Dewan Bali Tegaskan Tolak Bibit Babi Luar Masuk Bali
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Belakangan ada isu adanya bibit babi dan daging 'sampah' yang masuk ke Bali. Bibit babi tersebut disinyalir rentan terjangkit virus ASF yang sangat berbahaya. Hal ini dianggap bisa merugikan para peternak babi di Bali.
Terkait hal itu, Persatuan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia (PPHMI) Bali melakukan audiensi dengan DPRD Bali yang diterima langsung oleh Komisi II, Selasa (9/2). Mengetahui hal itu, Komisi II DPRD Bali dengan tegas menyampaikan penolakannya terhadap masuknya bibit babi dari luar Bali.
Ketua Komisi II DPRD Bali IGK Kresna Budi didampingi Anggota Komisi II Tjokorda Gede Agung, I Gusti Agung Bagus Suryadana, dan Grace Anastasi Surya Widjaya menyatakan, ketimbang mendatangkan bibit babi yang belum terjamin kesehatannya, lebih baik di Bali menerapkan penyebaran silang antar kecamatan di kabupaten/kota di Bali.
Namun, tetap dengan mengedepankan pengawasan yang sangat ketat. Agar kedepannya, kasus virus ASF yang menimpa babi milik peternak seperti beberapa waktu yang lalu tidak kembali terulang.
Tak hanya soal bibit, Komisi II DPRD Bali juga sepakat menolak masuknya daging ‘sampah’ ke Bali. Pasalnya, daging yang dikirim ke Bali tersebut belum ada jaminan apakah terbebas dari virus.
Hal itu belum diketahui dan jangan sampai ada kejadian terulang beberapa waktu lalu lantaran si pengirim daging mengalami kecelakaan dan diketahui ada daging yang dikirim tidak beres alias tidak sehat.
Pihaknya mengakui jika harga daging babi dipasaran cukup mahal. Hal itu sangat wajar dengan hukum dagang, yang terpenting dijamin sehat dan terbebas dari virus. Saat kebutuhan daging babi tinggi, persediaan sedikit dan itu wajar menjadikan harga daging mahal.
"Permintaan tinggi, persediaan terbatas harga menjadi mahal itu wajar, biarkanlah peternak babi kita sekali-sekali menikmati untung," kata dia yang diterima (10/2).
Komisi II DPRD Bali berharap ada pengawasan ketat oleh petugas disetiap pintu-pintu masuk Bali. Misalnya saja di Pelabuhan Gilimanuk, petugas baik dari kepolisian ataupun Bea Cukai bertindak tegas. Jangan sampai ada penyelundupan daging ataupun bibit yang tidak sehat dan terjangkit virus ASF.
"Mari kita selamatkan peternak kita di Bali, kita berikan pertenak di Bali menikmati untung dan pemerintah harus berperan melakukan pengawasan dan terpenting menyediakan pakan ternak yang murah," tandasnya.
PPHMI Bali juga menyampaikan keluhan terkait kendala pakan babi. Salah satunya pakan ternak yang terbuat dari jagung. Andaikan pemerintah mampu membantu penyediaan lahan untuk penanaman jagung dan mampu diolah di Bali menjadi pakan ternak, dipastikan harga daging akan bisa lebih murah. Dan bibit babi pun akan tersedia dalam jumlah banyak, sehingga akan semakin terjangkau termasuk dengan harga jual dagingnya.
"Kalau saat ini harga daging babi hidup per kg bisa mencapai Rp. 40-60 ribu, sehingga harga jual daging babi per kg bisa mencapai Rp 100 ribu lebih per kg," pungkasnya sembari menambahkan nanti kita berharap harga daging babi hidup maksimal pada angka Rp. 35 ribu.
Sementara itu, perwakilan PPHMI yakni Sekretaris PPHMI Putu Ria Wijayanti menyatakan, kekhawatiran terus menghantui para peternak babi di Bali. Dimana, masuknya daging babi dari luar Bali tanpa adanya uji lab. Hal ini bisa menjadi masalah jika nantinya ada yang terjangkit virus ASF. Lagi-lagi peternak yang menjadi korbannya.
PPHMI Bali berharap, apabila pemerintah ingin memberikan bibit-bibit gratis, lebih baik berupa bibit ternak melalui Dinas Peternakan. Termasuk dengan harga pakan yang murah dan terjangkau.
"Kami harap pemerintah bisa memberikan harga pakan yang lebih murah," tutup dia. (RYN/RIS/PDN)