Podiumnews.com / Khas / Asri

Badung Peduli Menyusuri Desa Buduk

Oleh Nyoman Sukadana • 25 Januari 2026 • 21:28:00 WITA

Badung Peduli Menyusuri Desa Buduk
Ketua TP PKK Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa menyerahkan benih ikan kepada warga saat kegiatan Safari Badung Peduli di Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Minggu (25/1/2026). (foto/sukadana)

SAFARI Badung Peduli menyusuri Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Minggu (25 Januari 2026). Rangkaian kegiatan itu dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan warga: alam, lalu bergerak perlahan menyentuh kemanusiaan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan.

Di kawasan sempadan Sungai Yeh Ayung, tepatnya di sekitar Pura Taman Beji, kegiatan diawali dengan gotong royong membersihkan lingkungan. Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, hadir bersama warga, kader PKK, dan perangkat desa. Tidak ada jarak antara penggerak dan masyarakat. Yang ada hanyalah kerja bersama menjaga keseimbangan alam.

Penanaman pohon cempaka dan penebaran benih ikan menjadi bagian dari komitmen merawat ekosistem sungai. Sungai diperlakukan bukan sekadar aliran air, tetapi sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga lintas generasi.

“Seluruh peran kami satukan dalam Badung Peduli. Kegiatan ini bukan hanya menjaga kebersihan, tetapi menanamkan kesadaran kolektif akan pentingnya keseimbangan alam,” ujar Rasniathi Adi Arnawa.

Dari kawasan sungai, Safari Badung Peduli berlanjut ke Banjar Bernasi. Di tempat ini, kepedulian mengambil bentuk yang lebih personal. Rasniathi memberikan apresiasi kepada Agus Mertayasa, penyandang disabilitas, dengan membeli hasil karya lukisannya. Apresiasi itu bukan sekadar bantuan, melainkan pengakuan atas potensi dan martabat manusia.

Masih di banjar yang sama, bantuan kursi roda diserahkan kepada Komang Mariani. Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan mobilitas sekaligus kualitas hidup warga yang membutuhkan.

“Kami ingin saudara-saudara kita penyandang disabilitas tetap percaya diri dan mandiri melalui karya dan semangat hidup,” tambahnya.

Rangkaian safari kemudian menyentuh aspek lingkungan berkelanjutan melalui peninjauan Bank Sampah Banjar Bernasi. Rasniathi memastikan edukasi pemilahan sampah dari sumber terus berjalan, sejalan dengan perannya sebagai Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber. Sampah tidak diposisikan sebagai masalah semata, melainkan sebagai bagian dari solusi jika dikelola dengan kesadaran bersama.

Di Desa Buduk, kepedulian juga diarahkan pada pembangunan sumber daya manusia. Program bimbingan belajar Bahasa Inggris di Banjar Umakepuh ditinjau sebagai upaya membuka akses generasi muda terhadap bahasa global. Di sisi lain, bimbingan belajar Aksara Bali di Kantor LPD Buduk menjadi penanda bahwa kemajuan tidak boleh menghapus akar budaya.

“Investasi SDM melalui bahasa dunia dan pelestarian budaya lokal harus berjalan beriringan agar generasi muda tidak kehilangan jati diri,” tegas Rasniathi Adi Arnawa.

Safari Badung Peduli juga menyapa penguatan ekonomi kerakyatan. Perajin gelang Tri Datu di Banjar Gunung menjadi salah satu titik kunjungan. Dari karya-karya sederhana itulah ekonomi lokal tumbuh, memberi harapan bagi keluarga dan komunitas desa.

Sebagai bagian dari kepedulian kemanusiaan, safari ini turut mengunjungi warga penderita kanker di bawah payung Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Badung. Kehadiran dan dukungan moral menjadi pesan bahwa mereka tidak berjalan sendiri dalam perjuangan.

Rangkaian kegiatan Safari Badung Peduli di Desa Buduk ditutup dengan Temu Wirasa di Kantor Perbekel Buduk bersama kader TP PKK, Bunda PAUD, dan kader Posyandu. Dalam pertemuan tersebut, Rasniathi menekankan pentingnya sinergi antara kader dan pemerintah desa sebagai kunci keberhasilan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

Bagi Rasniathi Adi Arnawa, menyusuri Desa Buduk bukan sekadar agenda kerja. Ia adalah cara merajut kepedulian secara utuh. Dari sungai hingga ruang kelas, dari karya lukis hingga gelang Tri Datu, Badung Peduli hadir sebagai laku bersama, bukan seremoni.

Dan di sanalah maknanya tumbuh, perlahan namun nyata.

(sukadana)