Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Bisnis Tidur

Oleh Nyoman Sukadana • 22 September 2026 • 09:30:00 WITA

Bisnis Tidur
Menot Sukadana (AI/Vector)

CUMA modal kasur. Tidak perlu modal produk. Tapi menghasilkan miliaran: bisnis tidur. 

Barangnya tidak pernah berkurang. Tidak pernah habis. Pembeli pulang tanpa membawa kasur. Apalagi bantal. Yang laku cuma satu: waktu semalam. 

Kini, heboh lagi di Kuta. 

Ada satu hotel aktif. Bukan mangkrak. Mau dijual putus. Sekaligus dengan tanah dan bangunannya. 

Harganya? Rp37 militar! 

Luas tanahnya 1.100 meter persegi. Bangunan 1.645 meter persegi. Kamarnya ada 37. Sebanyak 27 sudah menerima tamu. Sepuluh lagi belum kelar. 

Ia tidak sendirian. Saya coba buka portal properti. Astaga. Bertebaran. 

Ada hotel 31 kamar dipasang Rp32 miliar. Di Tuban, 56 kamar minta Rp65 miliar. Ada lagi di Kuta yang lebih jumbo: 173 kamar. Harganya bikin menelan ludah: Rp225 miliar! 

Bali sedang obral hotel. Vila dijual massal. 

Ada apa? 

PHRI Bali tenang-tenang saja. Menjual hotel itu biasa, katanya. Macam-macam alasannya. 

Okupansi rendah? Itu cuma salah satunya. Ada urusan kongsi pecah. Ada yang sekadar tes ombak—ingin tahu harga pasar. 

Ada pula yang sudah angkat tangan. Lelah. Pengelolanya stres. 

Padahal tamu sedang ramai. Aneh, kan? 

Data BPS bicara: hampir 700 ribu turis asing mendarat di Bali dalam sebulan. Okupansi hotel bintang tembus 67 persen. Sepi? Jelas tidak. 

Tapi kamar baru memang terus membiak. Gila-gilaan. 

Tahun 2025 lalu saja, ada 84.500 kamar hotel bintang. Yang nonbintang 70.842 kamar. Totalnya 155 ribu kamar lebih! Setiap hari menunggu. Pintu dibuka. Koper masuk. Lalu tidur. 

Itu belum menghitung ribuan vila di aplikasi sewa harian. Bali memang surganya tempat tidur. 

Hotel adalah bisnis tidur yang paling rapi. Manajemennya top. 

Kamar dinomori. Tarif dipatok. Seprai diganti. Handuk dilipat kencang. Tamu datang sore, besok siang angkat kaki. 

Kasur tetap di sana. TV tetap menempel di dinding. Lemari tidak bergeser satu senti pun. Yang habis cuma satu: hak menghuni. 

Besok malam, barang yang sama dijual lagi. 

Harganya lincah. Mirip harga saham. Malam Minggu beda dengan Selasa. Musim libur beda dengan masa sepi. Di layar ponsel, angka bisa melompat seketika. Hanya gara-gara tanggal digeser sehari. 

Ada kolam renang pribadi? Naik. View sawah? Naik. Bisa jalan kaki ke pantai? Tambah mahal lagi. 

Tidur sudah naik kelas. 

Tapi, geser beberapa kilometer dari situ. Ada tempat tidur lain. Nasibnya beda. 

Lebih sederhana: kamar kos. 

Isinya mirip. Ada kasur, lemari, kamar mandi. Kalau beruntung ada AC. Tapi tamunya beda kelas. Tidak bawa koper liburan. Isinya pakaian kerja, helm, galon air, rice cooker, dan ember plastik. 

Pagi-pagi ia menyalakan motor. Bising. Berangkat kerja. 

Ke mana kerjanya? Bisa jadi ke hotel mewah tadi. Hotel yang tarifnya Rp1 juta semalam. 

Sementara kamar kosnya dibayar bulanan. Cuma Rp1,5 juta untuk 30 malam! Bagi tamu hotel, uang segitu habis dalam semalam. 

