Soekarno Kecil
TUN Dr Siti Hasmah Mohamad Ali dimakamkan Senin sore, 28 September lalu. Usianya tepat 100 tahun. Di dekat makam berdiri seorang lelaki yang umurnya bahkan setahun lebih tua.
Mahathir Mohamad.
Pada usia 101 tahun, mantan Perdana Menteri Malaysia itu akhirnya harus berpisah dengan perempuan yang menemaninya selama 70 tahun perkawinan. Mereka bertemu jauh sebelum Malaysia berdiri sebagai negara, ketika sama-sama belajar kedokteran di Singapura pada akhir 1940-an. Agustus lalu, keduanya masih sempat merayakan ulang tahun perkawinan ke-70.
Dua hari setelah istrinya meninggal, Mahathir masuk Institut Jantung Negara di Kuala Lumpur untuk observasi. Putranya, Mokhzani, mengatakan dua hari sebelumnya cukup berat bagi sang ayah, tetapi kondisinya baik dan tidak perlu dikhawatirkan.
Ada sesuatu yang sulit dibayangkan dari umur sepanjang itu. Kita terbiasa menghitung usia dengan tahun. Pada Mahathir, barangkali lebih mudah menghitungnya dengan sejarah.
Ia lahir pada 1925. Ketika Indonesia merdeka, umurnya baru 20 tahun. Soekarno sedang naik ke panggung sebagai pemimpin sebuah republik baru, sementara Mahathir masih seorang anak muda di Malaya.
Kelak, Soekarno menjadi salah satu tokoh yang dikaguminya.
Pada 2015, ketika menerima The Star of Soekarno dari Yayasan Pendidikan Soekarno di Jakarta, Mahathir menyebut Soekarno sebagai tokoh besar. Ia mengagumi kemampuan Bung Karno menyatukan masyarakat yang tersebar di ribuan pulau menjadi satu bangsa. Perjuangan kemerdekaan Indonesia, menurut Mahathir, ikut memberi pengaruh pada perjuangan menuju kemerdekaan Malaya.
Di Indonesia, Mahathir kemudian kerap disebut Little Sukarno. Soekarno Kecil.
Julukan itu terutama muncul dari gayanya yang keras ketika berbicara tentang hubungan negara-negara berkembang dengan Barat. Sebuah kajian mengenai hubungan Malaysia-Indonesia bahkan mencatat bagaimana Mahathir pernah ditanya apakah dirinya "little Sukarno". Jawabannya khas Mahathir: ia memilih menyebut dirinya "little Mahathir". Sumber Indonesia lainnya mencatat versi berbeda, bahwa Mahathir pernah merendah dengan mengatakan dirinya hanyalah seorang "little Soekarno".
Tentu Mahathir bukan Soekarno dalam ukuran kecil.
Keduanya lahir dari zaman, negara dan jalan politik yang berbeda. Pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia, mereka bahkan berada pada dua sisi yang berseberangan. Mahathir adalah politikus muda Malaysia ketika pemerintahan Soekarno menjalankan politik konfrontasi terhadap pembentukan Federasi Malaysia.
Tetapi sejarah kemudian mempertemukan mereka melalui jalan yang aneh.
Salah satu jalannya lewat Bali.
Soekarno mempunyai hubungan yang tidak mungkin dipisahkan dari pulau ini. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, berasal dari Singaraja. Garis darah Bali itu dicatat dalam arsip kepresidenan Indonesia.
Bali juga menjadi salah satu ruang pribadi Soekarno sebagai presiden. Pada 1955 ia memerintahkan pembangunan Istana Tampaksiring. Di sana ia menerima tamu negara, mengumpulkan karya seni, mencari inspirasi dan menulis pidato. Berbeda dengan istana peninggalan kolonial di Jawa, Tampaksiring lahir setelah Indonesia merdeka, atas prakarsa Soekarno sendiri.
Hampir setengah abad kemudian, seorang lelaki yang dijuluki Soekarno Kecil datang ke sana.
Tanggalnya 10 Agustus 2002.
