Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Surat Ketujuh

Oleh Nyoman Sukadana • 05 Oktober 2026 • 18:17:00 WITA

Surat Ketujuh
Menot Sukadana (AI/Vector)

SEORANG filsuf berumur 60 tahun berdiri di dermaga Athena. Ia ragu naik kapal. Tujuannya: istana penguasa muda di Syracuse.

Akhirnya ia naik juga.

Dua ribu empat ratus tahun kemudian, seorang filsuf lain masuk Istana Negara di Jakarta. Jumat siang, 2 Oktober 2026. Namanya Rocky Gerung.

Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Bersama 25 orang lainnya. Ketuanya Pratikno. Wakilnya Hatta Rajasa.

Wartawan langsung mengerubung. Pertanyaannya sudah bisa ditebak: Bung Rocky, apakah Anda masih kritis?

Jawabannya juga sudah bisa ditebak –karena memang khas Rocky: ''cuma pindah dari luar ke dalam''. Sikapnya tetap. Pandangannya tetap. Radical break.

Saya percaya Rocky jujur ketika mengatakan itu. Tapi kalimat ''cuma pindah'' itu yang membuat saya tidak bisa tidur nyenyak.

Cuma pindah?

Filsuf di dermaga Athena tadi juga ''cuma pindah''. Dari Athena ke Syracuse. Namanya Plato.

Dan ia menuliskan apa yang dialaminya. Dalam sebuah surat. Yang kelak dikenal sebagai Surat Ketujuh.

Syracuse adalah kota terkuat di Sicilia waktu itu. Kaya. Militernya besar. Tahun 366 sebelum Masehi, penguasa barunya masih muda: Dionysius II.

Paman sang penguasa, Dion, adalah murid sekaligus sahabat Plato. Dion punya ide: undang Plato ke Syracuse. Biar keponakannya belajar memerintah dengan akal sehat.

Idenya terdengar indah. Filsuf terbesar zamannya menjadi penasihat penguasa muda. Persis seperti cita-cita dalam bukunya sendiri, Republik: negara yang dipimpin dengan filsafat.

Plato ragu. Umurnya sudah lebih dari 60 tahun. Akademinya di Athena sedang jalan. Untuk apa berlayar jauh ke istana orang?

Tapi akhirnya ia berangkat juga.

Alasannya ia tulis sendiri di Surat Ketujuh. Dan alasan itulah yang membuat saya terkesiap. Plato berangkat karena malu. Malu pada dirinya sendiri. Ia takut suatu hari memandang dirinya hanya sebagai ''manusia kata-kata'' –yang tidak pernah mau turun tangan.

Coba renungkan kalimat itu.

Bukan karena gaji. Bukan karena jabatan. Ia berangkat karena takut dianggap cuma bisa bicara.

Alasan kedua: persahabatan. Dion sedang dalam posisi berbahaya di istana. Plato merasa akan mengkhianati sahabatnya kalau menolak.

Sekarang lihat Rocky.

Bertahun-tahun ia dituduh hanya bisa bicara. Pandai merangkai kata, tidak pernah memikul tanggung jawab. Ketika tawaran datang, Rocky bilang ia tidak punya alasan untuk menolak.

Saya bisa membayangkan suara kecil di kepalanya. Suara yang sama yang didengar Plato 2.400 tahun lalu: kalau sekarang menolak, kamu memang cuma manusia kata-kata.

Jembatan persahabatannya juga ada. Seorang politisi Gerindra mengingatkan publik bahwa Rocky sudah berjuang bersama Prabowo sejak pilpres dulu.

Itulah godaan Syracuse yang sebenarnya. Bukan godaan harta. Godaan untuk membuktikan bahwa kata-kata bisa menjadi perbuatan.

Godaan yang mulia. Justru karena mulia, ia berbahaya.

Apa yang ditemukan Plato setiba di Syracuse?

Bukan ruang kuliah. Bukan murid yang haus ilmu. Yang ia temukan adalah istana yang penuh intrik. Orang-orang di sekitar penguasa sibuk menghasut agar Dionysius membenci Dion.

Plato melawan sebisanya. Hasilnya kecil. Sekitar bulan keempat, Dion dituduh berkomplot merebut takhta. Ia dinaikkan ke perahu kecil dan diusir dari Syracuse.

Empat bulan. Sahabat yang mengundangnya pun tersingkir.

Di sinilah pelajaran pertama: di istana, pengaruh tidak ditentukan oleh siapa yang argumennya paling kuat. Pengaruh ditentukan oleh siapa yang paling dekat, paling sering bertemu, dan paling pandai membaca suasana hati penguasa.

Filsuf terbiasa menang di ruang debat. Di istana, debat bukan permainan utama.

Pelajaran kedua lebih halus. Dan lebih menakutkan.

Plato mencatat: makin lama mereka bergaul, Dionysius makin menyukainya. Tapi bukan menyukai ajarannya. Dionysius ingin dipuji Plato. Ingin dianggap sahabat yang lebih istimewa dari Dion. Dan ia –tulis Plato– luar biasa bersemangat soal itu.

Yang diinginkan penguasa dari filsuf ternyata bukan koreksi. Melainkan restu.

Saya tidak sedang menyamakan siapa pun dengan Dionysius. Syracuse waktu itu diperintah seorang tiran yang mewarisi takhta. Indonesia hari ini dipimpin presiden hasil pemilu. Itu beda yang sangat besar.

