Podiumnews.com / Aktual / News

Dewa Indra: PSBB Bukan Satu-Satunya Instrumen Pencegahan Penyebaran Covid-19

Oleh Podiumnews • 29 April 2020 • 16:37:15 WITA

Dewa Indra: PSBB Bukan Satu-Satunya Instrumen Pencegahan Penyebaran Covid-19
Dewa Indra saat tampil dalam acara live dialog INews TV.

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, menghargai setiap pendapat masyarakat terkait upaya pencegahan Covid-19 di Bali. Salah satunya yang sedang ramai diperbincangkan soal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurut pria yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Bali ini bahwa PSBB bukanlah satu-satunnya instrumen untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Bali. “Itu salah satu instrument saja, jika kita bisa menjalankan yang lebih efektif, alangkah baiknya,” ungkapnya saat menjawab pertanyaan Alfon dari Panjer, Denpasar dalam live dialog di INews TV, Denpasar, Rabu (29/4).

Lebih jauh Dewa Indra mengatakan penerpan PSBB harus melalui kajian yang matang dan tidak bisa diputuskan dengan sembarangan. “Kewenangan penetapan PSBB juga berada di Pusat, setelah pemerintah daerah mengajukannya. Namun, kita harus lihat juga faktor-faktor lainnya seperti ketersediaan logistik dan tingkat penyebaran transmisi lokal,” jelasnya.

Sementara menurutnya di Bali angka positif terbesar berasal dari PMI yang baru datang dari luar negeri. Persoalan itu telah tertangani dengan baik.

“Jika kita bisa menekan angka transmisi lokal dengan cara sederhana, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, penerapan hidup sehat dan bersih. Maka kita bisa mencegah penularan virus ini tanpa menerapkan PSBB yang memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar,” jelasnya.

Melihat angka transmisi lokal pada tanggal 28 April kemarin yang melonjak cukup tajam, Dewa Indra mengatakan ini salah satu akibat dari kurang disiplinnya masyarakat, sehingga menularkan kepada warga lain.

“Dari 22 kasus penambahan, 13 di antaranya karena transmisi lokal. Ini yang kita kejar terus sekarang, terutama orang-orang yang pernah kontak dengan mereka. Untuk memutus angkar transmisi lokal tersebut, maka diperlukan komitmen bersama, baik pemerintah maupun masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa kemungkinan kasus transmisi lokal tersebut ditularkan oleh PMI yang tidak disiplin melakukan karantina mandiri di rumah. Menurutnya PMI tersebut telah tiba di Bali sebelum tanggal 22 Maret.

“Memang awalnya karena keterbatasan alat dan rapid test kit, PMI yang pulang sebelum tanggal 22 Maret dihimbau untuk karantina mandiri di rumah masing-masing. Akan tetapi, mengingat banyaknya saudara kita yang kurang disiplin melakukan karantina mandiri, maka Gubernur Bali sepakat dengan Bupati/Walikota untuk bekerja sama menangani PMI,” imbuh Dewa Indra.

Saat ini penanganan PMI yang baru tiba akan di-screening dengan rapid test. Bagi mereka yang memiliki hasil test positif di bandara langsung ditangani oleh Pemprov Bali untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sedangkan bagi yang negatif ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota untukt dikarantina.

Menurutnya selama masa karantina oleh kabupaten/kota juga dilanjutkan dengan tes lainnya seperti SWAB, sehingga jika terdapat kasus positif di antara mereka akan ditangani oleh Pemprov Bali.

“Sehingga kami mengembalikan saudara-saudara PMI ke keluarga dan masyarakat dalam kondisi yang benar-benar bersih dari virus ini,” imbuhnya seraya menjelaskan bahwa PMI yang tiba sebelum tanggal 22 Maret pun sudah menjalani rapid test.

Sampai saat ini, Dewa Indra juga mengapresiasi masyarakat Bali setinggi-tingginya karena sudah bisa menerima tempat karantina dan sudah mulai disiplin menggunakan masker serta menghindari keramaian.

“Awalnya terdapat penolakan tempat karantina karena masyarakat waspada akan penularan virus ini. Kami positive thinking saja, ini bentuk kepedulian masyarakat akan kesehatan. Setelah diedukasi dan dijelaskan bahwa virus tidak menyebar melalui udara serta tempat karantina dijaga ketat, maka penolakan-penolakan itu pun tidak ada lagi,” ujarnya. Ia berharap ke depan tidak ada lagi penolakan seperti ini.

Mengenai saran pria mengaku Rajeng dari Kuta untuk menggunakan pesawat Hercules saat menyemprotkan disinfektan, Sekda Dewa Indra mengatakan langkah tersebut tidak perlu dilakukan. Karena bisa membahayakan masyarakat jika disinfektan disebar melalui udara, juga karena penyemprotan berlebihan tidak baik untuk lingkungan serta tidak disarankan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Untuk langkah pencegahan, sekali lagi Dewa Indra menjelaskan pentingnya langkah-langkah sederhana seperti penggunaan masker, mencucui tangan dengan rutin menggunakan sabun di air mengalir, penerapan hidup bersih dan sehat, serta olah raga untuk meningkatkan imun tubuh. (ISU/PDN)