Podiumnews.com / Aktual / Ragam

Child Grooming Dimulai dari Relasi yang Terlihat Aman

Oleh Nyoman Sukadana • 28 Januari 2026 • 17:36:00 WITA

Child Grooming Dimulai dari Relasi yang Terlihat Aman
Ilustrasi: Relasi yang tampak hangat dan aman antara orang dewasa dan anak dapat menyimpan risiko manipulasi psikologis dalam praktik child grooming. (podiumnews)

JAKARTA, PODIUMNEWS.com - Fenomena child grooming kerap berlangsung secara halus dan sulit dikenali sejak awal karena sering dimulai dari relasi yang tampak positif, aman, dan suportif. Dalam prosesnya, batas antara perhatian wajar dan upaya eksploitasi perlahan menjadi kabur hingga memasuki zona abu-abu yang berisiko bagi anak dan remaja.

Psikolog anak dan remaja, Ferlita Sari, menjelaskan bahwa child grooming bukan semata-mata persoalan perbedaan usia, melainkan berkaitan erat dengan ketimpangan kuasa dan kontrol emosional yang dibangun secara bertahap oleh pelaku. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Kelas Orang Tua Bersahaja yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

“Pelaku biasanya memosisikan diri sebagai sosok yang paling memahami, mendukung, dan dianggap paling aman bagi anak atau remaja,” ujar Ferlita.

Ia mengingatkan orang tua agar lebih peka terhadap zona abu-abu dalam relasi anak. Menurutnya, relasi yang secara kasat mata terlihat peduli dan penuh perhatian dapat memunculkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan oleh anak, namun kerap diabaikan karena dianggap sebagai bentuk kedekatan biasa.

“Dalam banyak kasus, sinyal awal ini sering tidak disadari karena dikira hanya perhatian atau kelekatan yang wajar,” katanya.

Ferlita menjelaskan, relasi yang tampak baik belum tentu aman. Hubungan mentor dengan siswa yang terlalu eksklusif, pujian berlebihan dari guru favorit, hingga komunikasi privat antara tokoh publik dan penggemar dapat menjadi pintu masuk praktik child grooming. Bahkan relasi romantis dengan perbedaan usia yang legal secara hukum tetap berisiko jika terdapat ketimpangan pengalaman dan kontrol emosional.

Dampak child grooming, lanjut Ferlita, tidak berhenti ketika relasi tersebut berakhir. Anak yang menjadi korban kerap mengalami trauma relasional berkepanjangan, seperti kebingungan memahami hubungan yang sehat, perasaan bersalah, serta kesulitan mempercayai orang lain di kemudian hari.

Orang tua juga berpotensi mengalami trauma sekunder berupa rasa gagal melindungi anak, kemarahan terhadap diri sendiri, hingga konflik dalam keluarga. Dalam kondisi tersebut, pendampingan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat disarankan untuk membantu proses pemulihan kesehatan mental keluarga.

Ferlita menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, defensif berlebihan, atau sangat protektif terhadap gawai karena adanya rahasia tertentu. Sementara itu, remaja didorong untuk merefleksikan relasi yang dijalani, termasuk apakah masih memiliki kebebasan untuk berkata tidak atau justru merasa tertekan dan bergantung secara emosional.

Ia menegaskan bahwa pencegahan child grooming tidak cukup dilakukan melalui larangan kaku, melainkan dengan membangun kedekatan emosional yang kuat dan dialog terbuka dalam keluarga. Lingkungan yang aman dan tidak menghakimi akan membuat anak lebih berani bercerita sebelum manipulasi berkembang lebih jauh.

“Relasi yang hangat, aman, dan terbuka menjadi kunci utama untuk melindungi anak dari praktik manipulasi psikologis child grooming yang mengancam masa depan mereka,” pungkasnya.

(riki/sukadana)