Podiumnews.com / Kolom / Opini

Bali Membutuhkan Penafsir

Oleh Nyoman Sukadana • 29 Agustus 2026 • 21:55:00 WITA

Bali Membutuhkan Penafsir
Menot Sukadana (AI/Vector)

AWALNYA cuma soal buku. Saya dan Angga Wijaya duduk di sebuah warung kopi sederhana di Dalung beberapa hari lalu, membicarakan buku kedua dan ketiga saya yang kembali berubah struktur. Beberapa esai harus dipindahkan. Tema-temanya ternyata membentuk kelompok yang berbeda dari rancangan awal.

Lalu pembicaraan melebar. Itu bukan hal baru jika saya bertemu Angga. Lebih dari dua puluh tahun ia menjadi jurnalis, produktif menulis esai, dan menerbitkan buku. Saya beberapa kali pernah mengatakan kepadanya bahwa Bali hari ini membutuhkan orang-orang yang mau mengambil pekerjaan lebih jauh dari sekadar mencatat peristiwa.

Bali membutuhkan orang yang mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Bali.

Kalimat itu muncul lagi karena sebagian tulisan yang sedang kami kelompokkan ternyata berangkat dari persoalan yang saling berhubungan. Tanah, pariwisata, investasi, kota, lingkungan, pers, sampai perubahan kehidupan masyarakat Bali. Masing-masing bisa berdiri sebagai tulisan sendiri. Tetapi ketika dibaca berurutan, hubungan di antara persoalan itu semakin terlihat.

Hari ini kita membaca sawah dijual. Besok vila dibangun. Hari berikutnya harga tanah naik. Di halaman lain muncul berita kemacetan, krisis air, sampah, rumah yang semakin mahal, investasi baru, atau jalan desa yang semakin padat.

Dalam kerja jurnalistik harian, semuanya merupakan peristiwa berbeda. Masing-masing mempunyai narasumber, data dan momentum sendiri. Tetapi setelah cukup lama mengikuti Bali, muncul pertanyaan lain: apakah sebagian dari peristiwa itu sebenarnya sedang menceritakan perubahan yang sama?

Siapa yang menghubungkannya?

Penafsir Lama

Bali sebenarnya tidak asing dengan wartawan yang mengambil pekerjaan semacam itu.

Generasi terdahulu melahirkan Gde Aryantha Soethama, Putu Setia, Putu Fajar Arcana, dan sejumlah nama lain yang hidup di dunia jurnalistik tetapi tidak berhenti pada berita. Mereka menulis esai, sastra, catatan kebudayaan, dan berbagai persoalan masyarakat yang berlangsung di sekelilingnya.

Putu Setia, misalnya, menerbitkan Menggugat Bali: Menelusuri Perjalanan Budaya pada 1986. Catatan-catatannya merekam perubahan sosial dan budaya Bali sejak dekade sebelumnya, dari ritual, kesenian, arsitektur, kehidupan desa sampai perkembangan pariwisata.

Gde Aryantha Soethama juga membaca Bali dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Adat, kasta, pariwisata, ritual, hubungan sosial, sampai berbagai keganjilan yang muncul ketika Bali bergerak semakin jauh ke dalam ekonomi pariwisata menjadi bahan tulisan.

Putu Fajar Arcana menempuh jalur yang mempertemukan pekerjaan jurnalistik dengan sastra, seni dan esai.

Mereka tentu mempunyai gaya dan perhatian yang berbeda. Namun mereka hidup pada masa ketika Bali sedang menghadapi gelombang perubahan tertentu.

Pariwisata tumbuh cepat. Kuta berubah. Hotel dan wisatawan bertambah. Modernisasi masuk semakin jauh ke desa dan rumah tangga. Adat, agama, kesenian dan struktur sosial harus berhadapan dengan ekonomi baru yang semakin kuat.

Pertanyaan pada masa itu banyak berkisar pada manusia dan kebudayaan Bali.

Apa yang berubah ketika pariwisata menjadi kekuatan ekonomi utama? Bagaimana adat bekerja dalam masyarakat yang semakin modern? Apa yang terjadi pada ritual ketika kebutuhan ekonomi masyarakat berubah? Bagaimana kebudayaan mempertahankan fungsi sosialnya ketika pada saat bersamaan menjadi sesuatu yang dijual kepada wisatawan?

Bahkan kegelisahan tentang identitas Bali sering muncul dari benturan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Orang Bali mulai bekerja di hotel, sawah bersentuhan dengan kawasan wisata, kesenian masuk panggung pertunjukan, desa menerima lebih banyak orang luar.

Para penulis pada masa itu membaca Bali yang mereka hadapi.

