Jurnalis Baja
SUPERMAN itu identik dengan Manusia Baja. Terkenal karena ototnya. Karena kemampuannya membelah angkasa. Tapi sejak 1938, ia punya satu pekerjaan yang sangat biasa. Pekerjaan yang membumi. Ia adalah seorang wartawan.
Banyak yang keliru menilai sosok ini. Mengira profesi Clark Kent di surat kabar sekadar penyamaran. Sebuah kedok untuk menyembunyikan jubah pahlawannya. Padahal bukan. Sejak cerita pertamanya, Clark sudah memulai dua karier sekaligus. Sebagai pahlawan super. Dan sebagai reporter Daily Star.
Mari mundur ke tahun 1938. Amerika Serikat sedang limbung. Pemulihan ekonomi yang sempat berjalan kembali terpuruk. Resesi tajam menghantam pada periode 1937–1938. Angka pengangguran kembali melonjak tinggi. Kehidupan kelas pekerja kembali dihimpit kenyataan pahit kelanjutan era Depresi Besar.
Pada masa itu, musuh Superman belum datang dari luar angkasa. Belum ada alien. Belum ada monster raksasa penghancur kota. Penjahat super sekelas Ultra-Humanite atau Lex Luthor bahkan belum diciptakan oleh DC.
Musuhnya membumi. Sangat duniawi. Siapa mereka? Senator korup. Pelobi perang. Pengusaha senjata yang mencari untung dari konflik bersenjata. Pemilik tambang yang mengabaikan keselamatan kerja para buruhnya. Hingga pengusaha minyak licik yang menipu warga. Di mana sebuah karakter fiksi harus ditempatkan untuk bisa bersinggungan langsung dengan persoalan sosial itu? Di ruang redaksi.
Dalam versi latar awal ceritanya, cara Clark mendapat pekerjaan pun sangat jurnalistik. Ia tidak sekadar datang melamar dengan tangan kosong. Sebagai Superman, ia baru saja mencegah kejahatan. Menghentikan sebuah upaya pengeroyokan brutal (lynching). Apa yang ia lakukan setelahnya? Ia mencari telepon. Menghubungi redaksi koran. Menyetorkan laporan peristiwa eksklusif itu langsung ke meja editor. Hasilnya? Ia diterima bekerja.
Keputusan menaruh Clark di koran tentu dipengaruhi sejarah personal. Joe Shuster, sang kreator, punya ikatan batin. Saat masih kecil, ia adalah loper koran. Menjajakan Toronto Daily Star di jalanan untuk menyambung hidup. Kenangan itu membekas. Saat ia merancang tempat kerja pahlawan ciptaannya, nama itu yang muncul. Maka Clark Kent bekerja di Daily Star. Nama koran yang kelak diubah menjadi Daily Planet. Jurnalisme sudah ada di sana sejak halaman pertama. Bahkan pada masa ketika Superman belum punya kemampuan untuk terbang.
Itu sejarahnya. Tapi ada alasan lain yang lebih struktural. Sangat praktis. Sangat terkait dengan dramaturgi penceritaan.
Penulis komik era 1930-an butuh alur yang logis. Di sebuah kota metropolitan, siapa warga sipil yang punya alasan sah untuk selalu dekat dengan peristiwa penting? Wartawan.
Seorang reporter punya akses mencecar pejabat balai kota. Punya alasan mendekati lokasi bencana. Mengendus skandal. Clark Kent butuh kartu pers itu. Semata agar ia tidak harus terus-terusan "kebetulan lewat" di tempat kejadian perkara. Akan sangat konyol jika Superman selalu kebetulan berada di dekat bank yang sedang dirampok. Membela kaum buruh itu memang niat mulia. Tapi fondasi awal penentuan profesinya lahir dari kebutuhan taktis. Kebutuhan agar roda cerita bergulir wajar.
Pola ini terbukti efektif. Dan sangat praktis secara naratif. Karena itu, polanya direplikasi. Profesi jurnalis dengan cepat menjadi perangkat klasik dalam dunia pahlawan super.
Lihat saja Peter Parker. Sang Spider-Man harus bertahan hidup dengan menjadi pekerja lepas. Menjual foto-foto eksklusif aksi pahlawannya sendiri ke surat kabar Daily Bugle. Ia dimarahi redaktur, ditekan tenggat waktu, dan harus puas dengan honor seadanya.
Ada juga Vic Sage. Alter-ego The Question. Sehari-harinya ia adalah jurnalis investigasi televisi. Ia membongkar korupsi pejabat lewat laporan khususnya. Atau Jack Ryder. Sebelum berubah menjadi pahlawan bernama The Creeper, ia juga berasal dari industri media. Para kreator ini sadar sepenuhnya. Menjadi wartawan adalah cara paling masuk akal untuk menaruh karakter tepat di pusat konflik.
Tetapi, Clark Kent tetaplah pelopornya.
Sayangnya, selama hampir sembilan puluh tahun, pembicaraan sering bergeser. Orang lebih suka mengukur seberapa kuat pukulan Superman. Berdebat soal siapa musuh terbesarnya. Atau ribut menentukan aktor mana yang paling pantas memakai kostumnya. Pekerjaan sehari-harinya di redaksi sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap cerita.
Padahal, coba lepaskan jubah merah itu. Buang kemampuannya mengangkat mobil. Singkirkan semua kekuatan fiktifnya. Yang tersisa di meja redaksi itu sangat jelas. Sangat nyata. Seorang pria yang keras kepala mengejar fakta. (*)
Menot Sukadana