Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Tuan Muda

Oleh Nyoman Sukadana • 25 September 2026 • 12:05:00 WITA

Tuan Muda
Menot Sukadana (AI/Vector)

AWALNYA cuma iseng.

Niatnya cuma melihat-lihat linimasa sebelum tidur. Tiba-tiba muncul cuplikan video pendek format vertikal.

Adegan pembukanya memancing rasa penasaran: seorang pemuda berkaus lusuh disiram air oleh mertuanya. Dihina miskin habis-habisan.

Mestinya kita lekas tidur. Tapi jempol menolak berhenti. Kita penasaran ingin tahu nasib si pemuda malang itu.

Dan begitu menit kedua tiba, kita langsung tersihir oleh kemunculan sosok legendaris di layar ponsel: Tuan Muda.

Bagi jutaan jempol yang sedang lelah di malam hari, Tuan Muda adalah penawar dahaga.

Formula ceritanya sangat sederhana. Selalu seragam.

Wujud awalnya sengaja dibuat sehina mungkin. Dia jadi menantu numpang di rumah orang kaya. Atau jadi tukang sapu lobi kantor. Atau kurir pengantar barang yang bajunya belepotan lumpur.

Jalannya menunduk. Serba salah.

Lalu datanglah tokoh antagonis: mertua judes, calon ipar parlente, atau manajer hotel bintang lima yang sombongnya selangit.

Si pemuda dimaki habis-habisan. Diludahi. Disuruh berlutut mencium lantai.

Apakah dia membalas dengan petuah bijak?

Tidak. Terlalu bertele-tele.

Apakah dia mengelus dada sambil berdoa agar diberi kesabaran budi pekerti?

Mana sempat.

Tepat di menit kedua, sandiwara pura-pura miskin itu selesai.

Tangannya merogoh saku celana. Mengeluarkan kartu perbankan warna hitam tanpa batas limit: black card.

Lalu pintu aula didobrak. Masuk seratus pria tegap berjas hitam rapi. Berbaris. Membungkuk sembilan puluh derajat serempak:

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Pewaris Takhta!"

Dunia jungkir balik seketika.

Mertua galak yang tadi menyiramkan air mendadak lemas. Dengkulnya gemetar. Tersungkur mencium lantai. Bahkan menampar pipinya sendiri bolak-balik:

Plak! Plak! Plak!

"Tuan Muda, ampuni saya yang bermata buta ini!"

Nikmat sekali melihatnya. Dopamin di otak meledak ke ubun-ubun.

Kita yang menonton sambil rebahan ikut tersenyum lebar. Puas luar biasa.

Tapi kalau mau jujur sejenak: apa sebetulnya yang membuat kita begitu puas?

Bukan karena moralitas menang atas kejahatan. Bukan pula karena budi pekerti berhasil melunakkan hati orang zalim.

Yang kita rayakan murni kemenangan uang banyak menginjak uang sedikit.

Di situlah ironinya.

Di kehidupan sehari-hari, kita ini bangsa yang paling bangga pada kesantunan. Kita menjunjung tinggi adab Timur: gotong royong, tepa selira, ramah tamah, dan rendah hati.

Tapi begitu lampu kamar dipadamkan, nilai-nilai itu menguap tanpa bekas. Kita mendadak mencandu semesta rimba di mana manusia dinilai murni dari saldo rekening. Di mana kesopanan dianggap tanda kelemahan, dan kebaikan hati dicap kebodohan.

Kita ketagihan melihat orang sombong dipermalukan, bukan lewat akhlak, melainkan lewat pamer kekayaan yang jauh lebih brutal.

Pabrik konten di Tiongkok membaca dahaga emosional itu dengan sangat jeli.

Mereka tahu buruh pabrik, kasir minimarket, dan pekerja komuter yang lelah tidak butuh kuliah filsafat film. Mereka hanya butuh pelarian kilat. Katarsis instan.

Maka mesin kecerdasan buatan pun dinyalakan siang dan malam.

Naskahnya digenerasi otomatis oleh algoritma dari ribuan novel online picisan. Latar kantor mewah dan deretan mobil Maybach cukup digambar oleh cip komputer tanpa biaya sewa sepeser pun.

Aktornya bahkan tidak butuh manusia asli.

Dan dinding bahasa yang puluhan tahun jadi penghalang langsung diratakan dengan tanah. Lewat teknologi AI visual lip-sync, aktor berwajah oriental di layar bisa memaki-maki dan pamer harta memakai bahasa Indonesia gaul yang sangat luwes. Gerak bibirnya pas. Desah napasnya meyakinkan.

Biaya produksi anjlok sembilan puluh persen. Tapi daya hisapnya luar biasa buas.

Muslihat pasarnya pun sangat halus.

Episode satu sampai sepuluh sengaja digratiskan. Kita dibikin penasaran setengah mati.

Tepat saat rahasia besar Tuan Muda hendak terbongkar di depan seluruh keluarga besar: klik! Layar mendadak terkunci.

Muncul tawaran manis: bayar Rp3.000 untuk menonton lanjutannya.

Tiga ribu perak. Jauh lebih murah ketimbang secangkir kopi saset di warung.

Jempol kita pun refleks menekan dompet digital. Sekali, dua kali, sepuluh kali.

Tanpa terasa, puluhan ribu rupiah menguap tiap malam dari dompet orang-orang yang gajinya pas-pasan.

Kalikan recehan itu dengan jutaan jempol di Asia Tenggara hingga pelosok Amerika Latin. Triliunan rupiah uang rakyat kecil mengalir tenang ke peladen di Shenzhen dan Shanghai.

Para sineas di Korea Selatan boleh terus berbangga memborong piala Oscar dan merajai karpet merah di Barat.

Tapi Tiongkok memilih jalan berbeda. Mereka menaklukkan dunia lewat pintu belakang: menyelinap ke bawah selimut kamar tidur kita.

Tanpa perlu menyebarkan ideologi politik yang kaku.

Cukup menghadirkan sang Tuan Muda. Sosok fiktif yang pelan-pelan melatih kita untuk menyingkirkan budi pekerti, lalu bersujud khusyuk di hadapan tuhan baru bernama saldo rekening. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.