Bali Berubah

Persoalan hari ini tidak sepenuhnya sama.

Pariwisata tetap menjadi latar besar, tetapi setelah puluhan tahun dampaknya sudah bergerak semakin jauh ke persoalan ruang hidup.

Tanah menjadi salah satu contoh paling mudah terlihat.

Sawah bukan lagi hanya tempat produksi pertanian. Tanah keluarga tidak lagi semata warisan. Di berbagai kawasan Bali, terutama Bali selatan, tanah juga menjadi aset investasi dengan harga sangat tinggi. Ia bisa berubah menjadi vila, perumahan, restoran, rumah kos, gudang, tempat usaha, atau sekadar disimpan sambil menunggu harga berikutnya.

Perubahan itu tidak berhenti pada transaksi tanah.

Ketika sawah berubah fungsi, struktur ruang ikut berubah. Ketika harga tanah naik, harga rumah ikut terdorong. Ketika vila dan perumahan bertambah, kebutuhan air meningkat. Kendaraan bertambah. Gang dan jalan desa menerima beban yang sebelumnya tidak pernah dirancang untuk ditanggung.

Bali juga semakin urban.

Denpasar memang kota. Tetapi kehidupan urban Bali sudah lama melewati batas administrasi Denpasar. Sebagian Badung dan Gianyar berkembang menjadi satu hamparan kawasan yang semakin padat.

Nama wilayahnya masih desa. Banjar tetap bekerja. Pura tetap berdiri. Upacara berlangsung seperti biasa. Tetapi pemandangan di sekitarnya sudah berubah.

Sawah berdampingan dengan coffee shop. Rumah keluarga bersebelahan dengan rumah kos. Gang desa menjadi jalur kendaraan. Penduduk lama hidup berdampingan dengan pekerja dari berbagai daerah, wisatawan jangka panjang, ekspatriat dan pemilik usaha dari berbagai negara.

Cara orang bekerja pun berubah.

Generasi muda Bali masuk ke hotel, restoran, perusahaan teknologi, industri kreatif, pemasaran digital, produksi konten, pekerjaan lepas dan profesi lain yang nyaris tidak dikenal generasi orang tuanya.

Laptop menjadi alat kerja. Coffee shop sekaligus menjadi ruang rapat.

Dari sana muncul persoalan kelas yang juga menarik dibaca. Sebuah keluarga dapat mempunyai tanah bernilai miliaran rupiah, tetapi pendapatan bulanannya biasa saja. Seorang anak muda bisa menjadi calon pewaris aset mahal tetapi tetap kesulitan membeli rumah dari penghasilannya sendiri.

Bali mempunyai semakin banyak orang kaya aset yang belum tentu kaya pendapatan.

Masalah air juga tidak bisa dibaca sendiri. Ia berkaitan dengan kepadatan bangunan, penduduk dan kegiatan ekonomi. Sampah bersentuhan dengan pola konsumsi dan jumlah orang yang beraktivitas di Bali. Kemacetan bukan sekadar persoalan kendaraan, tetapi juga tata ruang, tempat tinggal, lokasi pekerjaan, transportasi publik dan persebaran kegiatan pariwisata.

Tanah, air, jalan, rumah, investasi dan pekerjaan akhirnya bertemu dalam ruang yang sama.

Itulah sebagian Bali yang perlu dijelaskan hari ini.

Mencari Pola

Di situlah saya melihat salah satu fungsi esai.

Bukan karena esai lebih tinggi dibandingkan berita. Pekerjaannya memang berbeda.

Berita memberitahu pembaca apa yang terjadi. Reporter mencari fakta, melakukan verifikasi, menemui narasumber dan menyampaikan perkembangan terbaru.

Esai memiliki ruang untuk bekerja setelah fakta-fakta itu terkumpul. Penulis bisa bertanya mengapa sesuatu terjadi, mencari hubungan dengan peristiwa lain, melihat sejarahnya, membuka data atau penelitian, lalu mengajukan pandangannya.

Satu sawah dijual adalah peristiwa.

Jika sawah terus berkurang, vila bertambah, harga rumah naik, air semakin tertekan, penduduk bergerak ke pinggiran dan jalan semakin sesak, kita mungkin sudah tidak lagi berhadapan dengan sekumpulan peristiwa terpisah.

Kita sedang melihat pola.

Menemukan pola membutuhkan waktu. Penulis harus membaca lebih dari satu berita. Ia perlu mengikuti persoalan cukup lama, membuka arsip, membandingkan data dan sesekali kembali ke lapangan.

