Genset Bising Diganti Surya, Pulau Menjangan Kini Terang 24 Jam
BULELENG, PODIUMNEWS.com - Suara genset yang selama bertahun-tahun menjadi sumber listrik Pos Ranger Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat (TNBB), kini mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, panel surya menghadirkan listrik bersih sekaligus mengurangi gangguan terhadap satwa di kawasan konservasi tersebut.
AVIRAMA Foundation secara resmi menyelesaikan tahap commissioning instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off-Grid di Pos Ranger Pulau Menjangan melalui inisiatif bertajuk Solar Horizon Menjangan.
Program ini menjadi model konkret transisi energi adil (Just Energy Transition) di wilayah konservasi terpencil yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN. Bahkan, inisiatif tersebut berhasil masuk dalam jajaran 50 proyek global terbaik Youth4Climate 2025 yang diselenggarakan oleh UNDP Rome Centre bekerja sama dengan Ministry of Energy Security and Environment Italia.
Sebelum PLTS beroperasi, kebutuhan listrik pos ranger sangat bergantung pada genset dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
I Komang Suartawan, Ranger TNBB Post Menjangan, mengatakan untuk memenuhi kebutuhan listrik selama 24 jam, diperlukan sekitar 20 liter BBM. Karena biaya BBM mahal, listrik biasanya lebih diutamakan pada malam hari.
“Jadi ketersediaan listrik kami dulu sangat bergantung pada ketersediaan BBMnya, kalau BBMnya habis, ya sudah tidak ada listrik, cari BBM juga harus menyebrang ke Pulau utama, atau menunggu jadwal aplusan/shift,” ujarnya.
Sebelum panel surya terpasang, listrik di pos bahkan hanya dapat menyala sekitar pukul 19.00 hingga pagi hari. Penggunaan genset bukan hanya menguras BBM, tetapi juga menimbulkan kebisingan yang mengganggu lingkungan sekitar.
Afdha Kharis, Ranger TNBB Post Menjangan, mengatakan keterbatasan listrik juga berdampak pada komunikasi dan pekerjaan administrasi. Petugas harus menggunakan lebih banyak BBM hanya untuk menghidupkan genset dan mengisi daya telepon seluler yang digunakan berkomunikasi antaranggota tim patroli.
“Dampak penggunaan genset ini paling berdampak adalah polusi suaranya yang sangat bising, ini mengganggu satwa endemik seperti menjangan dan khususnya satwa yang sensitif terhadap suara seperti kelelawar,” katanya.
Menurut Afdha, beberapa kawasan batuan karst di Pulau Menjangan menjadi habitat kelelawar. Kebisingan genset pada malam hari juga mengganggu waktu istirahat satwa menjangan atau rusa, bahkan menggeser habitat utama menjangan yang sebelumnya berada di sekitar Pos Ranger.
Kini, sistem PLTS yang dibangun memiliki kapasitas pembangkitan 5,5 kWp dengan penyimpanan baterai LiFePO4 sebesar 12 kWh. Sistem tersebut dirancang untuk menggantikan ketergantungan energi fosil dari genset.
Tahapan proyek dimulai dengan site survey pada Maret 2026 dan dirampungkan pada akhir Juli 2026. Mobilisasi perangkat melalui Pelabuhan Labuan Lalang dilakukan dengan melibatkan Balai TNBB, tim teknis, komunitas pemandu wisata, serta relawan lokal.
Teknisi pemasangan panel surya dari Batari Energy, Catur, mengatakan proses instalasi menghadapi sejumlah tantangan, terutama mobilisasi komponen dan keterbatasan logistik di pulau.
“Kalau kami ada kekurangan komponen, kami perlu menyebrang kembali ke Pulau utama dan menuju kota Singaraja atau Denpasar untuk membeli komponennya,” ujarnya.
Dengan beroperasinya PLTS, fasilitas pelayanan dan pengawasan konservasi di Pulau Menjangan dapat memperoleh listrik sepanjang waktu. Penerangan pos dan dermaga dapat menyala 24 jam untuk mendukung pengawasan, termasuk pencegahan illegal fishing.
Fasilitas pendukung petugas juga ikut meningkat. Listrik memungkinkan penggunaan kulkas untuk menyimpan bahan makanan selama shift penjagaan empat hari, serta mendukung internet dan komputer yang sebelumnya sulit digunakan karena keterbatasan akses listrik.
Direktur AVIRAMA Foundation, Gede Herry Arum Wijaya, mengatakan gagasan program ini muncul ketika ia melihat langsung kondisi Pulau Menjangan.
“Program kami ini bertujuan untuk memberikan akses listrik bersih ke pulau menjangan. Saat pertama kali saya dulu ke Pulau Menjangan, saya mendengar suara berisik dari genset ini, dan saya berpikir, masak iya pulau yang termasuk wilayah konservasi tapi pakai genset yang berisik dan ganggu hewan di area ini,” katanya.
Ia berharap keberadaan panel surya membuat Pos Ranger tidak lagi bergantung pada BBM yang mahal, sekaligus mengurangi polusi suara dan emisi.
Dalam pernyataan resminya, Herry menegaskan program tersebut bukan sekadar menyediakan listrik, tetapi membangun fondasi keberlanjutan.
“Program Solar Horizon Menjangan bukan sekadar tentang menyediakan listrik, melainkan membangun pondasi keberlanjutan. Kawasan konservasi harus menjadi contoh terdepan dalam penggunaan teknologi hijau. Melalui keberhasilan ini, kami optimistis dapat memberikan multiplier effect bagi kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat lokal dan mengakselerasi pencapaian target Bali Net Zero Emission 2045,” tegas Herry.
(angga/sukadana)