Jangan dibandingkan untungnya. Hotel menanggung beban berat. Ada pegawai, listrik genset, cucian linen, komisi aplikasi, pajak, sampai klorin kolam renang. Kos tidak serumit itu. Pemilik kos tinggal duduk manis. 

Tapi lihat wujudnya. Sama-sama beberapa meter persegi. Kasurnya sama-sama busa atau pegas. Harganya? Bumi dan langit. 

Beda nasib bangunan. Beda keberuntungan. 

Ada rumah biasa. Begitu jalannya dilebarkan, mendadak berubah pikiran. Kamar belakang disekat. Dijadikan kos. 

Lalu, bule mulai mondar-mandir di gang itu. Rumah kos naik kelas lagi: jadi guesthouse. 

Ada lagi kontrakan keluarga. Hitungannya tahunan. Bawa kasur sendiri. Bawa anak. Kenalan dengan tetangga. Dua belas bulan kemudian, sang pemilik mulai melirik harga tanah sekitar. Angka sewa langsung dinaikkan. 

Rumahnya sama. Kasurnya sama. Hitungannya yang melompat. 

Tunggu dulu. Ada kasur lain yang lebih ngeri: rumah sakit. 

Ini ranjang yang tidak pernah dipesan untuk akhir pekan. Tidak ada yang mau berlibur di sini. Datangnya pasti tergesa-gesa. Bawa rujukan dokter. Dan muka cemas. 

Rumah sakit juga menghitung okupansi ranjang. Bedanya terbalik dengan hotel. 

Hotel girang kalau kamarnya penuh. Rumah sakit pusing kalau ranjangnya habis. Pasien bisa telantar di lorong. 

Di hotel, tamu bertanya: besok sarapan jam berapa? 

Di rumah sakit, pertanyaannya cuma satu. Kalimatnya pendek tapi penuh harap: kapan boleh pulang? 

Kasur sebetulnya benda mati yang polos. Yang memberi harga adalah alamatnya. Siapa yang tidur di atasnya. Dan untuk apa ia memejamkan mata. 

Di Bali, pariwisata punya sihir. Sihir itu mengubah ruang tidur menjadi komoditas global. Kamar di ujung gang sempit bisa dipajang di layar orang Sydney, London, atau Seoul. 

Lahan tak lagi dihitung untuk tempat berteduh. Kalkulatornya berubah. Jadi berapa kamar, berapa okupansi, berapa kolam renang, berapa menit ke pantai. 

Kadang hitungannya tepat. Menangguk untung besar. Kaya raya. 

Kadang meleset. 

Hotel 40 kamar tetap harus membayar beban. Meski malam itu hanya 15 kamar yang laku. AC lobi tetap harus dingin. Lift tetap naik-turun. Kolam tetap disaring. Gaji pegawai jalan terus. Bangunan mulai minta cat baru. Kutukan biaya tetap. 

Sampai di satu titik, kalkulator harian itu mentok. Pusing. 

Pemilik lelah menghitung recehan per malam. Capek diteror ketidakpastian. 

Kalkulatornya diganti. Menghitung tanah. 

Berapa luasnya. Berapa harga pasaran sekarang. Berapa nilai fisiknya. Lalu: siapa yang mau bayar putus? 

Maka lahirlah iklan itu. 

Tidur tidak lagi diecer. Tidak ada lagi tarif weekday. Tidak ada diskon akhir pekan. Tiga puluh tujuh kamar, lobi, dan kolam renang dibungkus sekaligus. 

Harganya: Rp37 miliar. Cash! 

Bertahun-tahun ia menjual hak tidur kepada ribuan orang asing. Tamunya bisa tidur pulas. Sang pemilik? Justru kerap terjaga. Matanya melek tengah malam. Memikirkan bunga bank, okupansi bulan depan, dan tagihan listrik yang tidak pernah tidur. 

Menjual hotel itu mungkin bukan tanda menyerah. Bukan kalah. 

Pemiliknya cuma ingin satu hal sederhana. Sangat sederhana. 

Malam ini, ia sendiri bisa tidur nyenyak. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.