travel Learn ini dapat mengusung konsep berwisata sambil mendapatkan edukasi, agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang berbeda saat melakukan kegiatan wisata (distinctive experience).
Paket Travel Learn ini diarahkan pada konsep Eco-tourism yang berkelanjutan (Sustainable Eco-tourism) dan mampu memberikan dampak positif terhadap lingkungkungan (environment), Budaya (culture), dan Sosial-masyarakat (local society social).
Kegiatan wisata yang dilakukan fokus menyediakan paket wisata ramah lingkungan dan dibuat dengan kearifan lokal masyarakat.
Kegiatan-kegiatan wisata ini berupa wisata budaya yang dipadukan dengan konsep traditional sport tourism, serta dilakukan bersamaan dengan aktivitas kearifan local masyarakat Jembrana dalam bidang seni seperti Jegog.
Sebagai contoh, kegistan wisata yang dikemas ke dalam paket wisata Travel Learn ini adalah berupa kombinasi paket wisata seperti, Lomba Tangkap Bebek di Laut, Lomba Sampan Nelayan dan Lomba Main Tajog. Kegiatan ini dapat dilakukan di Karang Sewu atau di sebelah Patung Siwa.
Taecking di Hutan TNBB plus penanaman pohon. Melihat pembuatan tuak dan gula merah di Sumbersari. kunjungan ke Pura Segara Rupek.
Mengenai aktivitas pembuatan tuak dan gula merah kata Suana, maksudnya agar wisatawan mendapatkan edukasi tentang bagaimana cara membuat tuak dan gula merah secara tradisional. Mulai dari mengenal alatnya dan bagaimana tuak serta gula merah dibuat dengan konsep berkelanjutan. Paket ini terkombinasi dengan aktivitas tracking sambil menanam pohon kembali di hutan TNBB.
Lomba tangkap bebek di laut, bisa melibatkan anak-anak yang sering menyelam menangkap koin di bawah ferry di Gilimanuk dan Lomba Sampan Nelayan dapat melibatkan para nelayan di Gilimanuk.
Destinasi-destinasi tersebut, tegas Suana, harus diseleksi berdasarkan aspek pendukung, yaitu destinasi tersebut harus asli tanpa dibuat-buat. Destinasi ini juga harus mendukung keberadaan masyarakat lokal, bukan dimiliki oleh investor. Dan pemandu yang mendampingi wisatawan juga orang lokal, jadi harus ada local guide di sini untuk menjelaskan dan bercerita tentang destinasi yang dikunjungi wisatawan.
Semua berharap agar apa yang ingin dikembangkan di Gilimanuk atau Jembrana bersama masyarakat lokal, bisa benar-benar berkelanjutan, memberikan dampat yang positif terhadap lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana harus sudah menentukan Zona-Wisata yang pasti dan tegas, serta melalui organisasi perangkat daerah (OPD) maupun stakeholders serta Pokli (kelompok ahli) yang dianggap pakar di bidang kepariwisataan. (Edy)