Podiumnews.com / Aktual / News

Nostalgia Politik: Partai Berkarya Rindu Soeharto

Oleh Podiumnews • 22 Juli 2018 • 16:21:10 WITA

Nostalgia Politik: Partai Berkarya Rindu Soeharto
Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto (kedua kanan) didampingi Ketua Dewan Pertimbangan Tedjo Edhy Purdijatno (kanan) menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III Partai Berkarya di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/3). ANTARA FOTO

JAKARTA, PODIUMNEWS.com - Nostalgia terhadap era pemerintahan yang sudah berakhir selalu muncul. Seperti yang tergambar bahwa Partai Berkarya merindukan Soeharto.

Sebuah bangsa mengingat. Sebuah bangsa juga melupakan. Semua bangsa tak mungkin hadir tanpa mitos dan memori historis bersama, persaingan politik dalam sebuah bangsa adalah persaingan memori dan mitos mana yang perlu diingat dan, kalau bisa, diwujudkan kembali.

Soeharto meninggal pada 2008, sepuluh tahun setelah menyatakan berhenti dari jabatan presiden yang telah dipegangnya selama 32 tahun. Jasadnya dipendam di Astana Giri Bangun, Solo, Jawa Tengah.

Setahun setelah ia mangkat, sebuah perdebatan muncul: pantaskah presiden kedua Indonesia itu dianugerahi gelar pahlawan nasional? Ada yang mengingat Soeharto sebagai tiran. Ada pula yang menganggap Soeharto pantas diberi gelar pahlawan karena jasanya sebagai "bapak pembangunan". Hingga kini, perdebatan tersebut belum berujung simpulan.

Toh, meski Soeharto tak lagi hadir secara fisik di dunia ini, sejumlah gagasannya tetap hidup. Selama dua puluh tahun sejak Soeharto lengser, setidaknya dua partai mengaku sebagai pewarisnya.

Partai Berkarya didirikan pada 2016, sewindu setelah Soeharto meninggal. Hutomo Mandala Putra, anak kelima Soeharto yang akrab disapa Tommy, menjadi salah satu pendiri partai berlambang beringin tersebut dan kini didapuk sebagai ketua umumnya.

Salah satu petinggi Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang, mengatakan, modal utama kampanye partainya jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 adalah slogan " Piye, enak zamanku to?"

Slogan itu jamak ditulis di samping gambar Soeharto yang tersenyum sembari melambaikan tangan kanannya. Sejak lima tahun terakhir, ia muncul dalam bentuk meme di media sosial, pakaian, atau lukisan di belakang truk. Konteks empat kata itu dapat dipahami sebagai ajakan kepada pembacanya untuk bernostalgia, membayangkan "keenakan" apa yang mereka dapat selama Soeharto memimpin.

Ketika Step Vaesen, wartawan Al Jazeera, menyatakan masyarakat Indonesia masih trauma dengan pemerintahan Soeharto dan tidak akan memilih Partai Berkarya, Tommy membantahnya.

Kata Tommy: "Saya kira enggak. Coba kemarin pada cinta pada Orde Baru. Cinta dengan Pak Harto. Malah mereka rindu dengan keadaan itu."

Tommy mengatakan Partai Berkarya ingin memperbaiki keadaan Indonesia setelah melalui 20 tahun reformasi. Menurutnya, pemerintah Indonesia sekarang punya utang yang begitu besar, sementara peningkatan kesejahteraan rakyat jalan di tempat. Masyarakat, menurut Tommy, kini merindukan keadaan semasa Presiden Soeharto.

"Keadaan nasionalnya. Ekonomi yang bertumbuh begitu baik. Cari pekerjaan mudah. Terus, harga-harga barang lebih terjangkau," sebut Tommy.

Nostalgia "rindu Soeharto" semacam itu bukan fenomena baru. Ia sempat menjadi perbincangan jelang Pemilu 2004, enam tahun setelah Soeharto lengser.

Saat berkampanye di Yogyakarta, Ketua Umum PKPB Jenderal R. Hartono menyatakan diri sebagai antek Soeharto. PKPB pun mencalonkan Siti Hardiyanti, anak pertama Soeharto yang akrab disapa Tutut, sebagai calon presiden.

"Buktinya, di zaman Pak Harto kita berhasil mengekspor beras. Namun sekarang kita justru mengimpor beras dari negara yang pernah kita bantu beras, yakni Vietnam. Kalau kemudian ditanya siapa yang salah, yang salah adalah kita semua karena membiarkan Pak Harto diturunkan," ujar Hartono, seperti dilansir Tempo.

Meski didirikan pada waktu yang berbeda, baik PKPB dan Berkarya sama-sama secara terang-terangan mengatakan era sekarang ini tak lebih baik ketimbang Orde Baru. Kembali menerapkan gagasan Soeharto adalah kunci pembuka penyelesaian masalah yang kini melanda Indonesia.

Sindrom Amat Rindu Soeharto

Dirk Tomsa menelaah dalam Party Politics and Democrazation in Indonesia (2008) bahwa fenomena yang kemudian dikenal dengan nama "Sindrom Amat Rindu Soeharto" pada 2004 tersebut muncul akibat ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah pasca-Orde Baru.

Tomsa menuliskan sebagian besar orang Indonesia jelang Pemilu 2004 memandang Megawati dan Gus Dur tidak berhasil menumbuhkan perekonomian. Di era keduanya menjabat presiden, korupsi semakin terdesentralisasi ke daerah-daerah. Sementara kekerasan etno-religius dan separatis pun terjadi, seperti tragedi Sampang, Gerakan Aceh Merdeka, atau Bom Bali I dan II.

Nyatanya, hasil Pemilu 2004 membuktikan SARS tidak seseram namanya. PKPB hanya memperoleh 2,11 persen suara nasional atau 2 kursi di DPR. Partai yang didirikan pada 9 September 2002 itu tampak tidak mampu menunggangi sentimen rindu Soeharto dengan baik atau memang hanya segelintir orang Indonesia saja yang merindukan Soeharto.

Justru Golkar yang lihai memanfaatkan sentimen tersebut. Pada Pemilu 2004, Golkar memperoleh 21,58 persen suara nasional. Persentase tersebut membuat Golkar menempati urutan kedua klasemen perolehan suara Pemilu 2004 setelah PDI Perjuangan.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) meluncurkan makalah "Kecenderungan Pemilih dan Peluang Golkar dalam Pemilu 2004" pada 2003. LSI menyebutkan bahwa bagi masyarakat, Orde Baru menyimbolkan kemakmuran ekonomi dan stabilitas domestik.

Sementara Golkar, sebagai kendaraan politik Soeharto yang pernah ada dimana-mana dan memenangi pemilu-pemilu sebelumnya, dipandang sebagai satu-satunya partai yang kompeten membawa kejayaan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas selama Orde Baru.

"Kenyataan bahwa orang-orang mampu membedakan antara penyalahgunaan kekuasaan secara masif oleh keluarga (dan kroni) Soeharto dan peran positif Golkar adalah bukti bahwa partai tersebut cukup berhasil dalam memisahkan diri dari citranya sebagai alat Soeharto," sebut Tomsa (hlm. 111).

DIKUTIP DARI: https://tirto.id/nostalgia-politik-berkarya-rindu-soeharto-pdi-p-kangen-sukarno

 

Podiumnews
Journalist

Podiumnews