Podiumnews.com / Aktual / News

Dari Leluhur Menjaga Bali: Pecalang, Benteng Adat dan Keamanan

Oleh Podiumnews • 17 Mei 2025 • 20:24:00 WITA

Dari Leluhur Menjaga Bali: Pecalang, Benteng Adat dan Keamanan
Ilustrasi. (Foto: Dewa)

DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Jauh sebelum kehadiran aparat keamanan modern, Pulau Bali telah memiliki garda terdepan penjaga ketertiban dan nilai-nilai luhur adat: pecalang.

Keberadaan mereka bukan sekadar tradisi, melainkan urat nadi dalam sistem sosial dan budaya Bali yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Deklarasi 13 ribu pecalang baru-baru ini menegaskan kembali peran krusial mereka, bukan hanya sebagai penjaga fisik, tetapi juga sebagai benteng pertahanan adat dan kearifan lokal.

Sejarah mencatat, pecalang telah menjadi bagian integral dari desa adat (desa pakraman) di Bali sejak lama. Mereka tumbuh dan berkembang seiring dengan struktur banjar dan sistem gotong royong yang kuat di masyarakat Bali.

Dahulu, peran pecalang mungkin lebih sederhana, fokus pada pengamanan upacara adat, menjaga batas wilayah desa, dan menyelesaikan perselisihan antarwarga secara kekeluargaan.

Namun, esensi tugas mereka tetap sama: memastikan harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Evolusi peran pecalang tak terhindarkan seiring perkembangan zaman. Jika dulu mereka mungkin hanya bermodalkan tongkat dan keberanian, kini pecalang juga dituntut untuk berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan TNI, terutama dalam menghadapi ancaman keamanan yang lebih kompleks.

Namun, landasan utama mereka tetaplah nilai-nilai adat dan kearifan lokal. Mereka memahami betul seluk-beluk wilayahnya, mengenal karakter masyarakat, dan memiliki legitimasi moral yang kuat di mata warga desa adat.

"Pecalang Bali sejak leluhur sudah menjaga Bali, nindihin gumi Bali," tegas Ketua MDA Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, dalam Gelar Agung Pacalang, Sabtu (17/5/2025).

Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari tanggung jawab yang diemban pecalang secara turun-temurun. Mereka adalah representasi dari semangat menjaga diri (swadharma) dan menjaga lingkungan (tri hita karana) yang menjadi filosofi hidup masyarakat Bali.

Lebih dari sekadar menjaga keamanan fisik, pecalang juga berperan aktif dalam melestarikan nilai-nilai budaya. Mereka menjadi pengawal setiap upacara adat, memastikan ritual berjalan lancar dan sesuai dengan tradisi.

Kehadiran mereka memberikan rasa aman dan khidmat bagi para peserta upacara. Dalam konteks ini, pecalang adalah simbol dari kekuatan komunitas dan solidaritas dalam menjaga warisan leluhur.

Deklarasi penolakan terhadap premanisme berkedok ormas oleh ribuan pecalang adalah babak baru dalam sejarah panjang pengabdian mereka.

Ini menunjukkan bahwa pecalang tidak hanya relevan dalam konteks adat, tetapi juga memiliki kepedulian yang besar terhadap keamanan dan ketertiban sosial di Bali secara keseluruhan.

Mereka berdiri tegak sebagai representasi kekuatan akar rumput yang menolak segala bentuk ancaman terhadap kedamaian dan harmoni Pulau Dewata.

Dengan dukungan sistem keamanan terpadu berbasis desa adat (Sipandu Beradat) dan bantuan keamanan desa adat (Bankamda), peran pecalang diyakini akan semakin optimal.

Mereka adalah aset berharga bagi Bali, bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penjaga identitas dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya.

Sejarah telah membuktikan, dan masa depan akan terus menyaksikan peran vital pecalang dalam menjaga keunikan dan kedamaian Pulau Dewata. (fathur)