Tapi soal yang dihadapi Plato tidak bergantung pada siapa penguasanya. Soal itu melekat pada posisi penasihat itu sendiri.

Modal terbesar Rocky adalah reputasinya sebagai pengkritik. Justru karena ia pengkritik, kehadirannya di dalam bernilai mahal. Setiap kali ia diam, diamnya bisa dibaca sebagai setuju. Setiap kali ia menimbang di balik pintu, publik tidak pernah tahu apa yang ia timbang.

Rocky sendiri sudah memberi kata kuncinya: tugas dewan adalah ''kritis, bukan kritik''. Kedudukannya ''etis, bukan teknis''.

Saya suka rumusan itu. Persis itulah yang dulu dibawa Plato ke Syracuse: bukan cara mengurus pelabuhan atau pajak gandum, tapi arah dan akal sehat.

Dan persis itulah yang paling mudah hilang di istana.

Plato tidak sekali ke Syracuse. Ia tiga kali.

Yang terakhir paling pahit. Ia nyaris tidak bisa pulang. Kadang ia diperlakukan seperti tamu agung, kadang seperti tahanan. Ada masa ia khawatir dibunuh oleh orang-orang istana.

Cita-cita negara yang dipimpin filsafat gagal total.

Kisah ini begitu sering berulang dalam sejarah, sampai ada namanya. Mark Lilla, pemikir Amerika, menulis buku The Reckless Mind. Ia menutupnya dengan esai panjang berjudul ''The Lure of Syracuse'' –godaan Syracuse.

Lilla membedah para pemikir besar abad ke-20 yang terseret ke politik: Heidegger, Carl Schmitt, Foucault, dan lain-lain. Kesimpulannya mengejutkan saya. Menurut Lilla, gagasan raja-filsuf dalam Republik bukan cetak biru. Ia justru peringatan.

Konon, ketika Heidegger mundur dari jabatan rektor di zaman Nazi, seorang kolega menyapanya dengan sindiran: ''Sudah pulang dari Syracuse?''

Tapi saya tidak mau berlaku tidak adil.

Kerangka Lilla itu tentang intelektual yang membela tirani. Rocky masuk ke dewan resmi negara demokrasi, lewat keputusan presiden yang dipilih rakyat. Bukan masuk ke istana tiran.

Sejarah juga tidak hanya mencatat kegagalan. Aristoteles –murid Plato– menjadi guru Aleksander muda. Banyak juga intelektual yang masuk pemerintahan dan membawa perubahan nyata.

Para pengamat yang menuduh kooptasi pun belum punya bukti. Rocky baru dilantik tiga hari. Menghakimi sekarang sama saja dengan menilai rapor sebelum semester dimulai.

Jadi saya tidak sedang meramalkan Rocky akan gagal.

Saya hanya ingin mengatakan: jalan yang ia ambil adalah jalan yang sangat tua. Sudah dilalui banyak orang pintar. Dan peta jalannya penuh catatan kaki tentang orang-orang yang tersesat di sana.

Pertanyaannya: apa yang bisa membedakan Rocky dari mereka?

Jawaban saya ada pada Surat Ketujuh itu sendiri.

Plato gagal di Syracuse. Tapi ia tidak diam. Ia menulis. Ia menceritakan apa yang ia lihat, apa yang ia coba, dan di mana ia kalah. Dua ribu empat ratus tahun kemudian kita masih bisa membacanya.

Kegagalannya menjadi pelajaran. Karena ia jujur mencatatnya.

Di situlah masalah Wantimpres. Pertimbangan dewan itu bersifat rahasia. Tidak untuk konsumsi publik. Rocky boleh saja jauh lebih keras kepada Presiden daripada ketika ia di luar. Tapi kita tidak akan pernah tahu.

Kritik yang tidak bisa diperiksa publik, bagi publik, sama dengan tidak ada.

Maka saya punya dua usulan.

Pertama: buka arsip pertimbangan Wantimpres. Tidak sekarang. Tidak ketika kebijakan masih berjalan. Tapi sepuluh atau lima belas tahun setelah masa jabatan berakhir, semua pertimbangan tertulis dewan dibuka ke publik.

Negara lain punya aturan seperti itu untuk arsip kepresidenan. Kenapa kita tidak?

Dengan begitu, setiap anggota dewan tahu: kelak sejarah akan membaca apa yang ia tulis. Siapa yang berani bilang ''tidak''. Siapa yang hanya mengangguk.

Itu bukan beban. Justru perlindungan. Penasihat yang jujur akan dibela oleh arsipnya sendiri.

Kedua –dan ini untuk Rocky pribadi: tulislah Surat Ketujuh Anda.

Tidak harus sekarang. Tidak harus membuka rahasia negara. Tapi suatu hari, ceritakan seperti Plato bercerita. Apa yang Anda lihat di dalam. Apa yang Anda coba. Di mana Anda menang dan di mana Anda kalah.

Kalau Rocky berhasil, tulisan itu akan menjadi bukti bahwa akal sehat bisa hidup di istana. Kalau gagal, tulisan itu akan menjadi peta bagi intelektual berikutnya yang tergoda berlayar.

Dua-duanya berguna. Yang tidak berguna hanya satu: diam.

Rocky selama ini dikenal dengan satu kata: dungu. Ia memakainya untuk siapa saja yang malas berpikir.

Saya berharap, lima tahun lagi, kata itu tidak kembali kepada pemiliknya. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.