Penafsir yang saya maksud bukan orang yang merasa mempunyai jawaban untuk semua persoalan Bali. Ia tetap harus bekerja dengan fakta. Tafsir tanpa fakta mudah berubah menjadi komentar.

Karena itulah wartawan sebenarnya mempunyai modal yang besar.

Dalam percakapan dengan Angga di Dalung, perkara ini ikut kami bicarakan. Wartawan menghabiskan bertahun-tahun bertemu pejabat, petani, warga, pengusaha, akademisi, aktivis dan politisi. Mereka membaca dokumen, mendatangi lokasi, mengikuti konflik, melihat kebijakan berganti dan menyaksikan perubahan suatu wilayah dari dekat.

Namun sebagian besar pengalaman itu selesai sebagai berita harian.

Berita terbit. Wartawan kemudian mengejar peristiwa berikutnya.

Setelah sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh tahun, sebenarnya tersimpan banyak pengalaman yang bisa dibaca kembali. Seorang wartawan yang mengikuti Badung sejak dua puluh tahun lalu, misalnya, tidak hanya mempunyai koleksi berita. Ia telah menyaksikan perubahan harga tanah, jalan, permukiman, pariwisata, politik, pekerjaan dan kehidupan masyarakat.

Bahan semacam itu terlalu sayang kalau seluruhnya berhenti di arsip berita.

Punya Suara

Ada hal lain yang juga kami bicarakan.

Wartawan memang harus menjaga independensi ketika menulis berita. Pendapat pribadi tidak boleh diselundupkan menjadi fakta. Ketidaksukaan kepada seorang pejabat tidak boleh membuat berita berubah menjadi serangan. Kedekatan dengan narasumber juga tidak boleh membuat fakta yang merugikannya disembunyikan.

Tetapi independensi bukan berarti wartawan harus kehilangan pendapat.

Media sejak lama menyediakan tempat untuk itu: kolom dan opini.

Dalam kolom, wartawan dapat menyampaikan pandangannya sendiri. Ia bisa mengkritik kebijakan, membaca kecenderungan politik, menghubungkan sejumlah peristiwa, menggunakan teori, membuka arsip atau menawarkan sudut pandang lain.

Pembaca sejak awal mengetahui bahwa yang dibacanya merupakan pendapat penulis.

Kolom berbeda dengan editorial.

Kolom membawa suara pribadi. Pendapat dan argumentasinya menjadi tanggung jawab orang yang namanya tercantum sebagai penulis.

Editorial merupakan suara institusional media. Ia mencerminkan sikap redaksi atau politik redaksi perusahaan media terhadap suatu persoalan.

Jadi seorang wartawan tidak perlu memasukkan pendapat ke dalam berita agar mempunyai suara. Ruangnya sudah lama tersedia.

Pertanyaannya justru sederhana: seberapa banyak wartawan menggunakan ruang tersebut?

Ruang Tumbuh

Bali sebenarnya mempunyai beberapa tempat yang cukup lama merawat tulisan semacam itu.

Tatkala memberi ruang besar untuk esai, sastra, kebudayaan dan pembacaan atas kehidupan sehari-hari. BaleBengong juga membuka ruang bagi warga untuk menulis opini mengenai pembangunan, lingkungan, kota, kebudayaan dan berbagai persoalan publik.

Belakangan saya melihat perkembangan menarik di media berita.

NusaBali mulai lebih rutin dan memberi ruang yang lebih besar untuk menerbitkan kolom opini dari berbagai kalangan. Penulisnya datang dari beragam latar belakang dan membicarakan berbagai persoalan. Ruang tersebut diasuh Made Sugianto, jurnalis yang juga lama bersentuhan dengan dunia sastra dan buku.

Menurut saya perkembangan itu penting. Media berita tidak hanya menyediakan deretan hard news, tetapi juga memberi tempat bagi orang-orang yang ingin membawa fakta dan pengalaman ke pembacaan yang lebih panjang.

Di Pos Bali, Alit Sukarta juga cukup produktif menulis esai. Ia banyak bergerak dari pengalaman dan pengamatan sehari-hari menuju persoalan sosial yang lebih luas.

Gus Hendra mengambil wilayah yang berbeda. Ia cukup rutin menulis analisis politik di Pos Merdeka, media yang bersama Pos Bali berada dalam Grup Gema Merdeka yang juga bergerak di bidang radio. Politik lokal Bali, pilkada, partai, pergantian kekuasaan sampai dinamika politik nasional menjadi wilayah yang banyak dibacanya. Jejak analisis politik Gus Hendra di Pos Merdeka juga masih terlihat hingga 2026.

