Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Napas Buatan

Oleh Nyoman Sukadana • 04 Oktober 2026 • 18:06:00 WITA

Napas Buatan

KESAN pertamanya: mapan. Lihat saja jalanan dari Dalung sampai Canggu. Vila-vila penuh. Restoran tumpah ruah. Pulau ini tampak sedang merayakan kekayaannya.

Angka makroekonomi mengamini kemeriahan itu. Triwulan II 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,78 persen. Hebat. Sektor akomodasi dan makan minum menyumbang hampir 22 persen. Inflasi Juli pun terkendali di 2,42 persen.

Pertumbuhan tinggi. Harga aman. Sempurna.

Tapi sebagian besar kursi restoran di Canggu itu diisi dompet wisatawan. Pertanyaan yang lebih penting bukan siapa yang makan di sana, melainkan bagaimana keadaan dapur orang-orang yang melayaninya.

Mari mampir sebentar ke dapur kelas menengah kita.

Mereka bukan orang miskin. Masih bekerja, masih gajian, masih sanggup mencicil motor dan sesekali makan di luar. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Justru di situ menariknya: bantalan keuangan mereka pelan-pelan menipis tanpa banyak yang memperhatikan.

Secara nasional, tandanya sudah terbaca. Mandiri Saving Index merosot 5,7 persen. Ruang finansial rumah tangga menyempit. Belakangan muncul istilahnya. Mantab. Makan tabungan.

Bali sulit dikecualikan dari tren itu. Di pulau ini, rumah tangga bahkan menanggung pos yang tak dikenal kalkulator ekonomi nasional: yadnya, urunan banjar, piodalan, upacara keluarga. Pos ini tak bisa ditunda dan tak bisa ditawar. Jadwalnya ditentukan kalender, bukan isi dompet.

Dulu, rumusnya gampang. Gaji cair, disisihkan untuk adat, ditabung, sisanya untuk belanja harian. Ketika ekonomi seret, tabungan dibobol. Sekarang, yang tersisa untuk dibobol makin tipis.

Ini bukan soal kecil. Konsumsi rumah tangga adalah penopang terbesar ekonomi Bali, menyumbang 47,34 persen PDRB. Kalau penopang utama itu mulai makan tabungan, kemeriahan di jalanan perlu dibaca ulang.

Kenapa tabungan tergerus padahal harga terkendali? Inflasi adalah rata-rata keranjang belanja. Ia tak selalu menangkap sewa kamar yang ikut terkerek harga vila, atau kenaikan gaji yang tak secepat kenaikan ongkos hidup.

Lalu, bagaimana belanja tetap jalan? Kelas menengah masuk ke etape berikutnya. Matang. Makan utang.

Saat indeks tabungan turun, indeks pinjaman dalam survei yang sama justru melompat 24,6 persen.

Pola pinjaman online (pinjol) menunjukkan arah yang sama. Pada 2024, 68 persen dana pinjol nasional mengalir ke konsumsi. Setahun kemudian, 78 persen. April 2026, tembus 86 persen. Porsi untuk modal usaha tinggal 14 persen.

Dalam tiga tahun, pinjol makin jauh dari warung dan makin dekat ke dapur.

Konsumsi memang tak selalu berarti beras. Sebagian untuk gawai, sebagian untuk liburan. Tapi justru di situ soalnya. Pinjaman tak lagi melahirkan pendapatan baru. Ia hanya memajukan belanja.

Layar HP memang ilusionis ulung. Promo kilat. Angka besar dipecah jadi cicilan receh. Orang dibuat merasa masih punya uang. Padahal yang sedang dibelanjakan adalah gaji yang belum diterima.

Jangan buru-buru teriak soal kredit macet. Tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP90) pada Juni justru membaik, 4,26 persen, masih di bawah ambang batas pengawasan OJK. Secara industri, aman.

Yang berubah adalah fungsinya. Pinjaman bertenor pendek kini dinormalisasi untuk menyambung hidup sehari-hari. Begitu gajian tiba, uang cuma numpang lewat. Sebagian sudah bukan milik pekerjanya lagi, melainkan milik tagihan bulan lalu.

Padahal, ekonomi kita sangat monokultur. Sebagian besar gaji kelas menengah mengalir dari satu sumber: pariwisata dan jasa.

Bayangkan jika mesin tunggal ini batuk. Entah karena resesi global atau guncangan lain. Saat pandemi menghantam, banyak keluarga masih punya tabungan untuk dibobol. Kini bantalan itu jauh lebih tipis. Jika gaji tersendat, cicilan tetap jatuh tempo. Urusan adat tetap menunggu di banjar. Ekonomi dengan tabungan setipis ini ibarat akrobat dengan jaring yang sudah robek. Sekali terpeleset, jatuhnya keras.

Roda ekonomi Bali hari ini memang masih berputar kencang. Kelas menengah masih terlihat nongkrong dan belanja.

Namun, jika daya tahan itu sudah bergeser dari pendapatan hari ini ke utang masa depan, kita harus berani jujur menatapnya. Sebagian dari kemeriahan itu dibayar dengan uang yang belum diperoleh. Hari ini mengambil jatah bulan depan. Napas buatan. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.