Korban H Sudah Tiga Kali Coba Bunuh Diri
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Tragedi tewasnya perempuan berinisial H melompat dari lantai 3 mess Rumah Makan (RM) Ayam Prambanan di Jalan Ahmad Yani Utara, Denpasar Utara menyisahkam duka mendalam bagi teman-temannnya.
Terungkap, kematian HN dengan cara bunuh diri bukan yang pertama kalinya, tapi sudah ketiga kalinya.
Rekan korban Denis Bujani (23) yang ditemui awak media di lokasi membenarkan hal tersebut. Ia mengaku baru mengenal sosok HN sejak 2 bulan lalu, sehingga tidak mengenal betul watak korban.
"Saya kenal baru dua bulan lalu dari mantan pacarnya," ungkapnya, Jumat (20/10/2023) di Denpasar.
Namun ternyata HN menemuinya pada Selasa 17 Oktober 2022 dengan menumpang ojek online. Ia melihat HN datang dalam keadaan seperti orang linglung.
Saat itu, korban meminta tolong kepada Denis agar diizinkan tinggal sebentar di TKP. Denis yang tinggal bersama teman-teman dan kebetulan ada satu wanita yang merupakan istri temannya, memperbolehkan HN tinggal. Ia pun langsung istirahat di salah satu kamar di lantai tiga.
Sekitar pukul 17.00 WITA, korban pamit pulang. Saksi Denis heran. Akhirnya HN bercerita tentang masalah hidupnya yang semraut. Korban mengaku kabur dari rumahnya di Bandung, karena merasa sudah tidak diterima oleh keluarganya. Hanya saja HN tidak menceritakan penyebab dirinya diusir.
Diceritkan, awalnya HN merantau dan kerja di sebuah cafe di Nusa Dua, Badung. Tapi dia diusir dari tempat kerjanya tersebut. "Saya sebenarnya heran dengan ceritanya, kayaknya sih ngawur, tapi saya juga binggung benar apa tidak pengakuanya," kata Denis.
Saksi Denis mengatakan kepada HN mencarinya hingga ke tempat kerjanya RM Ayam Prambanan. Padahal, dirinya tidak ada hubungan apalagi saudara dekat. Tapi HN mengatakan dirinya tidak ada saudara selain Denis.
"Akhirnya saya tawarkan untuk menghantarnya pulang ke Sanur tapi dia tidak mau," ujarnya.
Beberapa saat kemudian, HN datang lagi ke tempat kerjanya, pada Rabu 18 Oktober 2023. Namun saat itu HN tidak bekerja dan membuka warungnya sekitar pukul 14.00 WITA. Ia mengetahui kedatangan HN dari temanya.
Setelah di mess, saksi tidak melihat HN. Ternyata dia berkeliling di halaman mess seperti orang linglung. Ia bahkan masuk ke mess orang lain, tapi dia diusir karena tidak dikenal. Bahkan ia berniat memanjat ke Sanggah.
Usai diusir, korban pergi dan dikira oleh Denis sudah pulang. Tak disangka, berselang setengah jam kemudian dia datang lagi sekitar pukul 17.00 WITA. Korban meminta izin kepada teman-teman Denis untuk istirahat lagi di mess. Mengingat, Denis sedang tidak ada di sana karena bekerja di warung lalapan. "Dia dibiarkan tidur oleh teman-temannya dan tidak diganggu," ungkapnya.
Denis pun pulang kerja malam pukul 00.00 WITA, dan langsung istirahat. Ternyata, korban keluar tanpa sepengetahuan siapapun dan tidak tahu kemana tujuanya. Padahal pintu gerbang dikunci dari dalam oleh oleh pemilik mess.
Sekitar pukul 01.00, HN datang lagi ke mess tersebut. Ada penjaga warung Madura yang melihatnya memasuki mess dengan cara memanjat tembok. Korban sempat duduk diam di tangga dan setelah itu berlari naik ke lantai tiga mess. Dia menggedor-gedor pintu kamar Denis, sampai pemuda itu terbangun.
Namun ketika Denis akan membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara gedebug yang sangat ke ras seperti ada sesuatu yang jatuh. Sehingga saat pintu sudah terbuka, Denis langsung menengok ke bawah dari teras.
"Ternyata ada korban yang tergeletak tak sadarkan diri. Sontak Denis berteiak minta tolong kepada penghuni yang lain dan melapor ke polisi;" tuturnya.
Dari kejadian itu, polisi meminta Denis agar membantu mencari identitas lengkap korban. Ia pun menuju ke tempat kerja korban sebelumnya di Nusa Dua. Denis dan polisi pun mendengar penuturan mengejutkan dari mantan bos korban, bahwa HN sudah tiga kali mencoba bunuh diri. Wanita itu juga membakar identitas dirinya dan dua kali membakar Kafe.
"Kata bosnya, korban mau menghilangkan identitasnya juga. Korban depresi di Nusa Dua makanya lari kemari, mungkin pikirannya kalau bunuh diri setidaknya ada orang yang ngurusin," sebut Denis.
Dijelaskanya, Denis sempat berkomunikasi dengan orang tua HN dan diminta untuk memfoto wajah korban untuk memastikan itu betul anaknya atau bukan. Maka, Denis ke RSUP Prof Ngoerah tempat jenazah korban dititipkan untuk mengambil fotonya. Akhirnya, pihak keluarga membenarkan bahwa korban itu anaknya.
"Saya kurang tahu jenazah korban sekarang sudah dijemput apa belum. Karena sudah ketemu pihak keluarganya, jadi saya sudah lepas tidak ada urusan lagi," terangnya sembari mengatakan setelah kejadian, Denis juga harus keluar biaya patungan dengan pemilik mess untuk upacara mecaru. (hes/sut)