Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Sukses Waras

Oleh Nyoman Sukadana • 02 Oktober 2026 • 18:37:00 WITA

Sukses Waras
Menot Sukadana (AI/Vector)

SEWAKTU kecil, guru di sekolah rajin bertanya. Apa cita-citamu?

Jawabannya lantang. Sederhana. Dokter. Pilot. Polisi. Guru.

Ada keahlian yang ingin diraih. Ada pengabdian di sana. Sukses bermakna sangat membumi. Berguna bagi orang lain.

Kini tanyakan pada anak zaman sekarang.

Jawabannya sudah bergeser. Ingin jadi YouTuber. Influencer. Crazy rich.

Yang dikejar bukan lagi proses. Bukan lagi karya. Tapi kecepatan memamerkan harta.

Mitos kesuksesan instan ini terus dikipas.

Kerja keras pasti sukses. Banting tulang pasti kaya raya.

Itu kata motivator. Di atas panggung megah. Di bawah lampu sorot. Diiringi tepuk tangan ribuan orang yang terhipnotis.

Tapi benarkah rumusnya semurah itu?

Kalau rumus itu mutlak, kuli panggul di pasar adalah miliardernya.

Mereka berangkat sebelum subuh. Pulang saat malam sudah larut. Keringat mereka jauh lebih deras dari CEO di gedung bertingkat.

Apakah mereka kaya? Tidak. Saldo tabungan mereka tetap tipis.

Ada variabel nasib yang sengaja disembunyikan.

Warren Buffett menamainya lotre rahim.

Lahir di keluarga mana, itu murni kebetulan. Lahir di keluarga kaya adalah hak istimewa yang tak terbantahkan. Gizinya terjamin dari bayi. Otaknya tumbuh sempurna. Relasi bisnisnya sudah siap sedia.

Lulus kuliah, langsung memimpin perusahaan. Bikin usaha lalu bangkrut? Tidak masalah. Orang tua siap menyuntik modal kedua dan ketiga.

Garis start mereka sudah jauh di depan. Lomba lari ini memang pincang sejak awal. Kok masih mau diukur dengan meteran yang sama?

Selain soal nasib, standar sukses ternyata juga bermutasi antargenerasi.

Bagi generasi Boomer, sukses adalah stabilitas. Kerja pensiunan. Punya rumah dan tanah luas. Mitos "kerja keras pasti bisa beli tanah" memang valid di era ekonomi mereka.

Lalu generasi berikutnya mengukur sukses dari jabatan korporat. Memakai dasi dan memegang posisi manajer.

Disusul generasi milenial yang memuja startup dan hustle culture. Banting tulang belasan jam walau akhirnya ambruk di ranjang rumah sakit.

Kini, generasi lebih muda menuntut cuan kilat. Sukses harus instan lewat keajaiban algoritma.

Kewarasan kita makin digerus oleh layar kaca.

Sinetron mencetak standar sukses yang seragam. Sukses itu harus punya rumah berpilar putih. Turun dari mobil mewah. Kerjanya di kantor hanya marah-marah pada bawahan.

Tidak ada proses berdarah-darah yang disorot. Semua serba instan.

Akibatnya sangat fatal. Orang dengan gaji cukup tiba-tiba merasa miskin. Keluarga harmonis tiba-tiba merasa gagal. Hanya karena ke kantor mengendarai motor matik.

Standar fiktif ini pelan-pelan membunuh rasa syukur.

Lalu datanglah badai media sosial.

Sukses yang sebelumnya diraih dalam sunyi, kini wajib dipamerkan. Wajib divalidasi.

Demi terlihat sukses, jalan pintas pun diambil. Mobil mewah ternyata hasil sewa. Gaya hidup sultan ternyata dibiayai pinjaman online.

Banyak yang akhirnya tercekik utang demi sebuah pujian palsu.

Lantas, perlukah kita berhenti bekerja keras?

Tentu tidak. Kerja keras itu ibarat tiket masuk stadion. Syarat wajib untuk ikut bertanding. Tapi ia bukan jaminan mutlak untuk membawa pulang piala.

Data kehidupan itu kompleks. Kalau hitungannya tidak pasti, kita tidak boleh sok tahu menghakimi garis nasib orang lain.

Mitos sukses itu menyesatkan.

Kita harus berani membuat definisi sendiri.

Tidak harus kaya raya. Tidak butuh validasi dunia.

Bisa bernapas lega tanpa beban utang, itu sudah kemewahan.

Sukses itu kewarasan.

Sudah. Begitu saja. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.