Search

Home / Ekonomi

‘HERO’ jadi Modal Psikologis Hadapi Resesi Global

Redaktur   |    20 Januari 2023    |   19:10:00 WITA

‘HERO’ jadi Modal Psikologis Hadapi Resesi Global
Ilustrasi resesi ekonomi global (foto/kafkadesk)

PAKAR Manajemen Universitas Airlangga (Unair) Prof Badri Munir Sukoco SE MBA PhD mengatakan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara tergantung dari kontribusi domestik. Pernyataan ini terkait Indonesia yang diprediksi sebagai salah satu negara berkembang yang terancaman resesi ekonomi global.

Prof Badri kemudian menyebut modal dasar bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam atau sumber daya manusia, tetapi juga modal psikologis yaitu HERO. HERO ini meliputi harapan (Hope), kepercayaan (Self-Efficacy), ketahanan (Resilience), dan optimisme (Optimism).

Dikatakannya bahwa modal yang dicetuskan oleh Luthans ini harus diterapkan dalam organisasi mulai level bawah sampai level negara.

“Modal psikologis dasar perlu dimiliki oleh bangsa terkait dengan prediksi yang mungkin agak negatif atau terlalu positif dan seterusnya. HERO ini saya rasa sebagai buffer cukup kuat untuk membuat kita senantiasa bergerak ke arah yang lebih maju untuk mencapai ambisi kolektif menjadi negara maju 2045,” jelas Prof Badri, Jumat (20/1) di Surabaya.

Lanjutnya, indikator negara maju sendiri diukur dari produk domestik bruto sebagai sumber pendapatan nasional. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia yang masih banyak melakukan impor dari negara lain.

Peran Negara dan Masyarakat

Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR itu mendukung adanya perubahan struktur ekonomi berbasis pengetahuan dan jasa sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Di sisi lain, juga membangun kesadaran, minat, serta partisipasi masyarakat dalam seluruh kegiatan ekonomi.

“Bisnis adalah aktivitas untuk making, buying, selling, or supplying goods or services. Nah, making-nya ini yang menurut saya menjadi PR (pekerjaan rumah, red) besar bagi kita karena sebagian besar kita itu terlena sebagai buying-selling saja atau supplying yang sebenarnya nilai tambahnya rendah seperti bahan mentah nikel dan tembaga,” kata Prof Badri.

Pada akhir, terdapat empat peran yang dapat dilakukan negara atau perusahaan dalam upaya menuju reindustrialisasi. Peran tersebut menurut Prof Badri mencakup peningkatan invensi, prototipe dan teknik produksi, inovasi bertahap (inkremental), serta perakitan. (dev/sut)


Baca juga: Meat-O Ajengan, Café dan Resto Modern “Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima”