Polda Bali Gelar FGD Penanggulangan Terorisme dan Radikalisme
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Polda Bali menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang penanggulangan terorisme dan radikalisme yang berlangsung di Room Yudistira Hotel Grand Santhi di Jalan Patih Jelantik Denpasar, belum lama ini. Dalam diskusi tersebut tercetus kesepakatan membentuk satuan khusus seluruh pengamanan di Bali.
Tampil sebagai narasumber utama di antaranya adalah Direktur Dit Intelkam Polda Bali Kombes Pol Wahyu Sutikno, I Gusti Agung Ngurah Sudarsana, S.H., M.H, Kepala Kanwil Agama Provinsi Bali I Nyoman Lastra, Spd., M.Ag, M. Saifuddin Umar LC alias Abu Fida (tokoh agama), Kasubdit I Dit Reskrimum Polda Bali AKBP I Made Witaya, SH dan Dr. Putu Jaya Suartama, M.Si (Ketua Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme Provinsi Bali)
Dalam kegiatan yang dihadiri peserta dari berbagai kalangan itu, Direktur Intelkam Kombes Pol Wahyu Suyitno mengatakan, Bali yang menjadi destinasi pariwisata dunia, pernah menjadi sasaran aksi terorisme. Yaitu, Bom Bali I dan Bom Bali II yang mengakibatkan kehancuran luar biasa terhadap perekonomian Bali.
Aksi ini dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan ajaran agama untuk memaksakan tujuan mereka. "Masyarakat Bali adalah masyarakat yang welcome (terbuka, red) dengan tidak memandang bagaimana para pendatang tersebut. Kami berharap agar perwakilan yang hadir di sini dapat menyampaikan output FGD kepada rekan-rekannya untuk mencegah aksi terorisme," kata Kombes Wahyu.
Pihaknya mengakui Polda Bali belum sanggup meminamalisir potensi kerawanan aksi terorisme di seluruh wilayah Bali, terlebih para pelaku tinggal di daerah terpencel. "Mari bersama-sama menjaga situasi Kamtibmas di wilayah Bali. Para pelaku terorisme tinggal pada tempat-tempat yang terpencil sehingga sulit terlacak, dan hal tersebut memerlukan bantuan dari seluruh elemen masyarakat," terangnya.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali Nyoman Lastra, Spd., M.Ag menyampaikan data yang sangat mengejutkan. Menurutnya berdasarkan Hassanuddin Ali Founder and CEO Alavara Research Center bahwa sebanyak 50 persen kalangan guru dan pelajar di wilayah Indonesia telah memiliki opini intoleran. Sedangkan opini radikal sebanyak 4 persen memiliki opini radikal. Kemudian 37,77 persen guru memiliki sifat intoleran dan 46 persen memiliki sifat radikal.
"Agama tidak pernah mengajarkan untuk saling menyakiti, namun sekarang kenapa sekarang saling menyakiti. Agama memiliki esensi yang sangat tinggi dalam bangsa Indonesia. Dimana 100 persen orang Indonesia beragama, dan karena agama seseorang berani mengorbankan nyawanya. Tidak ada Agama yang mengajarkan untuk saling menyakiti maupun saling membunuh," tegasnya.
Sedangkan Ketua FKPT Provinsi Bali Dr. Putu Jaya Suartama, M.Si mengatakan, pihaknya telah merancang sebuah program satu komando untuk mensinergitaskan seluruh unsur pengamanan yang ada di wilayah Bali. Agar dapat satu komando perintah untuk menjaga situasi kamtibmas.
"Bali terlalu wellcome sehingga para pelaku pencurian dari warga negara asing khususnya Rusia dapat melakukan aksinya di Bali. Saya berharap tidak ada lagi Bom Bali III. Cukup Bom Bali I dan II agar tidak berkelanjutan," tegasnya. (SIL/PDN)