Search

Home / Kesra

Jalan Mangrove Diperlebar dengan Talud Bambu

Editor   |    26 Juli 2022    |   17:28:00 WITA

Jalan Mangrove Diperlebar dengan Talud Bambu
Jalan mangrov Budeng menuju Perancak diperlebar dengan talud bambu. (foto/Edy)

NEGARA, PODIUMNEWS.com - Sebagai kawasan konservasi, hutan mangrove di Desa Budeng, Jembrana konsisten melakukan segala aktivitasnya dengan tetap menjaga lingkungan. Begitu juga kegiatan pelebaran jalan akases dari Desa Budeng ke Desa Perancak saat ini dilakukan tidak dengan pasangan batu tapi memakai talud bambu.

Pengamatan di lapangan, Selasa (26/7), talud bambu yang dipasang di sebelah kanan jalan dari arah Desa Budeng, sudah mencapai sekitar 100 meter lebih.

Setelah talud bambu terpasang, baru dilakukan pengurugan dengan tanah, sehingga badan jalan terasa lebih lebar dan aman untuk kegiatan joging.

Dari informasi yang dihimpun, ekosistem hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung utama bagi kehidupan di wilayah pesisir (Kathiresan, 2012; Brander et al., 2012).

Secara ekologi hutan mangrove mempunyai peranan yang penting seperti peredam gelombang dan angin, pelindung pantai dari abrasi, penahan lumpur dan sedimen, sebagai daerah asuhan dan tempat mencari makan, tempat pemijahan biota perairan dan lain sebagainya.

Saat ini di kawasan seluas sekitar 44 hektar itu, sebagian atau sekitar 25 hektar telah dikelola masyarakat sekitar sebagai kawasan ekowisata sesuai fungsi hutan mangrov itu sendiri.

 Ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat.

Atas dasar pengertian ini, bentuk ekowisata pada dasarnya merupakan bentuk gerakan konservasi.

Objek wisata yang dikelola dengan konsep ekowisata, pada dasarnya merupakan bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat.

Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta alam, yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari, di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga.

Dalam perkembangannya, bentuk ekowisata ini berkembang karena banyak digemari oleh wisatawan. Wisatawan ingin berkunjung ke area alami, yang dapat menciptakan kegiatan bisnis.

Untuk hutan mangrov di Desa  Budeng yang telah dikelola sebagai ekowisata sejak dua tahun terakhir, memang telah memberikan manfaat pada berbagai aspek seperti  konservasi, pemberdayaan, dan pendidikan lingkungan.

Wisata dengan fokus konservasi alam juga mampu memberikan insentif ekonomi, bagi upaya pelestarian dan keanekaragaman flora fauna yang ada. Tentunya juga akan berdampak pada budaya serta warisan alam di sekitar tempat wisata tersebut. Konsep ekowisata juga bisa berguna untuk melawan kemiskinan dan mencapai pembangunan berkelanjutan. (Edy)


Baca juga: NUSA DUA CIRCLE, Mega Proyek ‘Gagal’. Benarkah Perusahaan dan Orang-Orang yang Terlibat Didalamnya Juga Bermasalah? (BAG: 1)