Tampar Saja
PLAK!
Suaranya renyah. Keras sekali.
Kepala si pemuda terpelanting ke kiri. Rambutnya berantakan. Sudut bibirnya berdarah.
Yang menampar seorang perempuan paruh baya. Gelang emas berderet di pergelangan tangannya. Menyilaukan mata. Matanya melotot. Mulutnya menyemburkan sumpah serapah: dasar menantu benalu.
Adegan itu cuma berlangsung empat detik.
Di layar televisi tabung zaman dulu, tamparan seperti itu pasti kena gunting sensor. KPI bakal ribut. Komisi penyiaran bakal melayangkan surat teguran. Gambar harus diburamkan. Suaranya dipotong.
Di layar ponsel pintar hari ini, tidak ada yang peduli.
Malah tamparan itu yang dicari.
Itu drama mikro vertikal. Asalnya dari Tiongkok. Format layarnya sembilan banding enam belas. Pas dengan genggaman satu tangan.
Durasinya? Sangat pelit: satu setengah menit saja per episode.
Tidak ada basa-basi. Tidak ada adegan melamun di pinggir jendela. Tidak ada zoom-in tiga kali yang bikin mual.
Menit pertama: dihina habis-habisan. Menit kedua: ditampar bolak-balik. Menit ketiga: giliran membalas tamparan.
Lalu layar membeku. Kunci. Mau tahu lanjutannya? Bayar tiga ribu perak.
Murah sekali.
Tiga ribu perak itu tidak ada artinya di kantong kita. Rasanya lebih murah dari sebatang rokok ketengan. Lebih murah dari tarif parkir liar sepeda motor.
Tapi kalikan angka itu dengan seratus episode. Kalikan dengan lima juta orang yang penasaran.
Angkanya gila-gilaan. Miliaran rupiah terbang melintasi laut ke server raksasa di Shenzhen. Tanpa potongan pajak daerah. Tanpa melewati sensor film kita yang biasanya galak setengah mati.
Sinetron televisi kita kalah telak.
Dulu, sinetron kita mengandalkan air mata. Tokoh miskin yang dianiaya cuma bisa lari ke musala. Berdoa sampai subuh. Menyerahkan nasib pada Tuhan. Menunggu petir menyambar rumah orang kaya yang jahat.
Terlalu lambat. Bikin pegal hati.
Orang zaman sekarang tidak sabar menunggu keadilan langit. Hidup di jalanan sudah terlalu keras. Beras mahal. Bensin naik. Bos di kantor suka semena-mena.
Maka, tamparan instan di layar ponsel terasa seperti candu.
Ketika si tokoh miskin tiba-tiba merogoh saku, mengeluarkan kartu ATM hitam tanpa limit, lalu seratus pengawal bersujud: rasanya plong.
Apalagi ketika giliran si mertua arogan yang ganti ditampar sampai pipinya bengkak. Penonton bersorak dalam hati. Dendam terlampiaskan.
Tidak perlu etika. Tidak perlu sopan santun.
Yang berkuasa adalah uang. Siapa punya modal paling besar, dia yang berhak menampar.
Dua hari lalu, saya mampir di sebuah minimarket pinggir jalan. Lewat tengah malam.
Di teras depan, seorang pengemudi ojek daring duduk selonjoran. Jaketnya kusam. Matanya merah menatap layar ponsel yang menyala terang. Jempolnya yang kapalan sehabis seharian mengejar orderan lincah menekan tombol bayar recehan dompet digital.
Di layar kecil itu, suara tamparan terdengar lagi: plak!
Si tukang ojek tersenyum puas. Lelah seharian mendadak lenyap. Untuk satu setengah menit ke depan, ia merasa ikut membalas dendam kepada dunia.
Besok pagi ia tetap harus bangun subuh. Mencari nafkah. Memeras keringat lagi di jalanan.
Dunia nyata memang sering tidak adil. Tapi malam ini, tiga ribu perak sudah cukup untuk membeli rasa menang. (*)
Menot Sukadana