Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Modal Kata

Oleh Nyoman Sukadana • 28 September 2026 • 19:42:00 WITA

Modal Kata
Menot Sukadana (AI/Vector)

MODAL itu ternyata tidak selalu uang. Bisa juga kata-kata. Saya baru benar-benar meresapinya Kamis lalu.

Saat bertemu Angga Wijaya. Di sebuah warung Jawa. Di kawasan Dalung.

Ia jurnalis lepas. Penulis esai. Penulis buku. Sudah lebih dari 20 tahun ia berkecimpung di sana. Dunia kepenulisan.

Makan siang kami ditemani kopi sachet. Obrolan tidak lari ke mana-mana. Hanya seputar yang kami kenal. Media. Tulisan. Buku. Dan bagaimana seseorang bisa terus hidup dari pekerjaan yang bertumpu pada kata-kata.

Angga sudah melangkah jauh. Jauh sekali. Ada dua puluh buku lahir dari tangannya.

"Pengalaman dua dekade itu modal besar," kata saya kepadanya. Jejak sebanyak itu sudah waktunya digarap lebih serius. Dijadikan profesi utama. Atau setidaknya, profesi kedua yang kuat.

Dua puluh tahun bukan lagi sekadar hobi. Dua puluh buku bukan main-main. Ada rekam jejak. Ada keterampilan yang teruji. Ada karya yang bisa dipamerkan.

Percakapan itu makin menyadarkan saya. Membuat saya menoleh ke belakang. Melihat perjalanan saya sendiri.

Belakangan, saya memang mulai serius menatap dunia kepenulisan. Sebagai lorong alternatif. Di luar kerja jurnalistik sehari-hari.

Bukan untuk lari dari media. Apalagi membuang profesi wartawan. Tidak. Saya hanya berpikir: kemampuan menulis berita ini seharusnya bisa naik kelas.

Tentu ada alasan ekonominya.

Bisnis media tak lagi empuk. Saingan meledak. Perhatian pembaca tersita. Kita tidak cuma melawan sesama portal berita. Kita melawan media sosial. Melawan video pendek. Melawan akun agregator. Kreator konten. Bahkan melawan algoritma di layar ponsel.

Dulu, redaksi sangat berkuasa. Merekalah dewan penentu mana berita penting. Sekarang? Sebagian kuasa itu dirampas mesin. Mesin pencari dan media sosial ikut menyeleksi tulisan. Mana yang muncul. Mana yang dibagikan. Mana yang mati sebelum sempat dibaca.

Pasar informasi memang membesar. Tapi kue yang diperebutkan tiap media justru menyusut.

Saya merasakan perubahan itu. Sangat dekat. Mengurus media hari ini bukan cuma soal cari berita. Lalu terbit. Ada urusan distribusi. Pusing soal teknologi. Mesin pencari. Perilaku pembaca. Sampai model bisnis yang terus berganti.

Semuanya bergerak. Bersamaan. Cepat sekali.

Karena itulah pikiran saya terbuka. Kemampuan menulis ini adalah modal. Modal yang bisa dihidupkan di luar ruang redaksi.

Seorang wartawan sebenarnya sudah punya bahan baku. Terbiasa riset. Jago mewawancarai orang. Pandai menyusun fakta. Tahu mencari sudut cerita. Dan tahan bekerja di bawah tenggat waktu.

Sayangnya, bertahun-tahun ilmu itu cuma dipakai untuk satu hal. Memproduksi berita harian. Berita terbit hari ini. Besok dilupakan. Digilas berita lain.

Pernah suatu hari, seorang teman bercerita. Ia juga seorang wartawan yang menulis buku. Dari pekerjaan menulis itu, ia menabung. Sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya bisa membangun rumah kecil. Di kampung halamannya.

Berapa banyak bukunya? Entahlah. Berapa besar honornya? Saya juga tidak tahu. Tapi cerita tentang "rumah kecil di kampung" itu menempel kuat di kepala saya.

Itu bukan rumah megah. Bukan pula sukses yang bombastis. Tapi itu konkret. Pekerjaan menulis ternyata meninggalkan hasil. Umurnya lebih panjang daripada honor liputan yang menguap untuk makan sehari-hari.

Mulailah saya mengintai. Membaca pasar kepenulisan.

Ternyata luas. Ada proyek buku. Biografi. Profil perusahaan. Penyuntingan naskah. Kelas menulis. Dunia yang selama ini luput dari mata saya. Tertutup oleh tebalnya rutinitas media.

Uangnya tidak selalu besar. Pasarnya pun terbatas. Tapi, satu proyek buku bisa bernilai belasan hingga puluhan juta rupiah. Tergantung tingkat kesulitan. Tergantung risetnya. Reputasi penulisnya. Untuk proyek khusus, nilainya bisa berlipat-lipat.

Masalahnya satu. Orang tak akan menyerahkan uang puluhan juta hanya karena kita mengaku bisa menulis.

Mereka minta bukti. Mereka perlu melihat jejak.

Di titik itulah saya sadar. Menjadi wartawan kawakan tidak otomatis membuat Anda dipercaya menulis buku. Pengalaman liputan memang penting. Tapi klien butuh portofolio. Butuh karya yang bisa dibaca, disentuh, dan diperiksa.

Maka saya mulai ngebut. Lebih serius menulis esai. Meracik opini. Menggarap buku.

PodiumNews saya jadikan laboratorium. Tempat bereksperimen. Menguji tema. Menguji gaya bahasa. Merenggangkan napas tulisan dari sekadar berita harian menjadi esai yang utuh. Kelak, itu semua jadi arsip digital. Etalase yang bisa dipamerkan kapan saja.

Saya juga membangun situs pribadi. Tidak perlu mewah. Yang penting kumpul. Agar orang yang ingin mencari jejak saya tidak pusing mengais tulisan yang berserakan di internet.

Bisnis ini gampang dimengerti. Karya lama adalah barang contoh. Orang membeli kemampuan kita hari ini setelah melihat apa yang kita kerjakan di masa lalu.

Karena itu, sebagai pendatang baru di dunia buku, saya memang masih harus belajar. Menulis berita puluhan tahun ternyata beda rasanya dengan menulis buku. Di buku, napas harus panjang. Puluhan ribu kata. Dan pantang kehilangan arah.

Di situlah otot menulis harus dilatih.

Pertemuan di Dalung siang itu kembali mengingatkan saya. Modal penulis tak melulu soal uang. Modalnya adalah waktu yang panjang. Ribuan halaman yang gagal diselesaikan. Buku-buku yang akhirnya terbit. Dan nama yang perlahan berbunyi lewat karya.

Angga sudah menabung modal itu. Selama dua puluh tahun.

Saya? Sedang mulai membangunnya.

Apakah menulis buku akan mematikan media yang menjadi periuk nasi saya? Tidak. Setidaknya bukan sekarang. Media harus terus jalan. Redaksi tetap butuh hidup.

Tapi industri berubah kencang. Ia mengajarkan satu hukum besi: jangan gantungkan napas hanya pada satu jalur.

Kata-kata itu kebal inflasi. Terus hidup. Menghidupi siapa saja yang tekun merangkainya. Maka, rutinitas berita harian pelan-pelan saya geser. Saya mulai berinvestasi. Investasi kata. Aset tersembunyi yang tak akan pernah merugi. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.