Podiumnews.com / Kolom / Opini

Dari Redaksi ke Buku

Oleh Nyoman Sukadana • 01 September 2026 • 19:59:00 WITA

Dari Redaksi ke Buku
Menot Sukadana (AI/Vector)

PEKERJAAN seorang publisher sering berakhir ketika kantor sudah mulai sepi. Berita terakhir sudah naik, editor pulang, tetapi masih ada laporan trafik yang perlu dilihat, tagihan yang belum dibereskan, proposal iklan yang harus dijawab, persoalan wartawan yang menunggu keputusan, sampai urusan server yang mendadak ikut meminta perhatian.

Di titik itu, meja redaksi berubah menjadi meja usaha.

Perubahan tersebut wajar. Media tidak hidup dari idealisme semata. Wartawan perlu digaji, kantor membutuhkan biaya, teknologi harus dipelihara, sementara pemasukan tidak selalu datang sesuai jadwal. Seseorang yang semula masuk ke dunia pers karena menyukai berita akhirnya harus belajar membaca neraca.

Ada yang kemudian betah menjadi pengusaha media. Ada pula yang tanpa disadari semakin jauh meninggalkan pekerjaan yang dahulu membawanya masuk ke dunia ini: menulis.

Saya justru melihat persoalan di sana.

Membangun media memang menghasilkan institusi. Namun pengalaman panjang mengelolanya seharusnya juga menghasilkan karya.

Sejarah pers Indonesia memberikan banyak contoh bahwa ruang redaksi dan dunia buku sebenarnya tidak pernah terlalu berjauhan. Mochtar Lubis barangkali salah satu contoh paling jelas.

Ia mendirikan Harian Indonesia Raya pada 28 Desember 1949 dan menjadi pemimpin redaksinya. Koran itu terkenal keras mengkritik kekuasaan, baik pada masa Soekarno maupun ketika Orde Baru mulai tumbuh. Pemerintah membungkam Indonesia Raya, Mochtar Lubis dipenjara, kemudian medianya hidup kembali sebelum kembali diberangus setelah Peristiwa Malari 1974.

Tetapi Mochtar Lubis tidak tinggal sebagai nama dalam sejarah sebuah surat kabar.

Di luar ruang redaksi, ia menulis Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Harimau! Harimau!, Maut dan Cinta, hingga Manusia Indonesia. Tajuk-tajuknya di Indonesia Raya kemudian juga dibukukan dan masih dapat dibaca puluhan tahun setelah koran tempat tulisan itu pertama kali terbit tak lagi berada di kios.

Di sinilah perbedaan umur berita dan umur karya mulai terlihat.

Berita tentang korupsi yang terbit pada suatu pagi mungkin sangat penting pada zamannya. Beberapa hari kemudian halaman koran sudah berganti. Puluhan tahun setelah itu, orang yang ingin memahami cara Mochtar Lubis melihat kekuasaan tidak perlu mencari tumpukan koran satu per satu. Sebagian kegelisahan itu telah berpindah tempat ke dalam buku.

Penelitian Dadang S. Anshori dari Universitas Pendidikan Indonesia terhadap tajuk-tajuk Mochtar Lubis bahkan menemukan karakter yang sangat kuat pada bahasa kritiknya: sederhana, terus terang, tidak ambigu, dan jauh dari eufemisme. Pengalaman jurnalistik akhirnya tidak berhenti sebagai kegiatan memproduksi berita. Ia membentuk sebuah cara berpikir dan cara menggunakan bahasa.

Mungkin itulah modal yang sering tidak disadari oleh orang yang terlalu lama berada di redaksi.

Setelah bertahun-tahun menghadapi pejabat, pengusaha, aktivis, akademisi, polisi, warga biasa, dokumen pemerintah, konferensi pers, sengketa, pemilu, bencana, dan berbagai perubahan sosial, seorang wartawan sebenarnya sedang mengumpulkan bahan yang luar biasa banyak tentang zamannya.

Masalahnya, bahan itu sering dibiarkan lewat bersama berita.

Redaksi memang menuntut kecepatan. Hari ini menulis APBD, besok konflik tanah, lusa kemacetan, kemudian pariwisata, politik, kriminalitas, harga pangan, atau persoalan lain. Reporter berpindah dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya karena berita tidak pernah menunggu seseorang selesai merenung.

Buku bekerja sebaliknya.

Ia meminta penulis berhenti sebentar, membuka kembali catatan lama, menemukan hubungan antara peristiwa yang sebelumnya terlihat terpisah, kemudian bertanya: sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Karena itu, perjalanan dari redaksi menuju buku tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan jurnalistik. Bisa jadi justru di sanalah pengalaman jurnalistik memperoleh bentuk yang lebih utuh.

Goenawan Mohamad menunjukkan jalur yang berbeda.

Ia ikut mendirikan Tempo pada 1971 dan menjadi pemimpin redaksi. Tempo kemudian tumbuh menjadi salah satu institusi pers terpenting di Indonesia, mengalami pembredelan, terbit kembali, lalu berkembang menjadi kelompok media. Namun di tengah kehidupan institusional itu, Goenawan mempertahankan satu kebiasaan yang tampak sederhana: menulis.

Catatan Pinggir bermula dari halaman belakang Tempo. Tulisan-tulisan tersebut kemudian hidup jauh melampaui fungsi awalnya sebagai sebuah kolom mingguan. Tempo mencatat Catatan Pinggir berlangsung selama 46 tahun, sementara kumpulannya berkembang menjadi banyak jilid buku. Profil Goenawan di Tempo kini mencatat Catatan Pinggir telah terhimpun dalam 14 jilid.

Menariknya, kolom itu awalnya bahkan bukan proyek besar.

Goenawan pernah bercerita bahwa Catatan Pinggir bermula karena ada halaman kosong yang perlu diisi. Kebiasaan membaca dan mencoret pinggir buku kemudian melahirkan bentuk tulisan yang bertahan puluhan tahun.

Sebuah ruang kecil dalam majalah akhirnya membangun jejak kepenulisan yang sama kuatnya dengan posisi Goenawan sebagai pendiri Tempo.

F. Budi Hardiman pernah melihat kekuatan Catatan Pinggir pada kemampuan penulisnya menghubungkan peristiwa dengan beragam gagasan dan tokoh pemikir. Ia juga menyinggung stamina intelektual yang membuat tulisan-tulisan tersebut terus hadir dengan variasi yang luas.

Kata pentingnya mungkin bukan “intelektual”, melainkan stamina.

Mengelola media mudah membuat seseorang merasa bahwa membaca dan menulis bisa dilakukan nanti. Selalu ada pekerjaan yang terlihat lebih mendesak. Rapat perlu diselesaikan, pemasukan harus dicari, konflik internal mesti dibereskan. Menulis akhirnya menunggu waktu luang.

Padahal waktu luang hampir tidak pernah datang kepada pengelola media.

Kalau karya dianggap penting, ia harus mendapat ruang seperti pekerjaan lainnya.

Bukan berarti publisher harus berubah menjadi penulis paling produktif di medianya sendiri. Bahkan itu bisa berbahaya apabila media kemudian hanya menjadi panggung bagi pemiliknya. Jarak antara kepentingan publisher dan independensi redaksi tetap harus dijaga.

Persoalannya bukan seberapa sering seorang publisher muncul di medianya.

Pertanyaannya lebih sederhana: setelah puluhan tahun berada di tengah begitu banyak peristiwa, adakah sesuatu yang ia tinggalkan selain perusahaan?

Jakob Oetama memberikan contoh menarik dari sisi yang sedikit berbeda.

Bersama P.K. Ojong, ia membangun Kompas hingga berkembang menjadi kelompok media besar. Jusuf Wanandi menyebut Jakob bukan sekadar pemilik bisnis media, melainkan sosok yang memiliki perhatian luas terhadap berbagai persoalan. Vedi R. Hadiz juga melihat kontribusi Jakob melampaui perusahaan yang dibangunnya karena ia ikut memberi ruang bagi kehidupan intelektual yang lebih luas.

St. Sularto membaca praktik jurnalistik Jakob sebagai usaha memberi makna terhadap peristiwa. Pemikiran itu penting karena menunjukkan perbedaan antara sekadar memproduksi berita dan mencoba memahami zaman.

Berita mengatakan sesuatu telah terjadi.

Pengalaman membantu menjelaskan mengapa hal itu terus terjadi.

Karya mencoba mencari maknanya.

Ketiganya tidak selalu bisa dikerjakan dalam satu tulisan berita.

Itulah sebabnya seorang wartawan yang telah melewati banyak peristiwa sebenarnya memiliki modal untuk menulis sesuatu yang tidak dimiliki orang yang hanya datang belakangan melalui dokumen. Ia pernah mencium suasana ruang rapat, melihat perubahan wajah sebuah kota, mengetahui bagaimana pejabat berbicara ketika kamera menyala dan bagaimana percakapan berubah setelah wawancara selesai.

Semua itu tentu bukan pengganti fakta. Pengalaman tetap harus diuji dengan dokumen, data, wawancara, dan disiplin verifikasi.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menempatkan verifikasi sebagai inti jurnalisme. Bagi mereka, pekerjaan wartawan bukan sekadar mengumpulkan informasi, melainkan memeriksa mana yang dapat dipercaya, kemudian menyusunnya agar masyarakat dapat memahami arti informasi tersebut. Ketika banjir data semakin besar, kebutuhan terhadap orang yang mampu memverifikasi dan memberi konteks justru meningkat.

Prinsip itu seharusnya ikut dibawa ketika wartawan menulis buku.

Buku seorang jurnalis tidak perlu berubah menjadi karya akademik yang dipenuhi teori. Kekuatan utamanya justru bisa berasal dari kemampuan jurnalistik: menemukan fakta, membaca dokumen, berbicara dengan orang, membandingkan keterangan, melihat perubahan di lapangan, lalu menyusunnya menjadi cerita yang dapat dipahami.