Kadek Saputra di OborDewata juga menjadi bagian dari wartawan yang mulai menggunakan ruang di luar hard news. Di belakang mereka terlihat pula sejumlah wartawan yang jauh lebih muda, termasuk generasi Z, mulai mencoba menulis esai dan opini.

Saya belum berani menyebut semuanya sebagai gelombang baru esai di kalangan wartawan Bali.

Tetapi gejalanya menarik.

Mereka juga tidak harus menjelaskan Bali dari tema yang sama.

Gus Hendra dapat membacanya melalui politik. Alit Sukarta melalui kehidupan sosial. Penulis lain bisa masuk dari tanah, kota, lingkungan, ekonomi, pendidikan, adat, pariwisata atau kehidupan anak muda.

Bali terlalu luas untuk dijelaskan oleh satu jenis penulis.

Zaman Digital

Tantangan generasi sekarang justru berbanding terbalik dengan wartawan dan penulis beberapa dekade lalu.

Dulu ruang publikasi terbatas. Halaman koran hanya sekian. Sebuah tulisan harus melewati redaktur, bersaing dengan naskah lain dan menunggu giliran terbit.

Sekarang ruangnya hampir tidak terbatas.

Media daring tidak kekurangan halaman. Satu media dapat menerbitkan puluhan tulisan sehari. Seorang penulis dapat memiliki ratusan artikel. Tulisan yang terbit bertahun-tahun sebelumnya juga masih bisa ditemukan mesin pencari.

Masalah generasi sekarang bukan lagi kekurangan ruang.

Perhatian pembaca yang justru semakin terbatas.

Esai harus bersaing dengan berita cepat, media sosial, video pendek, podcast, notifikasi telepon dan ribuan konten yang masuk setiap hari.

Menerbitkan tulisan sekarang jauh lebih mudah dibandingkan ketika halaman koran menjadi satu-satunya pintu. Tetapi membuat orang terus mengikuti pemikiran seorang penulis selama bertahun-tahun mungkin justru lebih sulit.

Itulah sebabnya produktivitas saja tidak cukup.

Penulis membutuhkan ketekunan mengikuti persoalan.

Seseorang bisa bertahun-tahun mengikuti tanah dan perubahan ruang. Yang lain membaca politik lokal. Penulis lain memilih kota, pariwisata, lingkungan, ekonomi atau perubahan sosial.

Setelah puluhan bahkan ratusan tulisan, perlahan terlihat wilayah yang terus dibaca oleh seorang penulis.

Esai kemudian tidak hanya menjadi kumpulan pendapat.

Ia menjadi arsip pemikiran.

Bukan Ocehan

Tentu tidak semua tulisan opini otomatis mampu menjelaskan sesuatu.

Bali juga tidak membutuhkan semakin banyak orang yang hanya mengatakan setuju atau tidak setuju.

Pendapat perlu bertemu fakta.

Pengalaman lapangan perlu dibandingkan dengan data. Peristiwa hari ini kadang harus dibawa ke arsip untuk mengetahui apa yang terjadi sepuluh atau dua puluh tahun sebelumnya.

Penelitian akademik juga perlu lebih sering dibawa ke bahasa publik.

Banyak penelitian bagus mengenai Bali tersimpan di jurnal ilmiah, tesis, disertasi atau laporan penelitian. Isinya penting, tetapi tidak seluruh masyarakat mempunyai waktu dan kemampuan untuk membaca puluhan halaman tulisan akademik.

Di sisi lain, berita bekerja dengan kecepatan harian. Wartawan tidak selalu mempunyai ruang mengurai sebuah penelitian panjang ketika harus segera memberitakan peristiwa.

Esai dapat bekerja di antara keduanya.

Ia mengambil fakta dari berita, data dari penelitian, pengalaman dari lapangan, ingatan dari arsip, lalu mengolah semuanya dalam bahasa yang bisa diikuti pembaca umum.

Generasi Aryantha Soethama, Putu Setia, Putu Fajar Arcana dan penulis pada masanya menghadapi Bali ketika pariwisata, adat, kebudayaan, agama dan modernisasi menjadi persoalan besar.

Generasi sekarang menerima lapisan berikutnya.

Tanah dan ruang hidup. Urbanisasi. Investasi. Lingkungan. Kelas sosial. Migrasi. Teknologi. Politik. Pekerjaan baru. Cara tinggal yang berubah. Anak muda yang menghadapi Bali berbeda dari Bali orang tuanya.

Berita akan terus mencatat semua peristiwanya. Kampus akan terus menghasilkan penelitian.

Tetapi seseorang tetap perlu membaca hubungan di antara semuanya.

Bali membutuhkan penafsir. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.