Podiumnews.com / Aktual / Ragam

UGM: Dunia Menuju Krisis Pangan 2050

Oleh Nyoman Sukadana • 26 Juni 2026 • 17:34:00 WITA

UGM: Dunia Menuju Krisis Pangan 2050
ILUSTRASI: Lahan pertanian mengering dan retak akibat cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim, mengancam ketahanan pangan global masa depan. (AI/Podiumnews)

YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com – Ancaman krisis iklim kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan lingkungan semata, melainkan telah berkembang menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pangan dunia. Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwikorita Karnawati memperingatkan dunia berpotensi menghadapi krisis pangan global pada dekade 2050-an apabila laju perubahan iklim tidak berhasil dikendalikan sejak sekarang.

Menurut Dwikorita, kenaikan suhu bumi yang berlangsung sangat cepat telah memicu perubahan siklus hidrologi secara ekstrem. Dampaknya terlihat melalui meningkatnya frekuensi banjir, longsor, kekeringan, hingga gagal panen di berbagai negara.

“Kenaikan suhu bumi yang sangat cepat ini menyebabkan siklus hidrologi menjadi semakin ekstrem. Kita menyaksikan dalam satu kawasan terjadi banjir besar, sementara wilayah lain mengalami kekeringan. Fenomena ini oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan disebut sebagai climate boiling,” ujar Dwikorita dalam Forum Pemikiran Bulaksumur bertema Krisis Iklim, Mitigasi Bencana, dan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan di Balai Senat UGM, Rabu (24/6/2026).

Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu menjelaskan kenaikan suhu global sekitar 1,55 derajat celcius selama sekitar 170 tahun terakhir telah melampaui target yang sebelumnya diperkirakan baru akan tercapai menjelang tahun 2100.

Menurutnya, percepatan pemanasan global tersebut memicu meningkatnya bencana geohidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga gangguan terhadap produksi pangan dunia.

“Ketika hampir seluruh negara mengalami gagal panen, kita tidak bisa lagi bergantung pada impor pangan. Karena itu, akar persoalannya harus diselesaikan sejak sekarang, yaitu bagaimana manusia mengurangi penyebab perubahan iklim sekaligus memperkuat kemampuan adaptasi masyarakat,” katanya.

Dwikorita menilai strategi mitigasi perubahan iklim harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap berbagai risiko bencana. Pendekatan tersebut, menurutnya, perlu menggabungkan pemanfaatan teknologi tepat guna dengan kearifan lokal yang telah berkembang di masyarakat.

Ia mencontohkan pengalaman mahasiswa Kuliah Kerja Nyata UGM yang melakukan pemetaan wilayah rawan bencana bersama masyarakat sekaligus mengidentifikasi kelompok rentan sebagai prioritas perlindungan saat terjadi bencana.

“Pendidikan masa depan harus mengedepankan problem-based learning sehingga mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga bekerja bersama masyarakat menyelesaikan persoalan nyata,” ujarnya.

Dalam forum yang sama, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menilai transisi menuju energi terbarukan menjadi salah satu langkah strategis untuk menekan laju perubahan iklim sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

“Pertumbuhan ekonomi membutuhkan elektrifikasi. Konsumsi listrik per kapita Indonesia masih relatif rendah sehingga peningkatan kapasitas energi menjadi prasyarat menuju negara maju,” kata Gita.

Ia juga mengingatkan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tetapi harus mampu menjadi pencipta inovasi melalui investasi pada riset dan pengembangan kapasitas nasional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM Selo mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempercepat lahirnya inovasi teknologi ramah lingkungan yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim.

Menurutnya, berbagai riset yang dikembangkan di lingkungan kampus harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian bangsa di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Konteks ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim sebenarnya mulai terlihat di berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi pangan dunia telah berulang kali memperingatkan risiko penurunan produksi pertanian akibat cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat upaya mitigasi perubahan iklim dan penguatan ketahanan pangan menjadi agenda strategis yang tidak lagi bisa ditunda.

(sukadana)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.