Malam Terusik di Gatsu Timur, Warga Rindu Sepi
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Malam-malam sunyi di sekitar Jalan Dukuh nomor 5X, Gatot Subroto Timur, Denpasar Timur, perlahan terusik. Bukan oleh hembusan angin malam, melainkan oleh dentuman musik keras yang berasal dari sebuah warung. Bagi sebagian warga Banjar Dukuh, Desa Kesiman Petilan, hiburan malam bagi pengunjung warung itu telah menjelma menjadi perampas kedamaian yang mereka rindukan.
Keluhan demi keluhan akhirnya memuncak pada Senin (12/5/2025) malam. Rasa lelah setelah seharian beraktivitas, harapan untuk menikmati istirahat yang tenang, sirna ditelan alunan musik yang menghentak hingga larut. Puncaknya, emosi warga tak terbendung hingga terjadi selisih paham dengan pihak pengelola warung.
Di antara mereka yang paling merasakan dampaknya adalah para penghuni kos yang letaknya tak jauh dari sumber suara. Bagi mereka, malam bukan lagi waktu untuk memulihkan tenaga, namun justru menjadi siksaan pendengaran. Suara bass yang berdebar dan vokal yang melengking seolah tak memberi jeda, merampas kualitas istirahat yang sangat mereka butuhkan.
"Sudah lama kami tidak bisa tidur nyenyak," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, dengan nada lirih. "Kami hanya ingin malam yang tenang setelah bekerja. Tapi musik dari warung itu terus saja berbunyi keras sampai tengah malam, bahkan dini hari."
Menyikapi keluhan yang sudah berulang kali disampaikan, Bhabinkamtibmas Desa Kesiman Petilan, Aipda I Made Eka Wiarta, turun tangan. Senin malam itu, ia hadir di lokasi untuk memediasi kedua belah pihak, mencoba menjembatani jurang perbedaan antara hak berusaha dan hak untuk hidup tenang. Hadir pula tokoh masyarakat setempat seperti kelian banjar, prajuru adat, pecalang, dan BPD, menunjukkan betapa seriusnya keresahan warga ini.
Sayangnya, mediasi ini bukanlah babak akhir dari cerita. Menurut Kapolsek Denpasar Timur, Kompol I Ketut Tomiyasa, keluhan warga sebenarnya sudah berlangsung lama. Teguran dari prajuru adat dan pihak desa pun seolah tak pernah diindahkan oleh pengelola warung.
Kini, harapan untuk malam yang lebih tenang bagi warga Banjar Dukuh akhirnya menemukan titik terang, meski dengan cara yang pahit bagi pengelola warung. Atas pertimbangan ketertiban dan kenyamanan lingkungan, pemilik kos memutuskan untuk tidak memperpanjang masa tinggal pengelola warung tersebut. Sebuah keputusan yang menunjukkan betapa besar dampak gangguan suara ini bagi kehidupan warga.
Kompol I Ketut Tomiyasa mengapresiasi langkah cepat Bhabinkamtibmas dalam merespons keluhan warga. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap kebutuhan dan kenyamanan lingkungan sekitar.
Kisah warga Banjar Dukuh ini adalah pengingat sederhana namun mendalam tentang pentingnya harmoni dalam bertetangga dan bagaimana bisingnya hiburan bagi sebagian orang bisa menjadi perampas kedamaian bagi yang lain. Di balik ramainya Denpasar di siang hari, tersimpan kerinduan akan sepi malam yang damai. (hes/suteja)