Katharine Graham memperlihatkan bagaimana pengalaman mengelola media bahkan dapat berubah menjadi dokumen sejarah.

Ia menjadi publisher The Washington Post pada 1969 hingga 1979 dan memimpin perusahaan dalam periode yang mencakup Pentagon Papers serta Watergate. Bertahun-tahun kemudian, pengalaman itu ditulis dalam Personal History. Buku tersebut tidak berhenti sebagai memoar keluarga atau cerita seorang pemilik koran. Pada 1998, karya itu memenangkan Pulitzer Prize untuk Biography.

Peristiwa yang dahulu memenuhi halaman depan akhirnya dibaca kembali dari meja seseorang yang berada di jantung keputusan perusahaan.

Nilainya bukan karena Graham mempunyai jabatan tinggi. Yang membuatnya penting adalah pengalaman institusional itu diolah menjadi cerita.

Banyak publisher sebenarnya mempunyai bahan serupa dalam skala masing-masing.

Tidak harus pernah menghadapi Watergate.

Pemilik media lokal yang bekerja dua puluh atau tiga puluh tahun mungkin telah menyaksikan sebuah kota berubah dari sawah menjadi perumahan. Ia melihat politik lokal berganti generasi, menyaksikan harga tanah melonjak, mengenal pejabat sebelum dan sesudah memiliki kekuasaan, mengikuti konflik adat, perubahan ekonomi, pertumbuhan pariwisata, migrasi penduduk, sampai perubahan cara masyarakat memperoleh informasi dari koran menuju telepon genggam.

Bahan seperti itu sulit dibeli.

Namun pengalaman mempunyai satu kelemahan: ia ikut menua bersama pemiliknya.

Ingatan memudar. Dokumen tercecer. Nama-nama terlupakan. Detail yang dahulu terlihat jelas perlahan menjadi samar.

Menulis adalah salah satu cara melawannya.

Karena itu, saya tidak melihat buku sebagai tahap pensiun seorang wartawan. Tidak perlu menunggu berhenti dari redaksi untuk mulai menyusun karya.

Justru redaksi bisa menjadi laboratorium yang terus memasok bahan.

Berita hari ini mungkin menjadi catatan untuk esai bulan depan. Serangkaian esai dapat memperlihatkan pola yang sebelumnya tidak terlihat. Setelah beberapa tahun, pola tersebut mungkin cukup kuat untuk berkembang menjadi buku.

Prosesnya berlangsung alamiah.

Media tetap menjalankan tugas jurnalistiknya. Publisher mengurus keberlanjutan perusahaan. Pada saat yang sama, pengalaman yang terkumpul tidak dibiarkan habis sebagai rutinitas.

Ada alasan lain yang menurut saya semakin penting pada zaman digital.

Perusahaan media dapat berubah sangat cepat. Nama besar bisa mengecil. Platform yang hari ini menghasilkan jutaan kunjungan mungkin beberapa tahun lagi ditinggalkan pembaca. Format berita berganti, algoritma berubah, teknologi datang silih berganti.

Karya memiliki perjalanan yang berbeda.

Mochtar Lubis tidak lagi dapat menerbitkan Indonesia Raya. Namun Jalan Tak Ada Ujung masih dibaca.

Catatan Pinggir tidak lagi hadir dalam bentuk yang sama seperti puluhan tahun sebelumnya. Buku-bukunya tetap berada di rak.

Katharine Graham telah lama meninggal dunia. Personal History masih menjadi pintu bagi orang yang ingin membaca perjalanan The Washington Post dan Washington pada salah satu periode paling menentukan dalam sejarah politik Amerika.

Media mencatat hari.

Buku menghubungkan hari-hari itu menjadi ingatan.

Maka perjalanan dari redaksi ke buku sebenarnya bukan soal naik kelas profesi. Menulis buku tidak membuat seseorang lebih tinggi daripada reporter yang setiap pagi turun ke lapangan. Keduanya bekerja pada jarak waktu yang berbeda.

Reporter menangkap apa yang sedang terjadi.

Publisher memastikan pekerjaan itu dapat terus berlangsung.

Penulis mencoba memahami apa yang tersisa setelah semuanya berlalu.

Beruntunglah seseorang yang dapat menjalani ketiganya.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan membangun perusahaan media memang penting. Kantor bisa berdiri, merek dikenal, pembaca tumbuh, dan bisnis memberikan nafkah bagi banyak orang.

Namun setelah beberapa puluh tahun, mungkin muncul pertanyaan yang jauh lebih pribadi.

Dari ribuan berita yang pernah lewat di depan mata, apa yang benar-benar kita pahami?

Dari kota yang terus berubah, apa yang sempat kita catat?

Dari orang-orang yang datang dan pergi membawa kekuasaan, kekayaan, persoalan, dan cerita, apa yang layak diwariskan kepada pembaca berikutnya?

Barangkali buku bermula dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Bukan karena seorang publisher ingin mempunyai gelar baru sebagai penulis.

Ia hanya tidak ingin seluruh pengalaman panjang di ruang redaksi ikut selesai ketika layar komputer suatu hari dimatikan. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.