Podiumnews.com / Aktual / News

Organisasi Kepemudaan: Mitra Pembangunan atau Sekadar Pelengkap?

Oleh Podiumnews • 27 April 2025 • 18:58:00 WITA

Organisasi Kepemudaan: Mitra Pembangunan atau Sekadar Pelengkap?
Ilustrasi. (Foto: Dewa)

SUDAH saatnya mentalitas usang yang memandang organisasi kepemudaan sebelah mata, sebagai sekadar pelengkap birokrasi atau event organizer tanpa gagasan, diakhiri.

Ironisnya, sejumlah instansi pemerintah daerah justru terjebak dalam praktik mereduksi potensi kaum muda, alih-alih memberdayakannya sebagai mitra strategis pembangunan.

Anggapan remeh ini bukan hanya kontraproduktif, tetapi juga membuktikan ketidakmauan untuk mengakui aset berharga yang dimiliki daerah.

Alih-alih merangkul energi, idealisme, dan inovasi yang melekat pada organisasi kepemudaan, beberapa oknum di pemerintahan justru lebih nyaman melihat mereka sebagai barisan pelaksana teknis program yang bisa didikte.

Mereka diperlakukan layaknya vendor acara bahkan lebih buruk dari vendor karena mereka bekerja dengan semangat tanpa mengharapkan suatu imbalan.

Selain itu mereka disodorkan anggaran terbatas dan instruksi kaku, tanpa diberi ruang untuk berkontribusi dalam substansi dan arah kebijakan.

Praktik ini bukan hanya merendahkan martabat organisasi kepemudaan, tetapi juga membuktikan betapa dangkalnya pemahaman sebagian birokrat terhadap potensi kaum muda.

Ironi semacam ini bukan lagi rahasia umum. Retorika manis tentang pentingnya peran pemuda seringkali berbanding terbalik dengan perlakuan nyata di lapangan.

Pola relasi yang timpang ini bukan hanya menghambat partisipasi bermakna kaum muda, tetapi juga berpotensi melahirkan apatisme dan kekecewaan.

Ketika gagasan dan inisiatif mereka terus-menerus diabaikan atau hanya didengar sebagai formalitas, semangat untuk berkontribusi akan meredup.

Oknum pemerintah daerah yang abai terhadap potensi ini sama saja dengan membuang percuma sumber daya yang seharusnya menjadi motor penggerak kemajuan.

Sudah saatnya para pengambil kebijakan di berbagai instansi berhenti melihat organisasi kepemudaan dengan kaca mata sinis dan meremehkan.

Mereka bukan sekadar kelompok pinggiran yang bisa dimobilisasi untuk kepentingan sesaat atau dimanfaatkan sebagai pelaksana program tanpa pemikiran.

Mereka adalah calon pemimpin masa depan, inovator, dan agen perubahan yang memiliki pemahaman mendalam tentang tantangan dan peluang di era ini.

Perlakuan yang merendahkan ini harus diakhiri. Pemerintah daerah yang cerdas akan melihat organisasi kepemudaan sebagai mitra setara, yang mampu memberikan perspektif segar, solusi kreatif, dan energi yang tak ternilai harganya dalam membangun daerah.

Mengabaikan potensi ini sama dengan memilih jalan stagnasi dan menutup diri terhadap inovasi yang justru bisa datang dari kalangan muda.

Inilah saatnya bagi para birokrat untuk membuka mata dan merangkul potensi besar yang selama ini mereka pandang sebelah mata. (fathur)