Figur Publik Rentan Jadi Predator Seksual, Ini Alasannya!
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Kasus kekerasan seksual yang melibatkan figur publik kembali mencoreng kepercayaan masyarakat. Menanggapi fenomena ironis ini, Prof Dra Myrtati Dyah Artaria MA PhD, Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Airlangga (UNAIR), memberikan analisis mendalam mengenai akar permasalahan ini.
Menurutnya, karisma dan kedudukan tinggi yang melekat pada figur publik seringkali disalahgunakan sebagai `senjata` untuk melakukan tindakan kekerasan seksual.
Prof Myrta, seorang ahli antropologi dari FISIP UNAIR, menjelaskan bahwa seseorang dengan posisi terhormat secara alami memiliki daya tarik tersendiri.
"Seseorang berkedudukan tinggi akan dengan sendirinya punya daya tarik, seperti ada orang sekitarnya yang merasa kagum, ingin belajar darinya, atau bahkan bangga bisa dekat dengannya. Itu natural di lingkungan kita," ujarnya melalui keterangan pers, Jumat (2/5/2025).
Namun, daya tarik alami ini, lanjut Prof Myrta, menjadi berbahaya ketika individu dengan kekuasaan gagal mengelola godaan atau bahkan secara aktif memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pelanggaran.
"Nah ketika itu terjadi, apakah orang itu dapat menahan godaan atau lebih jauh lagi, justru malah menggunakan kesempatan untuk melakukan pelanggaran," tegasnya.
Lebih lanjut, Prof Myrta menguraikan bagaimana kekuasaan memberikan keleluasaan bagi pelaku. Selain itu, ia menyoroti beberapa faktor lain yang kerapkali melatari terjadinya kekerasan seksual, termasuk penyalahgunaan posisi dan kekuasaan, kuatnya budaya patriarki dan ketimpangan gender, lemahnya etika atau pendidikan karakter sejak dini, minimnya pengawasan, serta potensi trauma atau gangguan psikologis pada pelaku.
"Kasus-kasus yang sering mampir ke kami dan yang saya amati, biasanya para pelaku mencari korban yang mempunyai trauma masa lalu, sehingga menjadikan mereka lebih mudah dimanipulasi secara emosional," ungkap Prof Myrta, menyoroti taktik manipulatif yang sering digunakan pelaku.
Analisis mendalam dari pakar UNAIR ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika kekerasan seksual yang dilakukan oleh figur publik. Karisma dan kekuasaan, yang seharusnya menjadi modal untuk memberikan dampak positif, justru berpotensi menjadi alat eksploitasi jika tidak diiringi dengan integritas dan etika yang kuat.
Pernyataan Prof Myrta ini menjadi pengingat penting akan perlunya pengawasan yang ketat dan penanaman nilai-nilai anti-kekerasan sejak dini, terutama bagi mereka yang memiliki potensi untuk memegang posisi berpengaruh di masyarakat. (riki/suteja)