Mahathir berdiri di Istana Tampaksiring bersama Presiden Megawati Soekarnoputri untuk meresmikan pengiriman gas Indonesia ke Malaysia melalui kerja sama Pertamina dan Petronas. Arsip pidato Perdana Menteri Malaysia masih mencatat tempatnya dengan terang: Istana Tampak Siring, Bali, Indonesia.
Adegan itu menarik kalau dibaca kembali sekarang.
Seorang pemimpin Malaysia yang mengagumi Soekarno berdiri di istana yang dibangun Soekarno. Di sampingnya berdiri putri Soekarno. Dan semuanya terjadi di pulau asal ibu Soekarno.
Setahun kemudian, Bali mendapat tempat lain dalam perjalanan hidup Mahathir.
Oktober 2003, para pemimpin Asia Tenggara berkumpul di Bali untuk KTT ASEAN. Pertemuan itu menghasilkan Bali Concord II. Tetapi bagi Mahathir, pertemuan tersebut punya arti yang sangat pribadi. Itulah KTT ASEAN terakhirnya sebelum mundur setelah 22 tahun menjadi perdana menteri.
Megawati yang melepasnya.
Dalam pidatonya pada 7 Oktober 2003, Presiden Indonesia itu menyebut adanya kesedihan karena pertemuan tersebut merupakan KTT terakhir Mahathir. Para pemimpin ASEAN memberikan hadiah perpisahan kepadanya. Mahathir kemudian menjawab bahwa waktunya memang telah tiba untuk pergi setelah 22 tahun berada di pemerintahan.
Umurnya ketika itu 78 tahun.
Untuk kebanyakan orang, 78 sudah lebih dari cukup untuk menutup sebuah perjalanan panjang.
Mahathir rupanya belum selesai.
Lima belas tahun kemudian ia kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia. Usianya sudah 92 tahun. Dan salah satu tempat yang kembali didatanginya sebagai kepala pemerintahan adalah Bali.
Pada 11 Oktober 2018, Mahathir memimpin delegasi Malaysia ke ASEAN Leaders' Gathering di Bali. Kali ini ada nama lain dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Malaysia: Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali ikut mendampinginya.
Perempuan yang dikenalnya ketika masih mahasiswa kedokteran itu kembali bersamanya ke pulau tempat Mahathir pernah berpamitan dari panggung ASEAN.
Ada detail lain yang jauh lebih kecil daripada konferensi tingkat tinggi, tetapi terasa lebih manusiawi. Megawati pernah bercerita Mahathir menyukai salak gula pasir dari Bali. Bila sedang musim, katanya, Mahathir suka meminta buah itu. Pada 2023, ketika Megawati menemuinya di Malaysia, urusan salak bahkan masih muncul dalam percakapan mereka.
Begitulah sejarah kadang tersimpan. Tidak selalu dalam pidato dan perjanjian antarnegara. Kadang ia tinggal dalam sepiring rendang, beberapa buah salak, sebuah istana di Gianyar, atau dua orang tua yang datang kembali ke sebuah pulau setelah puluhan tahun.
Soekarno meninggal pada 1970 dalam usia 69 tahun.
Mahathir hidup 32 tahun lebih lama dari umur tokoh yang dikaguminya itu. Ia menyaksikan dunia tempat Soekarno hidup menghilang satu per satu: kolonialisme, Konfrontasi, Perang Dingin, sampai generasi pertama pemimpin Asia pascakemerdekaan.
Siti Hasmah melewati hampir seluruh perjalanan itu bersamanya.
Bulan Juli lalu, Mahathir berusia 101 tahun. Dua hari kemudian Siti Hasmah berusia 100 tahun. Pada Agustus mereka mencapai 70 tahun perkawinan. Beberapa pekan kemudian, Siti Hasmah pergi.
Kini Soekarno Kecil itu tinggal sendiri pada usia 101 tahun.
Entah berapa banyak orang masih mengingat perpisahannya di Bali pada 2003. Ketika itu ia mengatakan waktunya telah tiba untuk pergi.
Ternyata belum.
Lima belas tahun kemudian Mahathir kembali ke Bali sebagai perdana menteri. Di sampingnya masih ada Siti Hasmah.
Kali ini, setelah tujuh dasawarsa, perempuan itu benar-benar pergi lebih dulu. (*)
Menot Sukadana